Eksperimen menunjukkan mikroba yang hidup di ventilasi hidrotermal laut dalam Jepang bisa bertahan dalam kondisi yang mensimulasikan lautan bulan Enceladus milik Saturnus. Temuan ini memperkuat kemungkinan kehidupan di bulan es itu.
Para peneliti menemukan bahwa mikroorganisme yang hidup di kedalaman laut Jepang mampu bertahan dalam kondisi yang meniru lingkungan lautan di bawah kerak es Enceladus, salah satu bulan Saturnus. Eksperimen ini memperkuat kemungkinan bahwa kehidupan dapat eksis di dunia yang jauh dari Bumi.
Mikroba tersebut hidup di dekat ventilasi hidrotermal di dasar laut dan bertahan hidup dengan mengubah hidrogen serta karbon dioksida menjadi metana. Dalam eksperimen, organisme itu berhasil bertahan dalam air asin yang meniru komposisi lautan bulan Saturnus tersebut.
Profesor geomikrobiologi dari Universitas Ludwig-Maximilian di Munich menyatakan bahwa jika menggunakan definisi seluler kehidupan yang dipahami saat ini, eksperimen menunjukkan bahwa jika organisme serupa ada di Enceladus, ada peluang besar bahwa organisme itu dapat bertahan hidup.
Saturnus memiliki lebih banyak bulan daripada planet lain di tata surya, dengan hampir 300 bulan yang diketahui mengorbit planet raksasa gas itu. Enceladus, yang berdiameter sekitar 500 kilometer, menjadi salah satu tempat paling menarik dalam pencarian kehidupan di luar Bumi.
Sejak para ilmuwan pertama kali memperhatikan semburan air yang memancar dari Enceladus, bulan es itu menjadi kandidat paling menjanjikan. Semburan itu menunjukkan adanya lautan air asin di bawah kerak es yang membeku, sebuah kondisi yang dianggap potensial untuk mendukung kehidupan.
Penelitian ini melibatkan kolaborasi antara universitas-universitas dari beberapa negara. Hasilnya dipublikasikan di jurnal ilmiah dan mendapat perhatian luas dari komunitas astrobiologi internasional.
Eksperimen dilakukan dengan mereplikasi tekanan, suhu, dan komposisi kimia yang diperkirakan ada di lautan Enceladus. Para peneliti menggunakan sampel air asin yang diformulasikan berdasarkan data dari wahana antariksa yang pernah melewati bulan tersebut.
Temuan ini memiliki implikasi penting untuk misi eksplorasi masa depan. Badan antariksa dari beberapa negara telah mengusulkan misi ke Enceladus untuk mengambil sampel langsung dari semburan air yang memancar ke luar angkasa.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa kemampuan bertahan hidup di laboratorium tidak sama dengan keberadaan kehidupan yang sebenarnya. Diperlukan pengamatan langsung untuk membuktikan apakah kehidupan benar-benar ada di bawah kerak es Enceladus.
Eksperimen dilakukan dengan mereplikasi tekanan, suhu, dan komposisi kimia yang diperkirakan ada di lautan bulan es tersebut. Tim peneliti menggunakan sampel air asin yang diformulasikan berdasarkan data dari wahana antariksa yang pernah melintasi Enceladus. Mikroba dari laut dalam Jepang kemudian diuji dalam kondisi tiruan itu.
Profesor geomikrobiologi dari Universitas Ludwig-Maximilian di Munich menyatakan bahwa dengan definisi seluler kehidupan yang dipahami saat ini, eksperimen menunjukkan organisme serupa berpeluang besar bertahan di Enceladus. Mikroba yang diuji hidup di dekat ventilasi hidrotermal dasar laut dan menghasilkan metana dari hidrogen serta karbon dioksida.
Saturnus memiliki hampir 300 bulan yang diketahui mengorbitnya, lebih banyak daripada planet lain di tata surya. Enceladus berukuran sekitar 500 kilometer dan menjadi salah satu tempat paling menarik dalam pencarian kehidupan di luar Bumi. Semburan air yang memancar dari permukaannya pertama kali membuat para ilmuwan menaruh perhatian.
Semburan tersebut menunjukkan adanya lautan air asin di bawah kerak es yang membeku. Kondisi itu dianggap potensial mendukung kehidupan karena menyediakan air, energi, dan unsur kimia penting. Sejak penemuan itu, Enceladus menjadi target utama kajian astrobiologi.
Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal ilmiah dan mendapat perhatian luas komunitas astrobiologi internasional. Penelitian melibatkan kolaborasi antaruniversitas dari beberapa negara. Temuan tersebut menambah bukti bahwa lautan bawah permukaan di bulan-bulan es dapat menjadi lingkungan yang layak huni.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi misi eksplorasi masa depan. Sejumlah badan antariksa telah mengusulkan misi ke Enceladus untuk mengambil sampel langsung dari semburan air yang memancar ke luar angkasa. Misi semacam itu memerlukan perencanaan teknis bertahun-tahun dan biaya besar.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa kemampuan bertahan hidup di laboratorium tidak sama dengan keberadaan kehidupan yang sebenarnya. Diperlukan pengamatan langsung untuk membuktikan ada tidaknya kehidupan di bawah kerak es bulan tersebut. Eksperimen ini memperkuat dasar ilmiah bagi misi lanjutan.
Sumber: The Guardian, 25 September 2026.

Tidak ada komentar
Posting Komentar