Harga Pertamax dan Solar Nonsubsidi Diprediksi Naik Awal Oktober, Ini Pemicunya

Harga Pertamax dan Solar Nonsubsidi Diprediksi Naik Awal Oktober, Ini Pemicunya

Harga bahan bakar nonsubsidi seperti Pertamax dan solar industri diprediksi naik pada awal Oktober 2026 seiring melonjaknya harga minyak dunia, sementara pemerintah menyatakan harga bahan bakar bersubsidi tidak berubah.

Harga bahan bakar minyak nonsubsidi diperkirakan naik pada awal Oktober 2026. Sejumlah pengamat energi menyebut kenaikan itu hampir pasti terjadi karena harga minyak mentah dunia terus menguat sepanjang September, sementara formula harga bahan bakar nonsubsidi di Indonesia mengikuti pergerakan harga minyak dan nilai tukar rupiah pada periode sebelumnya.

Pemicu utamanya adalah harga minyak dunia. Jenis Brent menembus 106,5 dolar Amerika Serikat per barel pada Selasa, 29 September 2026, level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan itu didorong kekhawatiran pasar atas konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang membuka kemungkinan terganggunya pasokan dari kawasan Teluk. Setiap kali pasokan diperkirakan terganggu, harga kontrak berjangka naik lebih cepat daripada kebutuhan nyata, dan konsumen di negara pengimpor seperti Indonesia menerima dampaknya beberapa pekan kemudian.

Faktor kedua adalah pelemahan rupiah. Harga minyak dibayar dalam dolar Amerika Serikat, sehingga nilai tukar yang melemah menambah biaya pembelian meski harga di pasar dunia tidak bergerak. Pada akhir September 2026 rupiah berada di sekitar Rp17.997 per dolar Amerika Serikat, dan sempat menyentuh Rp18.019 pada perdagangan tengah hari. Kombinasi harga minyak naik dan rupiah melemah adalah kombinasi paling berat bagi negara pengimpor bahan bakar.

Sementara harga nonsubsidi mengikuti pasar, pemerintah menyatakan harga bahan bakar bersubsidi tidak berubah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan harga pertalite, solar bersubsidi, dan gas melon tiga kilogram tetap sama seperti penetapan terakhir, meski harga minyak dunia naik. Pernyataan itu penting karena sebagian masyarakat khawatir kenaikan harga dunia akan langsung diteruskan ke bahan bakar bersubsidi.

Selama September 2026, harga bahan bakar nonsubsidi sebenarnya stabil. Sejumlah laporan menyebut tidak ada perubahan harga di stasiun pengisian milik badan usaha sepanjang bulan berjalan. Hal ini wajar karena formula penyesuaian harga dijalankan secara berkala, biasanya awal bulan, sehingga pergerakan harga minyak pada bulan berjalan baru muncul di bulan berikutnya.

Bagi pemilik kendaraan pribadi, kenaikan harga Pertamax berarti biaya perjalanan bertambah. Satu mobil yang mengisi 30 liter per pekan merasakan tambahan belanja sekitar Rp30.000 hingga Rp60.000 per bulan bila harga naik seribu hingga dua ribu rupiah per liter. Bagi pelaku usaha yang memakai solar industri untuk alat berat atau armada pengiriman, kenaikan bahan bakar langsung masuk ke hitungan biaya produksi dan berpotensi diteruskan ke harga barang.

Ada beberapa langkah yang bisa diambil menghadapi rencana kenaikan itu. Memilih kelas bahan bakar yang sesuai dengan kompresi mesin menghindari pemborosan tanpa manfaat. Menjaga tekanan angin ban dan menghindari muatan berlebih dapat menghemat bahan bakar hingga beberapa persen. Untuk perusahaan angkutan, menjadwalkan pengisian penuh sebelum tanggal penyesuaian harga sering dilakukan sebagai pengaman jangka pendek, meski tidak menyelesaikan persoalan biaya jangka panjang.

Yang perlu diperhatikan, harga bahan bakar bukan satu-satunya komponen. Ongkos angkut, harga barang, dan tarif pengiriman biasanya menyesuaikan diri beberapa pekan setelah harga bahan bakar naik, dan jarang turun kembali ketika harga minyak melemah. Karena itu pencatatan harga serta pemantauan berkala oleh pemerintah tetap diperlukan agar penyesuaian tidak dipakai membenarkan kenaikan harga yang tidak wajar.

Jika harga minyak dunia bertahan di atas 100 dolar per barel hingga akhir tahun, perhitungan ulang anggaran subsidi dan kompensasi energi hampir tidak terhindarkan. Sebaliknya, bila konflik mereda dan harga kembali ke kisaran sebelumnya, penyesuaian harga nonsubsidi awal Oktober bisa dibatalkan atau dibatasi. Yang pasti, keputusan resminya akan diumumkan badan usaha pada hari-hari pertama bulan depan.

Salah satu peredam yang dimiliki Indonesia adalah pencampuran bahan bakar nabati. Kewajiban pencampuran biodiesel ke dalam solar menurunkan kebutuhan impor sekaligus menjaga permintaan minyak sawit dalam negeri. Semakin tinggi persentase pencampuran yang dijalankan, semakin kecil pengaruh harga minyak mentah dunia terhadap harga solar di dalam negeri. Karena itu setiap pembahasan tarif bahan bakar hampir selalu disertai pembahasan kesiapan industri bahan bakar nabati.

Pola konsumsi juga berpengaruh. Sebagian besar bahan bakar nonsubsidi di Indonesia dipakai kendaraan pribadi di kota besar dan sektor logistik. Ketika harga naik, pengguna mengurangi perjalanan yang tidak penting sementara perusahaan angkutan menyesuaikan rute dan jadwal. Penyesuaian itu memakan waktu beberapa pekan dan baru terlihat pada data penjualan bahan bakar bulan berikutnya, sehingga dampak kenaikan harga sering tidak langsung terbaca di jalan.

Sumber: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI

Tidak ada komentar

Posting Komentar