Gunung Semeru di Jawa Timur meletus empat kali pada Minggu, 27 September 2026, dengan kolom abu tegak mencapai 1.300 meter di atas puncak. PVMBG mempertahankan status Level III Siaga dan melarang aktivitas hingga radius 13 kilometer di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan.
Gunung Semeru di Jawa Timur meluncurkan letusan vulkanik empat kali pada Minggu dini hari hingga pagi hari. Letusan pertama terekam sekitar pukul 05.55 WIB dan langsung disusul tiga kali erupsi lagi dalam hitungan jam.
Berdasarkan catatan petugas pos pengamatan, kolom letusan tertinggi mencapai sekitar 1.300 meter dari puncak kawah. Warna kolom tercatat bervariasi dari putih hingga kelabu, bergerak ke arah timur laut mengikuti arah angin saat itu.
Rekaman seismogram memperlihatkan amplitudo tertinggi 22 milimeter dengan durasi sekitar 2 menit 20 detik. Data itu menandakan tekanan magma masih cukup kuat untuk mengangkat material vulkanik ke atmosfer secara berulang dalam waktu singkat.
Otoritas setempat mempertahankan status Semeru pada level Siaga. Artinya masyarakat yang tinggal di sekitar lereng selatan dan tenggara tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius tertentu dari puncak maupun dari jalur aliran sungai yang berhulu di puncak gunung.
Jalur utama yang menjadi perhatian adalah Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Petugas memperingatkan bahwa awan panas serta aliran lahar dingin bisa merambat sangat jauh dari puncak setelah hujan turun di sekitar kawasan puncak gunung.
Khusus bagi pendaki, akses menuju puncak ditutup sepenuhnya sejak munculnya titik api di Ranu Kembang. Penutupan itu diberlakukan bersamaan dengan status Siaga untuk mencegah korban jiwa bila terjadi letusan susulan saat pendaki berada di zona bahaya.
Pengalaman berhari-hari sebelumnya menunjukkan Semeru pernah meletus belasan kali dalam satu hari dengan lava pijar meluncur cukup jauh. Pola erupsi berulang seperti itu membuat petugas tetap menahan status Siaga meski tidak ada letusan yang lebih besar.
Imbauan utama bagi warga yang tinggal di dekat sungai yang berhulu di puncak Semeru adalah segera berpindah ke tempat aman begitu hujan turun di sekitar puncak gunung. Aliran lahar dingin bisa datang dengan sangat cepat dan membawa material vulkanik berukuran besar.
Pos pengamatan terus memantau setiap getaran vulkanik dan menyampaikan informasi terbaru kepada warga melalui jalur komunikasi yang sudah disiapkan. Masyarakat diminta tidak memasuki wilayah yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bahaya.
Bagi warga di sekitar lereng gunung, erupsi pagi itu mengubah kegiatan harian. Pasar dan jalur menuju kebun kembali ditutup sementara untuk mencegah masyarakat memasuki zona yang dianggap rawan terhadap abu vulkanik yang beterbangan.
Aktivitas penerbangan di kawasan sekitar tidak mengalami gangguan berarti karena kolom abu masih bergerak menjauh dari jalur pesawat yang biasa dilalui. Namun petugas tetap meminta maskapai memantau perkembangan terbaru.
Sejumlah kelompok relawan di desa-desa sekitar juga kembali siaga dengan membuka pos bantuan darurat. Mereka membagikan masker kepada warga karena abu halus dari letusan terkadang masih terdeteksi hingga beberapa kilometer dari puncak.
Pemerintah daerah mengingatkan jalur evakuasi tetap harus dibiarkan bebas dari kendaraan sehingga bila sewaktu-waktu diperlukan perpindahan massal, akses menuju titik kumpul tidak terhambat.
Di sisi lain, petugas juga mengimbau agar masyarakat tidak mudah terpancing oleh informasi yang tidak jelas asal usulnya terkait perkembangan aktivitas vulkanik Semeru, dan selalu merujuk pada pembaruan resmi yang disampaikan secara berkala.
Selain Semeru, sejumlah gunung berapi lain di sekitar Jawa Timur juga terpantau dalam status waspada, memaksa aparat fokus pada peralatan pemantauan serta komunikasi antarpos pengamatan yang tersebar di beberapa kabupaten.
Pendaki yang berencana berangkat diimbau menunda perjalanan sampai status gunung diturunkan. Petugas menyatakan penurunan status baru akan dipertimbangkan setelah menunjukkan penurunan aktivitas yang konsisten setidaknya selama beberapa hari berturut-turut.
Warga di lereng selatan mengaku sudah terbiasa dengan letusan kecil hampir setiap pekan. Namun hujan abu yang turun pagi itu sempat membuat beberapa sekolah memilih memulangkan murid lebih awal sebagai langkah pencegahan.
Petugas pos pengamatan menegaskan mereka akan terus menyampaikan laporan berkala setiap enam jam, mencakup tinggi kolom abu, arah angin, serta getaran vulkanik yang terekam alat.
Kesiapan warga dan kecepatan informasi dinilai penting untuk mengurangi risiko jatuh korban bila gunung kembali mengeluarkan letusan susulan.
Sumber: Okezone, Warta Bela Negara, Detik, dan Warta Ekonomi mengutip PVMBG, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar