Ilmuwan Sebut Cinta Mengikuti Aturan Matematika Tersembunyi

"To My Sweetheart. Heart-tee Valentine Greetings.".jpg

EraAIdailyNews, 22 September 2026 — Bisakah matematika membantu menjelaskan mengapa sebagian hubungan bertahan menghadapi tekanan hidup yang tak terhindarkan, sementara hubungan lain perlahan berantakan? Para peneliti telah menghabiskan puluhan tahun mengembangkan model matematika yang memperlakukan perasaan romantis sebagai sistem yang berubah, mengungkap pola ketertarikan, reaksi emosional, konflik, dan pemulihan.

Profesor Laurent Pujo-Menjouet dari University of Lyon I bersama peneliti lain di berbagai negara mengembangkan model matematika yang memperlakukan hubungan romantis sebagai sistem dinamis. Mereka menelusuri bagaimana perasaan berkembang, bereaksi terhadap tekanan dari luar, lalu pulih atau menurun seiring waktu. Dengan cara itu, cinta tidak dilihat sebagai kondisi tetap, melainkan sebagai hubungan yang terus bergerak dan dipengaruhi berbagai gaya.

Dalam bukunya yang berjudul Love! Valour! Equations!, yang menggabungkan matematika, psikologi, sastra, sinema, dan kehidupan sehari-hari, Pujo-Menjouet menulis bahwa tidak ada pesona misterius atau ramuan ajaib. Jika ada, pastilah hal itu sudah diketahui. Namun, bukan berarti semua harapan hilang. Justru di situlah dinamika hubungan menjadi menarik untuk dikaji.

Jalan matematika untuk memahami hubungan dimulai dari tempat yang tak terduga, yaitu kelinci. Sebagian gagasan yang kini diterapkan pada pasangan awalnya dikembangkan untuk mempelajari perubahan populasi hewan. Model Malthus dan persamaan predator-mangsa pernah dipakai meneliti penyebaran kelinci Australia serta perubahan populasi lynx dan kelinci salju Kanada.

Dari kajian populasi itulah muncul analogi tentang ambang batas. Efek Allee menggambarkan keadaan ketika populasi turun di bawah tingkat kritis; di bawah ambang itu, kelangsungan hidup menjadi jauh lebih sulit. Sebaliknya, populasi di atas ambang memiliki peluang lebih baik untuk tumbuh dan tetap stabil.

Peneliti menemukan bahwa konsep serupa dapat membantu orang memikirkan hubungan romantis. Pujo-Menjouet menjelaskan bahwa perasaan dalam pasangan dapat dimodelkan sebagaimana pertumbuhan populasi atau kondisi spesies terancam punah. Tujuannya bukan memastikan siapa yang akan dicintai seseorang, melainkan memahami mengapa sebagian pasangan stabil meski menghadapi guncangan hidup, sedangkan yang lain perlahan menjauh.

Kerangka kerja ini bertumpu pada sejarah panjang matematika. Dasarnya mencakup model populasi Thomas Malthus dari abad ke-18, persamaan predator-mangsa Lotka-Volterra yang dikembangkan pada 1920-an, serta langkah lanjutan dari psikolog John Gottman, ekonom José Manuel Rey, fisikawan Sergio Rinaldi, dan matematikawan Steven Strogatz. Strogatz termasuk orang pertama yang menerapkan teori sistem dinamis secara langsung pada hubungan romantis.

Gottman, yang dikenal luas sebagai “Dokter Cinta”, membantu menunjukkan bahwa perilaku dalam hubungan dapat dianalisis secara matematis. Ia mengodekan interaksi antar pasangan lalu menerjemahkan pertukaran tersebut menjadi grafik. Dari sana, model matematika dapat membantu memperkirakan hasil suatu hubungan, meski tetap bukan ramalan mutlak.

Pendekatan lebih baru menambahkan lapisan kompleksitas. Salah satunya adalah reaksi tertunda yang diperkenalkan peneliti Polandia Bielezyk, Forys, dan Marek Bodnar. Konsep ini memperhitungkan fakta bahwa orang tidak selalu segera merespons saat berselisih. Waktu untuk bereaksi atau merenung dapat meredakan konflik, tetapi juga dapat memperburuk keadaan.

Menurut Pujo-Menjouet, setiap hubungan mungkin memiliki ambang kritis yang merepresentasikan tingkat kekuatan minimum agar ikatan tetap stabil. Jika perasaan jatuh di bawah ambang itu dan bertahan di sana, matematika dalam model memperkirakan penurunan menuju perpisahan. Pemahaman ini dapat membantu pasangan mengenali zona bahaya dan mengambil tindakan korektif.

Timnya juga membuat model untuk memperhitungkan gangguan sehari-hari, termasuk stres, pertengkaran, dan tekanan dari luar hubungan. Persoalan utamanya bukan apakah pasangan pernah bertengkar, melainkan apakah mereka memiliki ketahanan cukup untuk kembali ke keadaan seimbang. Pujo-Menjouet menyamakan ketahanan itu dengan kisah Tiga Babi Kecil: hidup selalu mengirim “serigala” berupa stres, penyakit, pekerjaan, anak-anak, atau kesulitan keuangan.

Model tersebut menyoroti tiga faktor utama yang memengaruhi kestabilan hubungan. Pertama, ketertarikan timbal balik antarpartner. Kedua, melemahnya perasaan secara bertahap yang memang dapat terjadi seiring waktu. Ketiga, cara setiap orang merespons emosi pasangannya. Interaksi ketiga kekuatan ini menentukan seberapa tangguh hubungan ketika menghadapi stres atau konflik.

Para peneliti juga mempertimbangkan pengembangan model dengan kecerdasan buatan. Gabungan pemodelan matematika tradisional dan AI berpotensi menjadi sistem peringatan dini bagi pasangan. Sistem semacam itu dapat mendeteksi ketika hubungan bergerak menuju keadaan tidak stabil, lalu memberi waktu untuk mengubah arah. Pujo-Menjouet mengibaratkannya sebagai GPS hubungan yang menunjukkan posisi, arah tujuan, dan kemungkinan rute menuju kondisi yang diinginkan.

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa model ini memiliki keterbatasan penting. Sebagian besar dikembangkan terutama dari pola hubungan di masyarakat Barat. Keberhasilan dan kegagalan hubungan dapat sangat berbeda antarkultur, agama, kondisi sosial-ekonomi, dan generasi. Perilaku manusia juga tidak selalu mengikuti aturan yang mudah ditebak; seseorang dapat bertindak tidak rasional, mengubah kebiasaan, mengikuti terapi, memperkuat komitmen, atau berkembang dengan cara yang sulit diantisipasi model.

Karena itu, persamaan dirancang untuk mengenali kecenderungan, bukan memastikan masa depan yang tak terelakkan. Pasangan masih dapat mengambil tindakan yang menyimpang dari pola yang diperlihatkan model. Sebagaimana ditegaskan Pujo-Menjouet, matematika dapat menerangi pola dan memberi arahan, tetapi keberhasilan hubungan tetap bergantung pada dua orang yang memilih setiap hari untuk memelihara koneksi mereka. Persamaan hanya dapat menunjukkan jalan; jalan itu tetap harus ditempuh bersama.

Sumber: ScienceDaily, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar