Waspada DBD: Kasus di Ciamis Tewaskan 5 Orang, Ini Cara Melindungi Keluarga

Waspada DBD: Kasus di Ciamis Tewaskan 5 Orang, Ini Cara Melindungi Keluarga

Kasus demam berdarah dengue di Ciamis dilaporkan menewaskan lima orang, sementara pemerintah menargetkan angka kematian akibat DBD menurun mendekati nol pada 2030 melalui pengendalian nyamuk dan vaksinasi.

Kasus demam berdarah dengue kembali menimbulkan korban. Di Ciamis, Jawa Barat, lima orang dilaporkan meninggal akibat penyakit yang ditularkan nyamuk tersebut. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa DBD masih menjadi ancaman nyata, terutama ketika musim hujan datang dan tempat perindukan nyamuk bertambah.

Demam berdarah dengue disebabkan virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk berjenis Aedes, terutama Aedes aegypti. Nyamuk ini berkembang biak pada air bersih yang tergenang, tidak hanya di selokan atau got, tetapi juga pada tempat-tempat kecil seperti penampungan air dispenser, pot bunga, dan talang air yang tersumbat.

Gejala khas DBD adalah demam tinggi yang muncul mendadak, disertai sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, serta muncul bintik merah pada kulit. Fase yang paling berbahaya justru ketika demam mulai turun, karena pada masa itu terjadi kebocoran pembuluh darah yang dapat menurunkan tekanan darah secara cepat bila tidak ditangani.

Kelompok yang paling berisiko mengalami gejala berat adalah bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang yang pernah terinfeksi dengue sebelumnya. Infeksi kedua oleh jenis virus yang berbeda umumnya menjadi pemicu kasus berat. Karena itu riwayat penyakit dalam keluarga sebaiknya disampaikan kepada tenaga kesehatan ketika memeriksakan pasien.

Pemerintah menargetkan angka kematian akibat dengue menurun mendekati nol pada 2030. Untuk mencapai target itu, strategi yang dijalankan mencakup pengendalian nyamuk melalui gerakan membersihkan tempat perindukan, pemantauan jentik berkala, penanganan cepat di fasilitas kesehatan, serta pemanfaatan vaksin dengue yang sudah tersedia di beberapa daerah.

Pengembangan vaksin dengue juga terus berlanjut. Kementerian Kesehatan pernah mengumumkan kerja sama riset vaksin dengue berbasis teknologi yang lebih baru dengan pihak luar negeri. Meski demikian, vaksin tetap merupakan pelengkap, bukan pengganti upaya pengendalian nyamuk, karena penularan bergantung pada jumlah nyamuk di lingkungan sekitar.

Pemberantasan sarang nyamuk paling efektif dilakukan teratur. Pola yang dianjurkan adalah menguras tempat penampungan air minimal sekali sepekan, menutup penampungan agar nyamuk tidak bisa bertelur, dan mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air. Telur nyamuk dapat bertahan pada dinding wadah yang kering dan menetas kembali ketika tersiram air.

Untuk perlindungan pribadi, sejumlah langkah sederhana membantu. Memakai pakaian berlengan panjang pada pagi dan sore, saat nyamuk paling aktif, serta memakai pengusir nyamuk pada kulit terbuka mengurangi risiko gigitan. Pemasangan kasa pada jendela dan ventilasi juga menekan masuknya nyamuk ke dalam rumah.

Di sekolah, pengawasan jentik berkala menjadi kegiatan yang berdampak besar. Lingkungan sekolah biasanya memiliki banyak tempat penampungan air, mulai dari toilet, tempat wudu, hingga wadah tanaman. Pemeriksaan rutin oleh petugas kesehatan sekolah dan pelibatan pelajar membuat penemuan jentik lebih cepat dibandingkan pemeriksaan mendadak.

Pada tingkat keluarga, hal yang sering terlewat adalah mengenali tanda bahaya. Bila demam berlangsung lebih dari tiga hari, disertai nyeri perut hebat, muntah terus menerus, gusi berdarah, atau anak tampak lemas dan gelisah, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan tidak boleh ditunda. Pemberian air dan cairan elektrolit membantu, tetapi tidak menggantikan penanganan medis.

Dinas kesehatan setempat biasanya melaporkan jumlah kasus menurut wilayah setiap pekan. Data itu berguna bagi warga untuk mengetahui apakah lingkungannya termasuk daerah dengan kasus tinggi, sehingga upaya kebersihan bisa ditingkatkan. Keterbukaan data seperti ini juga membantu memastikan penanganan tidak hanya bergantung pada fogging setelah korban berjatuhan.

Pengendalian DBD membutuhkan kesinambungan karena nyamuk berkembang biak sepanjang tahun di daerah beriklim tropis. Program fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan efeknya sementara, sementara jentik di tempat penampungan air tetap bertahan. Karena itu pemberantasan sarang nyamuk yang dilakukan rutin oleh warga memberi hasil lebih bertahan dibandingkan fogging yang dilakukan setelah korban muncul.

Perubahan pola hujan berpengaruh pada jumlah kasus. Ketika hujan turun tidak beraturan, banyak tempat penampungan air terbentuk dan tidak dibersihkan karena warga menganggap musim hujan belum datang. Kondisi itu memberi ruang bagi nyamuk untuk berkembang biak lebih lama, sehingga jumlah kasus dapat meningkat di luar periode puncak yang biasa diperkirakan.

Sumber: Kementerian Kesehatan

Tidak ada komentar

Posting Komentar