Bank Indonesia Pertahankan BI Rate, Cadangan Devisa Dijaga untuk Topang Rupiah

Bank Indonesia Pertahankan BI Rate, Cadangan Devisa Dijaga untuk Topang Rupiah

Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur September setelah menaikkan 100 basis poin pada Mei-Juni. Cadangan devisa USD146,5 miliar setara 5,3 bulan impor dan inflasi Agustus 3,19 persen menjadi bantalan utama menjaga stabilitas rupiah.

Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di angka 5,75 persen saat rapat dewan gubernur terakhir. Angka ini belum berubah sejak bank sentral menaikkan bunga 100 basis poin berturut-turut di Mei sampai Juni lalu, langkah yang langsung dilakukan begitu The Fed pertama kali menaikkan suku bunga di era Warsh.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai langkah penahanan ini masuk akal karena tindakan antisipatif Mei-Juni sudah cukup memberi ruang. Ia mempertanyakan perlunya kenaikan lanjutan bila satu-satunya alasan hanyalah mengikuti langkah The Fed yang menaikkan 25 basis poin.

Penahanan itu diambil dalam kondisi domestik yang beragam. Inflasi tercatat di sekitar 3,19 persen, masih dalam sasaran yang dibolehkan bank sentral, sehingga dari sisi harga barang-barang belum ada tekanan yang mengharuskan bank sentral menaikkan suku bunga. Di sisi lain, penjualan ritel Juli hanya tumbuh sekitar 1,1 persen dari tahun sebelumnya dan diproyeksikan melambat lagi di Agustus, menandakan permintaan domestik belum sepenuhnya pulih.

Cadangan devisa yang berada di sekitar 146,5 miliar dolar menjadi bantalan utama bagi bank sentral untuk tidak terburu-buru. Jumlah itu cukup untuk membiayai lebih dari lima bulan impor beserta cicilan utang luar negeri, jauh di atas patokan aman internasional.

Namun tekanan dari luar negeri tetap ada. Harga minyak yang terus di atas 100 dolar per barel membuat kebutuhan valuta asing importir meningkat, sementara defisit transaksi berjalan kuartal kedua menyentuh 3,3 persen dari PDB. Faktor-faktor itulah yang membuat rupiah hampir menyentuh 17.800 per dolar di pertengahan September.

Kepemimpinan baru bank sentral juga menjadi pertimbangan. Gubernur Bank Indonesia yang baru dilantik awal September langsung menghadapi pilihan sulit: menahan bunga untuk menjaga pertumbuhan atau menaikkan untuk menopang rupiah. Kombinasi antara imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang menyentuh 5 persen dengan obligasi domestik yang sudah di kisaran 7,12 persen membuat selisihnya semakin tipis dan investor semakin peka terhadap risiko nilai tukar.

Meski demikian, bank sentral tetap punya ruang untuk menahan suku bunga lebih lama bila harga minyak dan imbal hasil Amerika Serikat mulai turun. Risiko kenaikan 25 basis poin lagi di kuartal keempat tetap ada, terutama bila The Fed menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya dan rupiah terus tertekan.

Dalam wawancara dengan media lokal, Josua menegaskan bukan berarti bank sentral mengabaikan tekanan luar. Menurutnya langkah antisipatif di semester pertama sudah memberikan bantalan yang diperlukan, dan bank sentral hanya perlu waspada terhadap kemungkinan tekanan yang berlangsung lebih lama dari perkiraan semula.

Pilihan ini juga mencerminkan kehati-hatian menghadapi tahun politik. Bank sentral enggan mengambil langkah agresif ketika permintaan domestik masih rapuh, sekaligus harus menunjukkan kesiapan bertindak bila gejolak luar negeri berubah menjadi tekanan berkepanjangan.

Menurut Josua, pemahaman publik soal arah kebijakan akan menentukan ekspektasi harga ke depan. Bila masyarakat meyakini bank sentral akan bertahan lama, tekanan pada nilai tukar bisa berkurang sekalipun suku bunga acuan tidak berubah.

Perbankan sendiri sudah mengantisipasi keputusan tersebut dengan mempertahankan tingkat bunga dasar kredit di angka yang tidak jauh berbeda dari bulan-bulan sebelumnya, sehingga dampak ke dunia usaha relatif terkendali.

Sementara itu pasar obligasi merespons dengan tenang. Investor asing masih mencatat pembelian bersih pada Surat Berharga Negara bertenor panjang meski aliran modal keluar pada pasar saham tetap berlangsung pada pekan yang sama.

Kepemimpinan bank sentral yang baru juga membawa nada yang sedikit berbeda, dengan penekanan pada komunikasi kebijakan yang lebih terbuka dan keterlibatan lebih luas bersama pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat.

Selanjutnya perhatian pasar tertuju pada rapat dewan gubernur berikutnya. Bila harga minyak dunia kembali naik tajam dan The Fed mengambil langkah lanjutan, ruang bertahan bank sentral diperkirakan akan menyempit dengan cepat.

Kalangan analis menilai bank sentral berada di posisi yang tidak nyaman. Di satu sisi menjaga daya tarik imbal hasil domestik agar modal asing tidak keluar, di sisi lain menjaga agar biaya pinjaman dunia usaha tidak melonjak ketika pertumbuhan sedang melambat.

Josua juga menyoroti pentingnya membedakan gejolak pasar yang sementara dari perubahan yang menetap. Menurutnya kebijakan yang terlalu cepat merespons gejolak jangka pendek justru berisiko mengganggu pemulihan yang belum kokoh.

Sejumlah ekonom memperkirakan bank sentral masih bisa bertahan pada angka saat ini sampai akhir tahun, dengan syarat kondisi eksternal tidak memburuk secara bersamaan.

Sumber: Suara.com, Liputan6, Harian Jogja, dan Tempo, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar