EraAIdailyNews, 21 September 2026 — Daisy Edgar-Jones menyatakan salah satu kegembiraan dalam film terbarunya adalah menyaksikan tokoh Elinor belajar menikmati sisi liar dan penuh gairah dalam dirinya. Ia mengaku juga belajar melakukan hal yang sama melalui peran tersebut.
Aktris berusia 28 tahun yang dikenal lewat serial Normal People bersama Paul Mescal itu kini mengambil peran utama dalam adaptasi terbaru novel Jane Austen berjudul Sense and Sensibility. Film tersebut disutradarai Georgia Oakley dan mengikuti kisah para saudari Dashwood dalam menghadapi cinta, kehilangan, dan tuntutan sosial setelah kematian ayah mereka. Berbeda dengan sejumlah adaptasi modern yang memindahkan latar ke era kini, versi ini memilih tetap setia pada periode aslinya — pakaian empire waist, ballroom berkelir, dan tata krama yang ketat tetap menjadi kerangka visualnya.
Menjelang perilisan film, ia membahas apakah dunia benar-benar membutuhkan adaptasi lain dari karya tersebut. Menurutnya, semakin banyak adaptasi justru semakin baik, dan ia menilai selalu ada ruang untuk menceritakan kembali kisah klasik Austen. "Semakin banyak semakin meriah, menurutku," ucapnya dengan nada ringan saat ditemui di sebuah hotel di pusat London. Sikap terbuka itu mencerminkan keyakinan bahwa setiap generasi berhak menemukan suara mereka sendiri di dalam kerangka cerita yang sama.
Ia juga menjelaskan mengapa generasi muda saat ini masih dapat melihat diri mereka dalam kisah-kisah Jane Austen. Menurutnya, tema-tema yang diangkat Austen tetap relevan karena menyangkut persoalan hubungan, ekspektasi sosial, dan pilihan hidup yang masih dihadapi banyak orang hingga kini. "Dia punya cara luar biasa dalam mengartikulasikan pengalaman perempuan," kata Edgar-Jones. Frasa itu — pengalaman perempuan — bukan sekadar slogan; ia merujuk pada ketegangan antara keinginan hati dan tekanan dunia luar yang hingga kini tidak usang.
Edgar-Jones menilai film barunya sangat menghormati latar masa itu, tetapi juga memiliki kesegaran dalam gaya pembuatannya. Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai sesuatu yang indah karena mampu menjaga nuansa klasik sekaligus terasa relevan bagi penonton masa kini. Kesegaran itu tidak datang dari dialog anakronistik atau kostum yang dimodifikasi, melainkan dari arahan kamera yang intim, pencahayaan alami, dan keputusan sutradara Georgia Oakley untuk membiarkan diam-diam berbahasa — momen-momen sepele di mana tatapan dan gerak tangan bercerita lebih keras dari dialog.
Novel Sense and Sensibility sebelumnya telah diadaptasi berkali-kali, termasuk film populer pada 1995 yang dibintangi Emma Thompson dan Kate Winslet. Edgar-Jones menyukai versi tersebut dan menyebutnya sebagai salah satu film favoritnya sepanjang masa, namun ia tetap merasa cerita itu perlu diceritakan kembali. Ia tidak melihat adaptasi baru sebagai kompetisi, melainkan sebagai percakapan yang berkelanjutan — setiap versi menambahkan lapisan penafsiran tanpa menghapus yang sebelumnya.
Ia bermain di samping Esmé Creed-Miles, 26 tahun, yang memerankan Marianne — saudara muda yang emosional, impulsif, dan kontras tajam dengan Elinor yang rasional dan tertahan. Kedekatan keduanya di layar tidak dibangun dari nol; mereka pernah bekerja sama sebagai remaja pada film Pond Life tahun 2018. "Kami sangat seru, tidur bareng tiap malam dan nonton Love Island," kenang Creed-Miles tertawa. Kenangan malam-malam remaja itu lalu mengairi kimia alami di set, membuat perdebatan dan pelukan saudari terasa jujur, tidak direkayasa.
Bagi Edgar-Jones, tema persaudaraan merupakan hal yang membekas dari Sense and Sensibility meskipun ia merupakan anak tunggal dalam kehidupan nyata. Ia menilai hubungan antar saudari menjadi inti emosional cerita yang membuat kisah itu tetap kuat. "Aku mendengar banyak orang bilang setelah nonton film ini mereka jadi ingin punya saudari, atau menelepon saudaranya hanya untuk bilang 'hei, aku sayang kamu'. Itu istimewa — bagian film yang paling aku banggakan," ucapnya. Kalimat sederhana itu mengungkap kekuatan narasi: kemampuan membangkitkan aksi nyata di dunia nyata.
Tahun lalu menandai peringatan 250 tahun kelahiran Jane Austen. Dalam beberapa tahun terakhir, karya-karyanya diadaptasi dalam berbagai bentuk, termasuk dua serial televisi BBC berjudul Miss Austen dan The Other Bennet Sister serta musikal Clueless di West End yang didasarkan pada adaptasi film remaja kultus dari novel Emma. Sejumlah adaptasi modern juga bermunculan, termasuk versi panggung kontemporer Emma karya Ava Pickett. Fenomena itu menunjukkan bahwa karya Austen terus menarik perhatian pembuat film dan penonton dari berbagai generasi berbeda. Bahkan Netflix menyiapkan adaptasi baru Pride and Prejudice yang ditulis Dolly Alderton dan dibintangi Emma Corrin — bukti bahwa nafas Austen masih menggerakkan industri.
Dalam wawancara yang sama, Edgar-Jones juga menyentuh soal teman dan mantan partner layarnya, Paul Mescal, yang nama kerap dikaitkan sebagai calon James Bond berikutnya. Ia memilih tidak memberikan komentar mendalam, hanya tersenyum dan mengakui kebanggaan atas perjalanan karir Mescal. Sikap itu konsisten dengan cara dia menjalani karier: memilih proyek yang beresonansi pribadi, lalu membiarkan hasilnya berbicara. Saat film Sense and Sensibility ini tiba di bioskop, penonton akan menyaksikan bukan sekadar adaptasi ke-n ke berapa, melainkan percakapan baru antara dua saudari — dan antara Austen dengan zaman kita — yang masih punya banyak hal untuk dikatakan.
Sumber: BBC Entertainment, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar