Harga Beras dan Cabai di Pasar Induk Cipinang Naik Hari Ini, Ini Penyebabnya

Harga Beras dan Cabai di Pasar Induk Cipinang Naik Hari Ini, Ini Penyebabnya
Ilustrasi: Harga Beras dan Cabai di Pasar (Foto: Wikimedia Commons)

Harga sejumlah bahan pangan utama kembali naik pada perdagangan akhir September 2026, dengan cabai rawit menembus Rp85.000 per kilogram di pasar Jakarta, sementara harga telur bergerak turun. Harga bahan pangan utama di pasar induk dan pasar tradisional Jakarta kembali bergerak naik pada akhir September 2026. Data harga pangan harian yang dirilis sejumlah lembaga menunjukkan beras, daging ayam, dan cabai rawit menguat, sedangkan telur ayam justru turun. Di pasar induk Cipinang, kenaikan beras menjadi bagian dari pola yang sudah berlangsung beberapa pekan.

Angka dan Data

Angka yang paling mencolok datang dari cabai rawit. Di pasar Jakarta, harga cabai rawit tembus Rp85.000 per kilogram, kenaikan yang jauh melampaui laju harga bahan pangan lain. Cabai termasuk komoditas yang paling cepat bergejolak karena produksinya musiman dan tidak bisa disimpan lama, sehingga satu kali gagal panen di daerah pemasok langsung memicu lonjakan harga di kota tujuan.

  • Harga bahan pangan utama di pasar induk dan pasar tradisional Jakarta kembali bergerak naik pada akhir September 2026.
  • Di pasar Jakarta, harga cabai rawit tembus Rp85.000 per kilogram, kenaikan yang jauh melampaui laju harga bahan pangan lain.
  • Baca juga: Aksi Jual Asing Rp509 Miliar Tekan IHSG Jelang Keputusan BI Rate Tarif YouTube TV Resmi Jadi 82,99 Dolar AS, Paket Termurah Dibanderol Mulai 44,99 Dolar

Baca juga: Aksi Jual Asing Rp509 Miliar Tekan IHSG Jelang Keputusan BI Rate Tarif YouTube TV Resmi Jadi 82,99 Dolar AS, Paket Termurah Dibanderol Mulai 44,99 Dolar

Harga beras naik lebih lambat tetapi lebih penting bagi rumah tangga, sebab beras menyumbang porsi terbesar belanja pangan orang Indonesia. Kenaikan biasanya bersumber dari tiga hal: berkurangnya pasokan gabah dari daerah penghasil, naiknya biaya penggilingan dan transportasi, serta peralihan pedagang ke kualitas yang lebih mahal menjelang akhir tahun.

Faktor musim ikut menentukan. Pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, sebagian daerah penghasil belum memasuki musim panen, sementara cadangan pedagang menipis. Bila hujan datang terlalu deras, penjemuran gabah juga terganggu, dan mutu beras yang dijual menurun sehingga harga kualitas terbaik justru naik lebih cepat.

Dampak

Pemerintah memiliki beberapa alat untuk meredam gejolak ini. Badan pangan menyalurkan beras cadangan pemerintah dengan harga yang disubsidi, biasanya kelas medium, melalui jaringan pasar dan mitra ritel. Bila operasi pasar berjalan lancar, beras kelas menengah tidak melonjak, sehingga rumah tangga berpenghasilan rendah masih punya pilihan. Namun operasi pasar tidak dapat menutup seluruh kebutuhan, dan kelas premium tetap mengikuti harga pembeli.

Untuk daging ayam, harga biasanya bergerak mengikuti pasokan harian dari rumah potong. Kenaikan pada akhir September sering berkaitan dengan naiknya permintaan menjelang akhir bulan dan biaya pakan yang belum turun. Sebaliknya, harga telur turun karena produksi peternak meningkat dan pasokannya berlebih di sejumlah daerah. Pola berlawanan antara daging ayam dan telur seperti ini biasa terjadi dan tidak selalu menandakan gangguan pasokan yang besar.

Bagi pembeli, ada beberapa cara menekan dampak kenaikan. Membeli beras kelas medium dari penyalur resmi program stabilisasi harga biasanya lebih murah daripada memilih merek premium. Membeli cabai dalam kondisi kering atau bubuk dapat lebih efisien saat harga segar melonjak, meski rasanya berbeda. Belanja dalam jumlah lebih besar di pasar induk, atau memakai layanan pembelian bersama tetangga, juga menurunkan harga per kilogram karena memangkas perantara.

Langkah Selanjutnya

Di sisi pedagang, lonjakan harga komoditas seperti cabai sering tidak diikuti kenaikan keuntungan. Konsumen membeli dalam jumlah lebih sedikit, sementara kerugian akibat cabai yang rusak sebelum terjual tetap ditanggung pedagang. Karena itu ketika harga naik tajam, volume penjualan biasanya turun dan pedagang kembali mengandalkan komoditas yang lebih stabil seperti beras, bawang, dan minyak goreng.

Yang perlu dipantau dalam beberapa pekan ke depan adalah apakah kenaikan ini bertahan atau hanya bersifat sementara akibat cuaca. Bila pasokan dari daerah penghasil kembali normal dan operasi pasar stabilisasi harga berjalan, harga beras biasanya melandai. Sebaliknya, bila harga cabai masih di atas Rp85.000 per kilogram sampai pertengahan Oktober, intervensi pasokan langsung dari daerah surplus menjadi keharusan, bukan pilihan.

Harga gabah di tingkat petani juga menentukan harga beras di pasar. Pemerintah menetapkan harga pembelian untuk gabah kering panen dan beras melalui kebijakan yang diperbarui setiap tahun. Bila pembelian di tingkat petani terlalu murah, petani menahan penjualan sehingga pasokan ke pasar induk berkurang dan harga eceran naik. Sebaliknya, bila harga pembelian ditetapkan terlalu tinggi tanpa penyaluran yang lancar, harga beras di toko ikut terbawa naik.

Untuk komoditas cabai, solusi jangka panjangnya adalah penataan produksi antardaerah. Loncatan harga paling sering terjadi ketika beberapa sentra panen pada waktu yang sama, lalu kosong pada bulan-bulan berikutnya. Pola tanam yang diatur, ditambah gudang pendingin sederhana di sentra produksi, dapat memangkas puncak harga sekaligus menahan harga jatuh di tingkat petani.

Sumber: Badan Pangan Nasional

Tidak ada komentar

Posting Komentar