Basis Data DNA Anjing di Inggris Diharapkan Bantu Polisi Mengungkap Kejahatan

Basis Data DNA Anjing di Inggris Diharapkan Bantu Polisi Mengungkap Kejahatan

Para peneliti di Inggris membangun basis data DNA anjing yang dapat digunakan sebagai bukti forensik. Jejak rambut dan air liur anjing di lokasi kejahatan dapat menghubungkan tersangka dengan TKP.

Para ahli forensik di Inggris sedang mengembangkan basis data DNA anjing yang diharapkan dapat menjadi alat bantu penting dalam penyelidikan kejahatan. Proyek kolaborasi antara King's College London dan Royal Veterinary College ini bertujuan memanfaatkan jejak biologis anjing yang sering ditemukan di lokasi kejadian perkara.

Rambut, air liur, dan material biologis anjing lainnya kerap ditemukan di lokasi kejahatan atau pada individu yang terkait dengan insiden. Namun para ilmuwan menyatakan bahwa jejak-jejak tersebut sering kali tidak diselidiki secara maksimal karena keterbatasan referensi genetik.

Menurut pakar forensik yang memimpin penelitian, DNA anjing dapat memberikan petunjuk berharga dalam berbagai kasus. Sebagai contoh, dalam kasus penculikan, identifikasi material anjing yang terkait dengan kejahatan dapat menjadi bukti kuat yang menghubungkan tersangka dengan lokasi kejadian.

Pendekatan yang digunakan mirip dengan analisis DNA forensik pada manusia, yaitu berfokus pada segmen-segmen sangat kecil yang disebut short tandem repeats. Segmen-gen itu unik untuk setiap individu dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi anjing tertentu dengan tingkat akurasi tinggi.

Dalam salah satu kasus yang dijadikan contoh, analisis DNA berhasil membersihkan tuduhan terhadap anjing milik seorang warga yang dituduh menyerang domba. Bukti genetik menunjukkan bahwa anjing tersebut bukan pelaku serangan, sehingga pemiliknya terbebas dari tuntutan.

Basis data ini juga berpotensi membantu dalam kasus-kasus yang melibatkan anjing berbahaya. Ketika terjadi serangan oleh anjing yang tidak diketahui identitasnya, DNA dapat digunakan untuk mengidentifikasi ras dan individu anjing yang bertanggung jawab.

Para peneliti menekankan bahwa pengumpulan sampel DNA anjing tidak memerlukan prosedur invasif. Sampel dapat diambil dari rambut yang rontok, air liur pada mainan, atau sisa-sisa biologis lainnya yang mudah diperoleh tanpa menimbulkan stres pada hewan.

Proyek ini masih dalam tahap pengembangan dan pengujian. Para peneliti berharap bahwa dalam beberapa tahun ke depan, basis data DNA anjing Inggris akan cukup lengkap untuk digunakan secara rutin oleh kepolisian dalam penyelidikan kejahatan.

Pendekatan yang digunakan mirip analisis DNA forensik manusia. Fokusnya pada segmen sangat kecil bernama short tandem repeats yang bersifat unik bagi setiap individu. Dengan segmen itu, seekor anjing tertentu dapat diidentifikasi dengan tingkat akurasi yang tinggi meski jejaknya hanya berupa beberapa sel.

Profesor forensik dari King's College London yang memimpin penelitian menjelaskan bahwa dalam kasus pidana seperti penculikan, identifikasi material anjing dapat menjadi bukti kuat. Banyak orang memelihara anjing dan hidup bersama hewan itu setiap hari. Karena itu, jejak anjing kerap menghubungkan seseorang dengan lokasi kejadian.

Para peneliti dari King's College London bekerja sama dengan Royal Veterinary College dalam proyek ini. Mereka menekankan bahwa jumlah DNA yang tertinggal di lokasi kejahatan sangat sedikit. Karena itu, teknik analisis harus mampu menghasilkan informasi berguna dari materi yang terbatas.

Dalam salah satu kasus contoh, analisis DNA membersihkan tuduhan terhadap anjing milik seorang warga yang dituduh menyerang domba. Bukti genetik menunjukkan hewan itu bukan pelaku, sehingga pemiliknya terbebas dari tuntutan. Kasus tersebut memperlihatkan manfaat basis data ini bagi kedua sisi hukum.

Basis data ini juga berpotensi membantu penanganan kasus serangan anjing yang identitas pelakunya tidak diketahui. DNA dapat digunakan mengidentifikasi ras sekaligus individu hewan yang bertanggung jawab. Hal itu penting untuk penegakan aturan tentang kepemilikan hewan berbahaya.

Pengumpulan sampel tidak memerlukan prosedur invasif terhadap hewan. Sampel dapat diambil dari rambut yang rontok, air liur pada mainan, atau sisa biologis lain yang mudah diperoleh. Pendekatan itu membuat pengumpulan data dapat dilakukan tanpa menimbulkan stres pada hewan maupun pemiliknya.

Proyek ini masih dalam tahap pengembangan dan pengujian. Para peneliti berharap basis data DNA anjing Inggris dapat cukup lengkap untuk digunakan kepolisian secara rutin dalam beberapa tahun ke depan. Tahap berikutnya adalah memperluas cakupan sampel referensi dari berbagai ras dan wilayah.

Pendekatan penggunaan segmen unik pada DNA anjing memungkinkan identifikasi lintas ras. Para peneliti menekankan bahwa setiap hewan, sama seperti manusia, memiliki jejak genetik yang khas. Karena itu, jejak kecil sekalipun bisa menjadi petunjuk yang besar artinya.

Pengembangan basis data ini dilakukan secara bertahap. Tahap awal berfokus pada pengumpulan sampel referensi dari berbagai ras yang umum dipelihara masyarakat. Setelah itu, data dipadukan dengan metode analisis yang telah teruji dalam forensik.

Kerja sama antara lembaga pendidikan dan kepolisian menjadi kunci keberhasilan. Tanpa dukungan aparat penegak hukum, temuan ilmiah sulit diterapkan di lapangan. Pelatihan bagi penyidik untuk mengenali dan mengumpulkan jejak anjing juga disiapkan.

Sumber: The Guardian, 25 September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar