Dua Bulan Usai Gempa Kumamoto, 1.514 Warga Masih Bertahan di Pengungsian

Dua Bulan Usai Gempa Kumamoto, 1.514 Warga Masih Bertahan di Pengungsian

Gempa magnitudo 7,1 pada 28 Juli 2026 masih menyisakan 1.514 orang di 32 titik pengungsian Kumamoto, sementara 71.518 bangunan rusak dan jalur kereta peluru baru pulih penuh pada 18 September.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, pada 28 Juli 2026 masih meninggalkan luka panjang. Hampir dua bulan berselang, sebanyak 1.514 orang tercatat masih bertahan di 32 titik pengungsian di seluruh prefektur itu. Angka tersebut dihimpun pemerintah prefektur dan dilaporkan kantor berita Jiji Press, sebagaimana dikutip Xinhua pada Senin (28/9/2026). Di luar kelompok itu, banyak warga memilih tinggal di hotel atau tetap menempati rumah yang rusak.

Skala kerusakan menjelaskan mengapa pemulihan berjalan lambat. Guncangan utama terukur pada intensitas tertinggi 7 dalam skala 0 sampai 7 Jepang di wilayah paling parah. Korban meninggal tercatat 38 orang, termasuk kasus yang keterkaitannya dengan gempa masih diduga tidak langsung. Sebanyak 71.518 bangunan hunian mengalami kerusakan, dan 9.540 di antaranya rusak total atau rusak berat.

Pemerintah Prefektur Kumamoto kini menghadapi tugas pokok: menyediakan hunian yang aman dan menetap secepat mungkin, sekaligus membantu warga membangun kembali kehidupan mereka. Sebagian pengungsi sudah mulai pindah ke hunian sementara. Sebanyak 182 unit rumah sementara di 10 kompleks di Hikawa, Kosa, Uki, dan Kota Kumamoto mulai dihuni, dengan rencana penambahan 700 unit lagi yang tersebar di 25 kompleks.

Pemulihan jalur transportasi menjadi penanda penting. Kyushu Railway Co. mengembalikan layanan ruas Kumamoto sampai Shin-Minamata pada 18 September, sehingga seluruh jalur kereta peluru Kyushu Shinkansen kembali beroperasi penuh setelah 52 hari terputus. Meski demikian, kereta untuk sementara melaju dengan kecepatan berkurang di sekitar Stasiun Shin-Yatsushiro, Yatsushiro, wilayah yang kerusakannya paling berat. Jumlah perjalanan juga masih dikurangi, dan JR Kyushu menargetkan pemulihan jadwal normal secara bertahap. Layanan jalur utama Kagoshima antara Uto dan Yatsushiro dijadwalkan kembali pada 10 Oktober.

Ada persoalan lain yang lebih sulit diukur, yakni pengungsi yang tidak terlihat. Pemerintah Kota Yatsushiro mencatat sedikitnya sekitar 2.000 keluarga memilih tidak menggunakan pusat pengungsian meski membutuhkan bantuan. Jumlah itu lebih dari empat kali lipat keluarga yang tercatat mengungsi di kota tersebut hingga Jumat. Mereka bertahan di rumah yang rusak atau di tempat lain. Alasannya beragam, dari jarak ke lahan pertanian yang jauh hingga kekhawatiran soal privasi. Kota berencana mengantar air, makanan, dan kebutuhan lain langsung ke rumah-rumah itu, serta mengerahkan perawat kesehatan masyarakat untuk mengunjungi keluarga yang berisi warga lanjut usia atau penyandang disabilitas.

Pemerintah nasional menyiapkan program diskon perjalanan mulai Oktober untuk menopang industri pariwisata lokal yang terpukul. Subsidi mencakup biaya perjalanan dan penginapan di tujuh prefektur Kyushu, tepat ketika musim libur besar mendekat. Harapannya, kembalinya layanan Shinkansen penuh ikut mengangkat kunjungan wisatawan ke wilayah tersebut.

Pemulihan tidak berjalan seragam. Pusat kegiatan sukarelawan bencana di prefektur itu mencatat bahwa kerusakan dari gempa yang sama tetap menghasilkan kebutuhan berbeda di tiap wilayah. Karena itu, masa kerja dan waktu penutupan pos sukarelawan pun berbeda-beda. Penutupan sebuah pos tidak berarti perjalanan pemulihan selesai. Seiring waktu, bentuk bantuan yang dibutuhkan ikut berubah, sehingga pendampingan jangka panjang yang dekat dengan situasi setempat dinilai tetap diperlukan.

Pembanding sejarah ikut muncul. Ketika gempa melanda Kumamoto pada 2016, seluruh jalur Shinkansen bisa dipulihkan dalam 13 hari. Kali ini pemulihan memakan waktu jauh lebih lama, sehingga masa penutupan layanan juga lebih panjang. Tekanan bertambah karena musim panas yang terik menyertai masa-masa awal pemulihan.

Pemerintah kota menempuh beberapa cara untuk menghitung warga yang belum tersentuh bantuan. Petugas mendatangi rumah satu per satu dan menanyai orang yang datang ke pusat pengungsian untuk mengambil jatah bantuan. Dari cara itu, jumlah keluarga yang menahan diri di rumah bisa diperkirakan. Namun angka pasti sulit diperoleh karena mereka tidak terdaftar di pos mana pun.

Pengalaman gempa 2016 menunjukkan pemulihan fisik biasanya lebih cepat daripada pemulihan kehidupan warga. Kali ini, panjangnya penghentian layanan kereta membuat kawasan wisata kehilangan kunjungan selama hampir dua bulan. Program potongan harga tiket yang disiapkan pemerintah diarahkan untuk menarik kembali wisatawan domestik pada musim libur mendatang.

Bagi pemerintah prefektur, urusan hunian menjadi penentu. Selain menyiapkan unit rumah sementara, otoritas juga menilai kelayakan bangunan yang masih berdiri. Sebagian rumah dinyatakan belum aman untuk ditempati sehingga penghuninya harus menunggu lebih lama. Sumur dan sumber air warga pun belum seluruhnya diperbaiki.

Sumber: NHK World-Japan, Xinhua, Nation Thailand, Japan Forward, dan keterangan Pemerintah Prefektur Kumamoto, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar