EraAIdailyNews, 21 September 2026 — Ular tanah berwarna cokelat kemerahan sepanjang 28 inci yang dikumpulkan dari hutan New Guinea atau Papua diberi nama Lielaphis slashi, atau ular tanah milik Slash. Nama itu diberikan sebagai penghormatan kepada Slash, gitaris Guns N' Roses yang menyukai reptil sejak kecil. Slash sendiri menyatakan bahwa sebagai penggemar reptil sejak lama, ia merasa sangat terhormat dan rendah hati karena Lielaphis slashi dari New Guinea dinamai berdasarkan dirinya, serta menyebut momen itu sungguh menggembirakan dan di luar bayangannya.
Slash, yang juga dikenal sebagai Saul Hudson, terkenal di seluruh dunia sebagai gitaris Guns N' Roses. Namun musik hanya sebagian dari kisahnya. Ia juga terpesona pada reptil hampir sepanjang hidupnya dan lama mendukung kebun binatang, museum, serta sejarah alam. Kini kecintaan itu berbuah penghormatan ilmiah yang tidak biasa. Slash sendiri menyebut dirinya merasa sangat terhormat dan rendah hati, serta menyebut momen itu sungguh menggembirakan dan di luar bayangannya.
Bagi Sara Ruane, Associate Curator of Herpetology di Field Museum dan penulis senior paper di jurnal Zootaxa yang mendeskripsikan spesies tersebut, pemberian nama itu juga memiliki keterkaitan pribadi. Ia menyebut Guns N' Roses sebagai salah satu band favoritnya sejak kelas satu, dan saat kelas lima ia sudah memberi tahu gurunya bahwa ia ingin menjadi herpetolog, yaitu ilmuwan yang mempelajari reptil, setelah dewasa.
Ketika berusia dua belas tahun dan menerima majalah Reptiles Magazine yang memuat foto Slash sedang memegang reticulated python peliharaannya di sampul depan, Ruane menganggap pria itu sangat keren. Bertahun-tahun kemudian, setelah menjadi ilmuwan yang kadang berkesempatan memberi nama resmi bagi spesies reptil yang baru dikenali, Ruane kembali membaca wawancara lama tersebut.
Ia menemukan bahwa Slash membahas kecintaannya pada museum dan kebun binatang serta sejarah alam, dan menceritakan kebiasaannya keluar rumah untuk mencari ular saat kecil. Ruane merasa hal itu sangat berkaitan dengan dirinya dan berpikir bahwa Slash akan menjadi sosok yang tepat untuk dijadikan asal nama sebuah spesies baru.
Kesempatan itu akhirnya datang dalam bentuk ular berwarna cokelat kemerahan sepanjang 28 inci yang dikumpulkan dari hutan New Guinea. New Guinea adalah pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Terletak di utara Australia, pulau ini terbagi antara Indonesia dan Papua New Guinea. Hutan tropisnya menopang keanekaragaman hayati yang sangat besar, dan sebagian besar di antaranya masih kurang terdokumentasi oleh ilmuwan.
Pada suatu malam saat kerja lapangan di tahun 2006, Chris Austin, seorang profesor dan kurator herpetologi di Louisiana State University Museum of Natural Science, menjumpai ular di New Guinea yang tidak ia kenali. Austin, salah satu penulis paper yang mendeskripsikan spesies baru itu, menjelaskan bahwa ular tanah New Guinea bersifat nokturnal sehingga cara terbaik menemukannya adalah pada malam hari. Ular tersebut biasanya ditemukan tak lama setelah matahari terbenam di pangkal pohon besar saat mencari makan.
Ia mengingatkan bahwa bekerja pada malam hari di New Guinea menuntut kehati-hatian tinggi karena terdapat beberapa spesies sangat berbisa yang penampilannya sangat mirip dengan ular tanah yang tidak berbisa. Perbedaan penampilan yang tipis itu membuat ketelitian menjadi bagian penting dari pekerjaan lapangan di kawasan tersebut.
Setelah menyelesaikan gelar doktornya, Ruane bekerja bersama Austin di LSU pada 2016. Keduanya mulai berkolaborasi untuk lebih memahami ular Papua yang masih kurang diteliti, dan terus bekerja sama mengkaji kelompok tersebut sejak saat itu.
Pada pandangan pertama, ular itu tidak jelas tampak mewakili spesies yang baru bagi ilmu pengetahuan. Pekerjaan di laboratorium justru mengungkap perbedaan penting. Tianqi Huang, penulis utama studi sekaligus peneliti pascadoktoral di Field Museum bersama Ruane, menjelaskan bahwa melalui beberapa analisis genetik mutakhir mereka menemukan L. slashi berbeda secara genetik dari ular-ular serupa dalam genus yang sama. Kombinasi ciri fisik, seperti perbedaan jumlah sisik dibandingkan spesies lain, dan bukti genetik itulah yang membuat mereka menyimpulkan bahwa ular ini merupakan spesies yang sepenuhnya baru. Pemodelan ekologi juga menunjukkan habitat yang disukai L. slashi berbeda dari ular-ular serupa.
Ilmuwan masih mengetahui relatif sedikit tentang perilaku dan ekologi ular tanah milik Slash. Ruane menyatakan sangat sulit mengamati ular di alam liar sebelum mereka menyelinap pergi, sehingga pengetahuan tentang L. slashi masih terbatas. Anatominya memberi sedikit petunjuk tentang cara hidup dan makannya. Ular dalam genus ini sering memiliki gigi besar di bagian belakang mulut, yang mungkin dipakai ular tanah New Guinea untuk mencengkeram dan memakan kadal bersisik licin berukuran kecil serta telur reptil lain. Ular ini tidak mencengkeram dan mencekik mangsanya seperti boa constrictor.
Meski Guns N' Roses pernah disebut sebagai band paling berbahaya di dunia, kerabat reptilnya itu tidak berbahaya bagi manusia. L. slashi tidak menghasilkan bisa yang mampu melukai manusia secara serius. Namun aktivitas manusia bisa mengancam spesies ini dan banyak hewan lain yang hidup di hutan New Guinea.
Ruane menyebut habitat asal ular tanah milik Slash terancam industri seperti perkebunan kopi dan pertambangan. Itulah salah satu alasan mendeskripsikan spesies yang hidup di sana menjadi penting. Setiap spesies perlu dikenali agar manusia bisa lebih memahami cara kerja ekosistem dan bagaimana segala sesuatu menyatu di dalam lingkungan, karena makhluk hidup yang tidak dikenal tidak bisa dilindungi. Dengan mengidentifikasi spesies seperti L. slashi secara formal, ilmuwan dapat menyusun gambaran keanekaragaman hayati New Guinea yang lebih jelas dan mengetahui organisme mana yang berisiko ketika habitat mereka berubah. Studi ini melibatkan peneliti dari Field Museum, Rutgers University, Louisiana State University, Slippery Rock University, American Museum of Natural History, Papua New Guinea National Museum and Art Gallery, Virginia Museum of Natural History, dan University of Kentucky.
Sumber: ScienceDaily, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar