Rupiah Melemah ke Rp17.903, Ekonom Desak Bank Indonesia Tambah Intervensi

Rupiah Melemah ke Rp17.903, Ekonom Desak Bank Indonesia Tambah Intervensi

Rupiah melemah 0,84 persen ke sekitar Rp17.903 per dolar Amerika Serikat dan mendekati level psikologis Rp18.000 akibat dolar kuat, imbal hasil obligasi AS naik, arus modal keluar, dan harga minyak tinggi.

Rupiah melemah mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Jumat (25/9/2026), tertekan kombinasi dolar yang kuat, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang naik, arus modal keluar, dan harga minyak yang masih tinggi. Data Bloomberg menunjukkan rupiah diperdagangkan sekitar Rp17.903 per dolar, melemah 0,84 persen dibandingkan sepekan sebelumnya.

Pada periode yang sama, indeks dolar Amerika Serikat atau DXY menguat sekitar 0,9 persen. Kepala ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyatakan faktor eksternal menjadi sumber utama tekanan terhadap rupiah, terutama dolar yang lebih kuat dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang lebih tinggi. Tekanan itu, katanya, diperkuat arus modal keluar dan harga minyak yang masih tinggi.

Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah sejak awal September 2026 murni akibat faktor eksternal, mulai dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat ke 5,2 persen hingga penguatan indeks dolar Amerika Serikat. Wakil Gubernur Senior Bank Indonesia, Aida Budiman, menyatakan persoalan utama yang dihadapi pasar saat ini adalah kelangkaan likuiditas valuta asing.

Aida juga menolak anggapan bahwa lemahnya rupiah berkaitan dengan kondisi ekonomi domestik yang lesu. Menurutnya, inflasi inti Indonesia tetap terkendali di 2,92 persen per Agustus 2026, sementara pertumbuhan ekonomi tetap solid di kisaran 5,29 persen pada kuartal kedua. Karena ekonomi domestik dinilai tidak mengalami pemanasan berlebih, kenaikan suku bunga acuan dianggap tidak tepat.

Sejalan dengan itu, Bank Indonesia mengubah strategi stabilisasi rupiah dengan tidak lagi mengandalkan kenaikan suku bunga acuan sebagai instrumen utama. Berbeda dari beberapa keputusan sebelumnya yang menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin sejak awal tahun, bank sentral kini memperkuat instrumen di pasar uang dan memangkas biaya lindung nilai bagi investor asing.

Penurunan biaya lindung nilai atau hedging diarahkan untuk menarik kembali minat investor asing menempatkan dana di pasar keuangan domestik. Selama ini, biaya lindung nilai menjadi salah satu pertimbangan investor dalam menghitung imbal hasil bersih dari surat berharga negara berdenominasi rupiah. Dengan biaya yang lebih murah, selisih imbal hasil menjadi lebih menarik.

Ekonom mendesak Bank Indonesia menambah intervensi saat rupiah mendekati Rp18.000. Intervensi biasanya dilakukan melalui pasar valuta asing dan pasar surat berharga negara untuk menahan pelemahan yang terlalu cepat. Namun ruang intervensi bergantung pada kecukupan cadangan devisa dan kondisi likuiditas valas di pasar domestik, yang menurut bank sentral sedang menjadi kendala utama.

Bagi pelaku usaha, pelemahan rupiah menaikkan biaya impor bahan baku dan barang modal. Perusahaan yang memiliki utang dalam dolar juga menghadapi beban yang lebih besar. Sebaliknya, eksportir komoditas memperoleh keuntungan karena penerimaan dolar mereka bernilai lebih tinggi dalam rupiah. Pemerintah mencermati dampaknya terhadap harga barang dan inflasi pada bulan-bulan mendatang.

Pemerintah memiliki kepentingan langsung pada stabilitas rupiah karena sebagian utang negara berdenominasi valuta asing. Pelemahan yang terlalu cepat membuat pembayaran bunga dan pokok utang lebih berat dalam rupiah. Karena itu, koordinasi antara bank sentral dan Kementerian Keuangan menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan pasar.

Di sisi lain, penguatan dolar bersifat global sehingga tidak hanya dialami Indonesia. Beberapa mata uang negara berkembang mengalami tekanan serupa. Dengan demikian, keberhasilan stabilisasi lebih ditentukan pada kemampuan menjaga stabilitas relatif dibandingkan mata uang lain di kawasan, bukan semata menahan penguatan dolar Amerika Serikat.

Stabilitas rupiah juga berpengaruh pada keputusan investasi rumah tangga. Ketika nilai tukar bergejolak, sebagian masyarakat beralih ke aset dolar atau emas sebagai pelindung nilai. Pola ini terlihat pada kenaikan permintaan valuta asing di gerai penukaran uang ketika rupiah mendekati level tertentu yang dianggap penting secara psikologis.

Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada data inflasi Amerika Serikat dan arah imbal hasil obligasi pemerintah di sana. Selama selisih imbal hasil melebar, aliran dana cenderung mengarah ke aset dolar. Karena itu, strategi insentif lindung nilai yang ditempuh bank sentral perlu diikuti dengan perbaikan daya tarik investasi jangka panjang di pasar domestik.

Sumber: Jakarta Globe, IDN Financials, Kompas, dan keterangan Bank Indonesia, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar