Penelitian di kawasan Paris Raya menemukan hanya 30 persen kasus serangan jantung di luar rumah sakit yang terjadi dalam jarak 500 meter dari defibrillator tetap. Drone dinilai dapat mempercepat akses alat penyelamat nyawa itu.
Drone dapat membantu mempersingkat waktu pengiriman defibrillator kepada penderita serangan jantung yang terjadi di luar rumah sakit. Para peneliti menilai teknologi itu berpotensi meningkatkan akses terhadap alat penyelamat nyawa tersebut, terutama di kawasan yang jangkauan alat tetapnya terbatas.
Di Inggris saja, terdapat lebih dari 30.000 kasus serangan jantung di luar rumah sakit setiap tahun yang ditangani layanan medis darurat untuk melakukan resusitasi. Data tersebut berasal dari yayasan jantung nasional Inggris yang memantau kejadian serangan jantung di masyarakat.
Meski begitu, kurang dari satu dari sepuluh penderita yang selamat dari peristiwa tersebut. Sebagian dari mereka yang selamat mengalami masalah neurologis karena otak kekurangan pasokan oksigen dalam waktu yang terlalu lama sebelum mendapat pertolongan.
Salah satu faktor penting yang mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup adalah seberapa cepat penderita mendapat penanganan. Setiap menit tanpa resusitasi jantung paru dan defibrilasi menurunkan peluang bertahan hidup sekitar 10 persen, sehingga kecepatan akses alat menjadi faktor paling menentukan.
Seorang profesor kedokteran darurat di rumah sakit universitas di Creteil, Prancis, menyatakan bahwa lembaga layanan medis darurat dan dokter memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu penderita serangan jantung mendapatkan defibrilasi secepat mungkin. Penelitiannya menunjukkan drone dapat digunakan untuk memperluas akses terhadap alat tersebut.
Untuk mengkaji persoalan itu, tim peneliti menganalisis jumlah dan lokasi 28.349 kejadian serangan jantung di luar rumah sakit yang terjadi antara 2011 dan 2024 di wilayah administratif kawasan Paris Raya. Paris pusat kota dikecualikan dari analisis karena karakteristiknya berbeda.
Tim peneliti membandingkan data kejadian itu dengan lokasi defibrillator eksternal otomatis tetap yang tersedia di wilayah tersebut. Perbandingan itu bertujuan mengukur seberapa jauh jangkauan alat penyelamat yang terpasang permanen terhadap titik-titik kejadian nyata.
Hasilnya menunjukkan bahwa aksesibilitas terhadap 1.893 unit defibrillator tetap sangat bervariasi di wilayah kajian. Seorang dokter darurat yang menjadi penulis utama penelitian menyatakan hanya 30 persen dari seluruh kasus serangan jantung yang terjadi dalam jarak jaringan 500 meter dari defibrillator tetap terdekat.
Tim peneliti memperkirakan diperlukan tambahan 910 unit defibrillator tetap agar 84,5 persen dari kasus serangan jantung yang tercatat dapat dijangkau dalam jarak target tersebut. Perhitungan itu memperlihatkan besarnya celah ketersediaan alat di kawasan perkotaan yang luas.
Temuan tersebut menjelaskan mengapa pendekatan konvensional memiliki keterbatasan. Menempatkan alat tetap di setiap sudut wilayah berbiaya besar dan tidak selalu efisien karena kejadian serangan jantung menyebar tidak merata di seluruh kawasan.
Drone menawarkan pendekatan berbeda dengan mengirimkan alat langsung ke lokasi kejadian berdasarkan panggilan darurat. Pendekatan bergerak itu memungkinkan satu unit melayani cakupan wilayah yang jauh lebih luas dibandingkan alat yang dipasang tetap di satu titik.
Kecepatan menjadi keunggulan utama drone. Bila drone dapat berangkat dari titik siaga terdekat dan terbang langsung ke lokasi, waktu tiba alat berpotensi lebih singkat dibandingkan menunggu ambulans yang harus melewati lalu lintas sebelum melakukan defibrilasi.
Tantangan penerapannya tetap besar. Diperlukan izin penerbangan, jalur terbang aman, perawatan armada, serta integrasi dengan sistem panggilan darurat agar drone dapat dikerahkan tanpa mengganggu operasi layanan medis yang sedang berjalan.
Faktor cuaca juga mempengaruhi keandalan pengiriman udara. Angin kencang, hujan, dan jarak pandang rendah dapat menghambat penerbangan, sehingga skema ini memerlukan perencanaan rute serta prosedur cadangan untuk memastikan alat tetap sampai ke sasaran.
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah pelatihan masyarakat. Defibrillator hanya bermanfaat bila orang di sekitar mampu menggunakannya, sehingga edukasi publik tentang resusitasi dan penggunaan alat tetap menjadi bagian penting dari setiap skema pengiriman drone.
Kombinasi penempatan alat tetap yang strategis dan pengiriman udara dinilai dapat memberikan hasil terbaik. Pendekatan itu memanfaatkan jangkauan cepat drone untuk kejadian di luar cakupan, sambil tetap mengandalkan alat tetap yang mudah diakses di kawasan padat penduduk.
Hasil penelitian ini memberi dasar bagi pengambil kebijakan untuk mengevaluasi jangkauan alat penyelamat jantung. Dengan data lokasi kejadian yang akurat, perencanaan penempatan alat dan pelayanan darurat dapat disusun lebih tepat sasaran.
Sumber: The Guardian, 25 September 2026.

Tidak ada komentar
Posting Komentar