Rusia Letakkan Kapal Selam Kelima Kelas Lada, Dijuluki Lubang Hitam Baru

B-585 Sankt-Peterburg in 2010.jpg

Rusia melanjutkan produksi kapal selam kelas Lada. Pada 27 Agustus 2026 di St. Petersburg, lambung Malojaroslawez dimulai sebagai kapal kelima proyek 677. Kelas ini dirancang menggantikan Kilo dengan bodi satu lapis dan otomatisasi tinggi, tetapi sistem pendorong udara-bebas yang semula direncanakan belum juga terpasang.

Rusia kembali melanjutkan pembangunan kapal selam kelas Lada. Pada 27 Agustus 2026 di St. Petersburg, peletakan lambung kapal bernama Malojaroslawez dilakukan di galangan Admiralty Shipyards. Kapal ini menjadi unit kelima dari proyek 677, sebagaimana dilaporkan portal pertahanan Ukraina Militarnyi dan dikutip pers Jerman.

Kelas Lada dirancang untuk menggantikan kapal selam diesel-listrik kelas Kilo yang lebih tua. Kelas Kilo sendiri lama dijuluki lubang hitam karena suara mesinnya yang sangat rendah sehingga sulit terlacak sonar. Menurut portal pertahanan Amerika Serikat 19FortyFive, Lada diharapkan memiliki penyamaran akustik yang lebih baik dan sistem tempur yang lebih modern.

Secara dimensi, kapal kelas Lada sekitar 67 meter panjangnya, kira-kira 7,1 meter lebarnya, dan memiliki perpindahan lebih dari 1.700 ton. Kecepatan jelajah bawah air diklaim mencapai 21 knot. Senjata utama terdiri atas enam tabung torpedo kaliber 533 milimeter yang juga dapat meluncurkan rudal jelajah Kalibr maupun rudal antikapal P-800 Oniks.

Biro perancangan Rubin, kantor desain di balik proyek ini, memilih konstruksi selongsong tunggal. Tidak seperti selongsong ganda, hanya satu lapis tahan tekanan yang melindungi ruang dalam, sehingga bobot mesin berkurang. Lapisan pelindung dan elemen penyerap bunyi pada lambung ditujukan untuk menurunkan tanda akustik, sementara baling-baling dan peralatan teknis dirancang lebih senyap.

Sistem tempur Litiy bekerja sangat terotomatisasi sehingga jumlah awak dapat ditekan menjadi sekitar 35 perwira dan kelasi. Sonar baru disebut mampu mendeteksi kontak musuh pada jarak yang lebih jauh dibanding generasi sebelumnya.

Namun ada satu komponen penting yang belum tiba. Kelas Lada semula direncanakan memakai sistem pendorong udara-bebas atau AIP. Teknologi ini memungkinkan kapal selam konvensional menyelam lebih lama dan bekerja lebih senyap dibanding rangkaian diesel-listrik biasa. Sampai sekarang kapal-kapal tersebut tidak memilikinya karena kendala teknis, sehingga Rusia memakai sistem energi konvensional.

Pernyataan pihak Rusia sendiri juga tidak sejalan mengenai apakah kapal-kapal berikutnya akan dipasangi AIP. Menurut 19FortyFive, teknologi tersebut tampaknya belum dianggap matang di dalam negeri.

Riwayat kelas ini penuh liku. Kapal pertama, Sankt Peterburg, diletakkan lambungnya pada 1997 dan baru diserahkan ke angkatan laut pada 2010 setelah berbagai penundaan. Jeda panjang antara proyek dan realisasi membuat program ini beberapa kali berada di ujung tanda tanya.

Nama kapal terbaru itu sendiri membawa muatan sejarah. Malojaroslawez merujuk pada kota di wilayah Kaluga yang terkait pertempuran melawan pasukan Napoleon pada 1812 dan pertempuran melawan pasukan Jerman pada 1941, mengikuti kebiasaan angkatan laut Rusia menamai kapal dengan nama kota berjejak militer.

Dari sisi arsitektur, pilihan selongsong tunggal membuat bobot lebih ringan namun menyisakan konsekuensi pada ketahanan dan tata letak peralatan dibanding desain selongsong ganda yang lazim pada kapal Rusia generasi sebelumnya. Rubin menilai penghematan berat itu sepadan dengan ruang yang dibutuhkan untuk perangkat akustik baru.

Program Lada juga menjadi ujian bagi kemampuan galangan Rusia menjaga ritme produksi. Jeda antar-kapal yang panjang menunjukkan bahwa persoalan bukan pada rancangan, melainkan pada rantai pasok komponen dan pendanaan, dua hal yang makin tertekan oleh sanksi.

Daya tahan kapal kelas ini juga bergantung pada rantai logistik. Kapal selam diesel-listrik konvensional perlu muncul ke permukaan atau memakai snorkel secara berkala untuk mengisi ulang baterai dan mengambil udara, dan kemampuan bertahan di bawah air menjadi salah satu ukuran utama nilai taktisnya.

Kehadiran kapal baru di armada Baltik memperlihatkan prioritas yang jelas. St. Petersburg menjadi pusat galangan kapal selam Rusia bagian barat, sehingga penambahan unit di sana berdampak langsung pada keseimbangan kekuatan di kawasan Laut Baltik dan sekitarnya.

Negara-negara tetangga di kawasan Baltik dan Nordik memiliki kepentingan langsung menilai kemampuan kapal ini. Pengembangan armada selam senyap mendorong investasi balasan pada sonar, pesawat patroli maritim, dan kapal pemburu selam, sehingga pengaruhnya tidak berhenti pada satu galangan.

Konteksnya penting karena tekanan pada angkatan laut Rusia meningkat sejak invasi ke Ukraina, dengan kebutuhan mengganti kapal tua yang berjalan lambat. Bagi perancang kebijakan Eropa Timur, kelanjutan produksi Lada dibaca sebagai tanda bahwa industri galangan masih mampu menjalankan program bernilai tinggi meski sanksi membatasi pasokan komponen.

Sumber: Focus Online, Euronews, Ruhr24 (September 2026)

Tidak ada komentar

Posting Komentar