Bank of Japan menaikkan suku bunga seperempat poin ke 1,25 persen pada 18 September 2026, tertinggi dalam 31 tahun, menandai akhir era kebijakan uang murah. Kenaikan itu bertepatan dengan tekanan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan intervensi gabungan pertama dua negara itu sejak 1998 untuk menyelamatkan yen.
Bank of Japan resmi menaikkan suku bunga acuan seperempat poin persentase pada Jumat, 18 September 2026, membawa suku bunga ke kisaran 1,25 persen, angka tertinggi dalam 31 tahun dan penanda berakhirnya puluhan tahun kebijakan uang murah di negara itu. Langkah ini sudah lama dinanti analis karena selisih suku bunga dengan Amerika Serikat membuat yen terus tertekan.
Ironisnya, kenaikan itu terjadi setelah The Fed lebih dulu menaikkan suku bunga, sehingga jarak antara dua ekonomi justru melebar seketika. Sebelum langkah Jepang dikonfirmasi, bank sentral Amerika sudah lebih dulu mengambil tindakan yang menambah tekanan pada nilai tukar yen.
Profesor Sayuri Shirai dari Universitas Keio yang pernah menjadi anggota Dewan Kebijakan Bank of Japan pada 2011 sampai 2016 menjelaskan ketegangan dasarnya: bank sentral ingin menaikkan suku bunga untuk memperkuat yen, sementara pemerintah Perdana Menteri Sanae Takaichi lebih memilih suku bunga rendah guna menopang kebijakan fiskal ekspansif. Menurutnya, tekanan Amerika justru memberi alasan bagi Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga.
Yen yang terlalu lemah membuat Amerika khawatir karena memaksa Jepang menjual obligasi pemerintah AS demi mengakses dolar fisik untuk menopang mata uangnya sendiri. Jepang saat ini menahan sekitar 1,2 triliun dolar obligasi AS, dan penjualan besar-besaran akan menaikkan biaya utang Amerika. Di sisi lain, janji Tokyo menanamkan 550 miliar dolar di Amerika Serikat hingga 2029 sebagai ganti keringanan tarif barang Jepang menjadi goyah bila yen melemah terlalu jauh.
Bantuan diam-diam itu bermula pada 31 Juli ketika Amerika Serikat dan Jepang melakukan pembelian besar-besaran secara gabungan dan berhasil mengangkat yen dari posisi terburuk dalam 40 tahun di 164 yen per dolar ke 157 yen per dolar. Itu merupakan aksi pertama yang dikoordinasikan dua negara tersebut dalam membela yen sejak 1998, yang disebut Presiden Trump sebagai gestur persahabatan kepada Jepang sambil menyelipkan candaan soal Pearl Harbor.
Dampak pergerakan nilai tukar bagi perusahaan ekspor Jepang berupa keuntungan dua sisi. Bagi Toyota, penurunan satu yen terhadap dolar menambah laba operasional sekitar 50 miliar yen atau sekitar 317 juta dolar, menurut studi kantor berita Jiji Press. Namun keuntungan valas itu tergerus oleh pembayaran dalam dolar untuk baja, komponen elektronik, litium baterai, ongkos kirim, dan asuransi.
Di sisi lain, dua dekade stagnasi upah membuat daya beli rata-rata warga Jepang menyusut, sementara negara itu justru dibanjiri turis yang daya belinya berlipat ganda akibat yen lemah. Analis Tsuyoshi Ueno dari NLI Research Institute menyebut upah memang sudah mulai naik, tetapi tekanan rumah tangga masih terasa akibat pelemahan nilai tukar yang cepat.
Sejarah panjang masalah ini bermula pada 1999 ketika Bank of Japan menurunkan suku bunga ke titik nol, menjadikan yen mata uang favorit untuk perdagangan bawa pulang dengan meminjam dalam yen untuk diinvestasikan pada aset berimbal hasil lebih tinggi. Pola itu memicu salah satu operasi spekulasi terbesar dalam sistem keuangan global dan menumpuk masalah nilai tukar yang baru sekarang coba dibenahi.
Ippei Fujiwara, profesor makroekonomi dari Universitas Keio dan Universitas Tokyo yang menjadi ekonom Bank of Japan pada 1993 sampai 2011, merangkum intervensi gabungan itu sebagai penyelarasan kepentingan antara Jepang dan Amerika Serikat. Kekhawatiran utamanya justru keberlanjutan fiskal negara yang rasio utangnya mencapai 250 persen terhadap produk domestik bruto.
Para analis kekayaan menyebut reaksi pasar itu sebagai masalah kredibilitas, karena investor percaya siklus pengetatan Jepang akan tetap dangkal dibanding suku bunga di tempat lain. Ketika suku bunga menjadi lebih mahal atau bergejolak, investor dapat dipaksa mempercepat pelepasan posisi.
Para investor ekuitas, mata uang pasar berkembang, dan obligasi jangka panjang perlu memeriksa seberapa besar penilaian mereka bergantung pada modal Jepang yang murah. Kemampuan Jepang membangun cadangan devisa yang sangat besar, rasio utang 250 persen terhadap PDB, dan intervensi dua negara semuanya saling terkait dalam menjaga nilai tukar yen agar tidak bergerak liar.
Efisiensi pembelian bersama yang dilakukan Amerika Serikat dan Jepang pada 31 Juli menandai dimensi baru kebijakan lindung nilai mata uang. Menurut analis Tsuyoshi Ueno, langkah Bessent mungkin telah menciptakan rasa berutang budi dan terima kasih di pihak Jepang, karena intervensi sebelumnya yang dilakukan secara sepihak sejak 2022 terbukti tidak cukup menghentikan pelemahan yen.
Sumber: El País English, The Edge Singapore, dan NLI Research Institute, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar