Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 5,75 persen dan menaikkan potongan biaya swap lindung nilai dari 10 persen menjadi 25 persen untuk menarik minat investor asing lewat jalur non-suku bunga.
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pekan lalu memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75 persen. Selain bunga acuan, bank sentral menetapkan bunga untuk fasilitas simpanan sebesar 4,75 persen serta bunga untuk fasilitas pinjaman pada 6,50 persen. Keputusan itu ditempuh ketika selisih imbal hasil aset Indonesia dan Amerika Serikat menyempit sehingga menekan nilai tukar rupiah.
Sebagai ganti kenaikan suku bunga, Bank Indonesia memperkuat instrumen non-suku bunga untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Salah satu langkahnya adalah meningkatkan insentif pengurangan biaya lindung nilai atau swap menjadi 25 persen, melanjutkan kebijakan Juni 2026 yang sebelumnya memberi potongan tingkat swap sebesar 10 persen.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai keputusan mempertahankan suku bunga acuan sudah tepat bagi kondisi perekonomian nasional saat ini. Menurutnya, tidak semua tekanan rupiah harus dibayar dengan bunga yang lebih mahal bagi seluruh perekonomian. Ia justru menyoroti perluasan instrumen stabilisasi di luar suku bunga sebagai langkah menarik.
Fakhrul menambahkan bahwa Bank Indonesia mulai memisahkan harga uang dari harga risiko valuta asing. Suku bunga acuan digunakan untuk menjaga kredibilitas inflasi dan stabilitas makro, sedangkan instrumen pasar uang dan insentif lindung nilai dipakai untuk menangani tekanan nilai tukar. Pemisahan itu dinilai memberi ruang kebijakan yang lebih luas.
Namun, kenaikan penggunaan instrumen lindung nilai belum sepenuhnya menunjukkan masuknya dana asing berjangka panjang. Dominasi tenor pendek masih membayangi stabilitas rupiah karena dana yang ditempatkan dalam jangka singkat lebih cepat berpindah bila terjadi gejolak pasar global. Karena itu, struktur tenor menjadi perhatian bank sentral ke depan.
Bank Indonesia sebelumnya menyatakan pelemahan rupiah sejak awal September murni akibat faktor eksternal, mulai dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat ke 5,2 persen hingga penguatan indeks dolar. Bank sentral menilai inflasi inti tetap terkendali di 2,92 persen pada Agustus 2026 dan pertumbuhan ekonomi solid di kisaran 5,29 persen pada kuartal kedua.
Ekonom menilai Bank Indonesia perlu memperkuat intervensi pasar sekaligus menjaga pasokan valuta asing untuk meredam tekanan terhadap rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Intervensi biasanya dilakukan di pasar valuta asing dan pasar surat berharga negara agar pelemahan tidak berlangsung terlalu cepat.
Bagi dunia usaha, kombinasi suku bunga yang ditahan dan biaya lindung nilai yang lebih murah memberi kepastian dalam perencanaan keuangan. Perusahaan yang memiliki kewajiban valuta asing dapat mengunci kurs dengan biaya lebih rendah. Sementara itu, pemerintah mencermati dampak nilai tukar terhadap harga barang impor dan inflasi pada bulan-bulan mendatang.
Insentif lindung nilai bekerja dengan menurunkan biaya swap yang harus dibayar investor asing ketika melindungi posisi rupiah mereka. Biaya itu menjadi komponen penting dalam perhitungan imbal hasil bersih. Bila biaya turun, selisih imbal hasil dengan aset negara lain menjadi lebih kompetitif meski suku bunga acuan tidak berubah.
Risiko dari strategi ini adalah ketergantungan pada dana jangka pendek. Arus masuk yang cepat bisa berbalik cepat pula bila sentimen global berubah. Karena itu, bank sentral perlu memastikan kedalaman pasar keuangan domestik agar penempatan dana berjangka lebih panjang, misalnya pada surat berharga negara dengan tenor menengah dan panjang.
Stabilitas rupiah juga berkaitan dengan keputusan investasi perusahaan dalam negeri. Ketika nilai tukar bergejolak, perusahaan cenderung menunda pembelian barang modal impor. Sebaliknya, kepastian kurs mendorong perencanaan investasi lebih awal. Karena itu, kebijakan moneter yang menjaga stabilitas tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga pada kegiatan usaha riil sehari-hari.
Bank sentral menyatakan akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik. Koordinasi dengan pemerintah dijaga untuk memastikan langkah stabilisasi berjalan sejalan dengan kebijakan fiskal. Kombinasi itu dinilai penting agar tekanan eksternal tidak mengganggu pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang sedang dijaga pada kisaran lima persen.
Dari sisi kebijakan fiskal, pemerintah juga menjaga belanja agar tidak menambah tekanan terhadap nilai tukar melalui impor yang berlebihan. Koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal dinilai menjadi kunci menjaga kepercayaan pasar. Selama kedua kebijakan bergerak searah, tekanan eksternal tidak mudah mengguncang stabilitas ekonomi domestik dan kegiatan usaha masyarakat pun dapat berjalan lebih tenang.
Sumber: Kontan, Koridor, Investor Daily, dan keterangan Bank Indonesia, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar