EraAIdailyNews, 21 September 2026 — Kelompok militan Houthi yang didukung Iran di Yaman menyatakan telah melancarkan serangan drone dan rudal balistik terhadap ibu kota Arab Saudi, Riyadh, serta sejumlah lokasi energi di pesisir Laut Merah. Otoritas Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang ditembakkan ke Riyadh pada Sabtu, tanpa mengonfirmasi korban jiwa.
Sebelumnya, asap hitam tebal terlihat membubung dari tangki bahan bakar di dekat bandara internasional King Khalid, ibu kota Arab Saudi, dan penerbangan di bandara itu sempat terganggu pada Sabtu. Sirine peringatan serangan udara terdengar di ibu kota untuk pertama kalinya sejak Houthi meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi pada Juli lalu. Menurut laporan jurnalis AFP di lokasi, petugas pemadam kebakaran terlihat berupaya memadamkan api dari tangki bahan bakar milik Aramco yang terbakar.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mendesak warga negaranya di Timur Tengah untuk "meningkatkan kewaspadaan dan bersiap menghadapi kemungkinan pembatalan penerbangan serta gangguan perjalanan lainnya." Lembaga itu menilai konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat dan menyatakan warga Amerika Serikat sebaiknya "secara serius mempertimbangkan kembali perjalanan ke dan melalui wilayah tersebut." Dalam pernyataannya, Departemen Luar Negeri menegaskan: "Houthi yang didukung Iran telah melakukan permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk terhadap bandara sipil."
Juru bicara resmi koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan pertahanan udara berhasil menggagalkan "upaya permusuhan yang menyasar warga sipil" di kota-kota Bish, Taif, Farasan, dan Yanbu. Pertahanan Sipil Arab Saudi mengirim peringatan melalui telepon mengenai potensi bahaya di Riyadh dan wilayah lain pada malam hari, sebelum mengeluarkan pernyataan kondisi aman pada pagi Sabtu. Seorang warga Riyadh utara, berusia 27 tahun, mengungkapkan kepada AFP: "Aku mendengar alarm, lalu jendela-jendela rumahku berguncang. Sungguh menakutkan. Aku tidak menyangka hal ini."
Juru bicara militer Houthi, Yahya al-Sarea, dalam pernyataan yang diunggah secara daring mengatakan "sejumlah besar rudal balistik, rudal jelajah, dan drone" telah digunakan untuk menyerang "lokasi sensitif" di Riyadh serta fasilitas perusahaan minyak dan gas negara Aramco di Yanbu di pesisir. Ia menyebut serangan itu sebagai respons atas "upaya kriminal musuh Arab Saudi" yang menyasar ibu kota Yaman, Sanaa, yang kini dikuasai Houthi. Sarea sebelumnya menuduh Arab Saudi melakukan 300 serangan di seluruh Yaman selama sepekan terakhir.
Houthi terlibat perang saudara dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi. Kelompok itu telah beberapa kali menyerang sasaran di dalam wilayah Arab Saudi dalam beberapa bulan terakhir dan pekan ini mengklaim bertanggung jawab atas penembakan jatuh sebuah jet tempur Arab Saudi di atas Yaman. Video terverifikasi menunjukkan tumpukan.jet tempur yang ditembak jatuh di atas Yaman telah dipublikasikan tiga hari sebelumnya.
Menurut laporan yang belum dikonfirmasi dari kantor berita AFP yang mengutip sumber militer kedua pihak, pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi menewaskan 48 orang pada Sabtu. Houthi menyatakan 31 pejuangnya tewas, sementara sumber pemerintah menyebut pihaknya kehilangan 17 tentara. Pada Jumat, Organisasi Internasional untuk Migrasi, sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, melaporkan jumlah orang yang mengungsi akibat pertempuran terbaru telah melampaui 104.796 orang. Situs pemantau penerbangan FlightRadar24 melaporkan penundaan dan pembatalan penerbangan di Bandara Internasional King Khalid.
Secara strategis, Houthi baru-baru ini merebut kendali atas kota pelabuhan strategis Mokha dan Pulau Perim, sebuah pintu masuk jalur pelayaran penting yang digunakan negara Teluk itu untuk mengekspor minyak ke Asia dan Eropa. Kelompok tersebut menyatakan blokade laut itu sebagai pembalasan atas blokade Arab Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di Yaman barat laut yang dikuasai Houthi. Kapal-kapal Arab Saudi telah bergantung pada jalur Laut Merah itu untuk ekspor minyak sejak perang AS dan Israel dengan Iran secara efektif menutup Selat Hormuz.
Eskalasi ini menimbulkan kekhawatiran pasar global. Pada Jumat, raksasa perbankan investasi JP Morgan mengakui kesulitan memprediksi dampak perang terhadap harga minyak, mengatakan kepada investor dalam catatan langka: "Kita tidak tahu bagaimana memodelkan akhir cerita ini." Analis energi memperingatkan krisis minyak Arab Saudi yang memuncak berpotensi mendorong harga ke atas di seluruh dunia, mengingat posisi kingdom sebagai eksportir minyak terbesar dunia.
Arab Saudi pada hari Jumat juga mengumumkan telah menembak jatuh drone Houthi di selatan Mekkah, menandakan ancaman telah menjangkau kota suci umat Islam. Kemajuan cepat Houthi di Yaman dinilai dapat menghadirkan dimensi bahaya baru dalam konfrontasi yang melibatkan Iran. Citra satelit yang dirilis lima hari lalu mengungkap kerusakan parah yang menutup saluran pipa minyak vital Arab Saudi, memperparah ketidakpastian pasokan.
Sumber: BBC World, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar