Merger KAI dan INKA Rampung Sebelum Januari 2027, Utang INKA Rp4,7 Triliun Jadi Sorotan

Merger KAI dan INKA Rampung Sebelum Januari 2027, Utang INKA Rp4,7 Triliun Jadi Sorotan

Penggabungan PT INKA ke dalam PT KAI ditargetkan rampung sebelum Januari 2027, namun utang INKA yang disebut mencapai Rp4,7 triliun dan pesanan kereta yang belum lunas menjadi perhatian.

Penggabungan dua badan usaha milik negara di sektor perkeretaapian ditargetkan rampung sebelum Januari 2027. Kepala badan pengelola investasi yang menaungi keduanya menyatakan proses menjadikan PT INKA sebagai anak usaha PT KAI akan selesai pada akhir tahun ini, dan pernyataan itu disampaikan pada Selasa, 29 September 2026.

Dalam skema yang disiapkan, INKA tidak lagi berdiri sejajar dengan KAI, melainkan menjadi anak usaha. Artinya, seluruh keputusan strategis pabrik kereta di Madiun itu berada di bawah koordinasi induk yang selama ini mengoperasikan jalur, stasiun, dan rangkaian kereta. Pemisahan peran tetap dipertahankan: KAI sebagai operator, INKA sebagai produsen sarana.

Yang membuat rencana ini mendapat perhatian adalah kondisi keuangan INKA. Laporan keuangan yang dikutip beberapa media menyebut utang perseroan mencapai Rp4,7 triliun. Sebagian utang itu berasal dari kewajiban pembayaran bahan baku dan pinjaman untuk memperluas kapasitas produksi, sementara sebagian proyek pengadaan kereta dari dalam maupun luar negeri belum selesai pembayarannya.

Anggota dewan yang membidangi perhubungan dan keuangan mengingatkan agar penggabungan tidak dipakai untuk sekadar menutup masalah keuangan salah satu pihak. Peringatan itu masuk akal karena penggabungan usaha selalu memindahkan risiko ke entitas yang menampungnya. Bila utang diserap tanpa rencana bisnis yang jelas, bebannya berakhir pada neraca induk dan pada akhirnya pada anggaran negara sebagai pemegang saham.

Dari sisi penumpang, penggabungan dua perusahaan biasanya tidak langsung mengubah jadwal maupun tarif. Yang bisa terasa dalam jangka menengah adalah kecepatan perawatan dan peremajaan rangkaian. Jika pabrik dan operator berada dalam satu koordinasi, pemesanan kereta baru, perbaikan berkala, dan pengadaan suku cadang diharapkan lebih cepat karena tidak lagi melalui perundingan antarbadan usaha.

Sebaliknya, ada risiko yang layak diwaspadai. Koordinasi dalam satu kelompok usaha bisa membuat pesanan berputar di internal dan menutup pintu bagi pemasok lain yang lebih efisien. Selain itu, laporan keuangan gabungan dapat membuat masalah unit yang lebih kecil tidak terlihat, terutama bila tidak ada pemisahan pembukuan yang rapi. Karena itu kewajiban menyusun laporan keuangan terpisah untuk tiap unit usaha tetap penting.

Konteks yang melatarbelakangi penggabungan adalah beban pembangunan jaringan. Pemerintah menargetkan penambahan jalur ganda, elektrifikasi, serta pengadaan rangkaian untuk kereta cepat dan kereta barang. Semua itu membutuhkan badan usaha yang punya kemampuan keuangan cukup besar. Di sisi lain, kemampuan pabrik dalam negeri harus dijaga agar tidak bergantung sepenuhnya pada impor, terutama ketika nilai tukar rupiah sedang lemah dan harga bahan impor naik.

Untuk pengguna jasa kereta, ada beberapa hal praktis yang bisa dilakukan. Menyimpan salinan tiket elektronik dan memantau pengumuman resmi kanal aplikasi membantu menghindari penipuan yang kerap memanfaatkan kabar penggabungan perusahaan. Bagi pelaku usaha yang mengirim barang dengan kereta barang, kewajiban mengikuti kebijakan baru soal tarif dan jadwal angkutan dapat dicek langsung di layanan pelanggan resmi, bukan melalui perantara tidak resmi.

Sisa waktunya tinggal tiga bulan. Dalam periode itu, dokumen pengalihan saham, valuasi aset, dan rencana pelunasan utang harus tuntas. Keberhasilan penggabungan ini pada akhirnya akan dinilai bukan dari kecepatan penandatanganan, melainkan dari apakah kereta tetap berjalan tepat waktu dan pabrik dalam negeri tetap mendapat pesanan.

Penggabungan badan usaha semacam ini bukan hal baru di Indonesia. Beberapa tahun terakhir pemerintah menyatukan perusahaan sektor yang sama untuk memperkuat permodalan, misalnya di bidang pertambangan, pupuk, dan penerbangan. Pola yang dipakai hampir sama: satu badan usaha ditetapkan sebagai induk, unit lain menjadi anak usaha, lalu fungsi keuangan dan pengadaan dipusatkan. Hasilnya bervariasi dan sangat bergantung pada kualitas tata kelola sesudah penggabungan dijalankan.

Dari sisi industri, INKA adalah pabrik sarana perkeretaapian berskala besar di dalam negeri. Kemampuannya membuat badan kereta, bogie, dan rangkaian listrik menjadi dasar pemenuhan tingkat komponen dalam negeri pada proyek perkeretaapian nasional. Bila koordinasi dengan operator berjalan lancar, permintaan rangkaian baru untuk jalur ganda dan elektrifikasi dapat dipenuhi dari pabrik di Madiun sehingga lapangan kerja dan nilai tambah tetap berada di dalam negeri.

Sumber: PT Kereta Api Indonesia (Persero)

Tidak ada komentar

Posting Komentar