Penemuan kapak tangan Paleolitik dari batu kuarsa di dekat Kongarakalan, distrik Mulugu, India, menambah bukti aktivitas manusia purba di kawasan Telangana dan memperkaya pemahaman tentang alat batu prasejarah.
Para peneliti menemukan kapak tangan Paleolitik yang terbuat dari batu kuarsa di kawasan dekat Kongarakalan, distrik Mulugu, negara bagian Telangana, India. Temuan itu dilaporkan sebagai salah satu penemuan alat batu penting yang menunjukkan keberadaan manusia purba di wilayah tersebut.
Kapak tangan atau handaxe adalah alat batu yang dibentuk dengan memukul kedua sisi batu hingga membentuk ujung runcing dan tepi tajam. Alat jenis ini digunakan manusia purba untuk berbagai keperluan, termasuk memotong, menguliti hewan, dan menggali umbi-umbian, menjadikannya salah satu perangkat paling serbaguna pada masa prasejarah.
Bahan baku kuarsa yang dipakai untuk kapak ini menarik perhatian peneliti karena tidak semua jenis batu cocok untuk dijadikan alat. Kuarsa memiliki kekerasan tinggi dan dapat dipecah secara terkontrol sehingga menghasilkan tepi potong yang efektif, meskipun sifatnya yang pecah secara konkoidal membuat proses pembuatannya memerlukan keterampilan khusus.
Kapak tangan ditemukan pertama kali oleh arkeolog abad ke-19 dan langsung menjadi salah satu artefak paling ikonik dari Zaman Batu. Alat ini diproduksi secara luas pada periode Paleolitik Bawah dan Tengah, yang berlangsung sekitar 3,3 juta hingga 300 ribu tahun lalu, di berbagai kawasan dari Afrika hingga Asia Selatan.
Penemuan di Telangana menambah daftar situs arkeologi di India selatan yang menyimpan jejak aktivitas manusia purba. Daerah Mulugu dan sekitarnya memiliki lanskap gua alam, sungai, dan formasi batuan yang secara historis mendukung hunian manusia pada masa prasejarah.
Selain kapak tangan, peneliti juga melaporkan temuan jenis alat batu lain dari lokasi yang sama. Kehadiran berbagai tipe alat dalam satu situs menunjukkan kawasan itu bukan hanya tempat pembuatan alat, tetapi juga kemungkinan menjadi lokasi tinggal sementara bagi kelompok pemburu-pengumpul purba.
Pada periode Paleolitik, manusia purba di Asia Selatan hidup sebagai pemburu-pengumpul yang berpindah-pindah mengikuti ketersediaan sumber makanan. Alat batu menjadi teknologi utama yang memungkinkan mereka memproses hasil buruan, menyiapkan makanan, dan membangun tempat berlindung sederhana.
Temuan ini diperkirakan berusia puluhan ribu tahun, meskipun penentuan umur pasti memerlukan analisis laboratorium lebih lanjut menggunakan metode penanggalan radiometrik atau stratigrafi. Peneliti berharap penggahan lanjutan di lokasi tersebut akan memberikan data kronologis yang lebih tepat.
Para arkeolog juga menyoroti pentingnya perlindungan situs-situs prasejarah dari aktivitas pembangunan dan pengerukan tanah. Banyak situs Paleolitik di India yang terancam oleh perluasan lahan pertanian, pembangunan infrastruktur, dan penambangan pasir di tepi sungai.
Kapak tangan Paleolitik bukan sekadar artefak museum. Bentuk dan teknik pembuatannya memberi petunjuk tentang kemampuan kognitif manusia purba, termasuk perencanaan, koordinasi tangan-mata, dan kemampuan mentransfer keterampilan antargenerasi melalui pembelajaran langsung.
Penemuan di Kongarakalan menjadi pengingat bahwa kawasan pedesaan India masih menyimpan jejak kehidupan tertua umat manusia. Kolaborasi antara lembaga penelitian lokal dan komunitas arkeologi internasional diharapkan dapat mengungkap lebih banyak artefak dari periode yang sama.
Penemuan alat batu di India selatan turut memperkuat gambaran bahwa manusia purba di anak benua itu telah menyesuaikan teknologi mereka dengan bahan yang tersedia di sekitar tempat tinggal. Kuarsa banyak terdapat di kawasan berbatu Telangana, sehingga kelompok pemburu-pengumpul setempat memanfaatkan bahan lokal untuk membuat peralatan sehari-hari.
Para peneliti menekankan pentingnya pencatatan lokasi temuan secara teliti. Posisi artefak dalam lapisan tanah menjadi kunci untuk memperkirakan usia, sementara catatan konteks membantu peneliti memahami apakah alat tersebut dibuat di tempat atau dibawa dari lokasi lain oleh kelompok manusia purba yang berpindah.
Temuan semacam ini biasanya dilaporkan ke lembaga arkeologi negara bagian agar mendapat perlindungan hukum. Tanpa pelaporan, situs berpotensi rusak akibat kegiatan pembangunan atau pengambilan batu oleh warga setempat yang tidak mengetahui nilai ilmiah kawasan tersebut.
Peneliti juga membandingkan kapak dari Kongarakalan dengan temuan sejenis di situs Paleolitik lain di India selatan. Perbandingan bentuk dan teknik pemangkasan membantu arkeolog memahami apakah kelompok manusia purba di kawasan itu mengembangkan gaya pembuatan alat sendiri atau meniru teknologi dari wilayah lain.
Kajian atas alat batu juga membantu peneliti memperkirakan pola pergerakan kelompok pemburu-pengumpul di lanskap Telangana. Sebaran temuan pada beberapa titik menunjukkan mereka memanfaatkan tepi sungai dan lembah sebagai jalur perjalanan sekaligus sumber bahan baku batu untuk membuat peralatan sehari-hari.
Sumber: Deccan Chronicle, Mashable, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar