Program Laksmi 2026 diluncurkan untuk mendampingi usaha mikro perempuan, menyasar penerima manfaat program keluarga harapan agar naik kelas.
Pada Rabu, 23 September 2026, Kementerian UMKM meresmikan Program Laksmi 2026 untuk wilayah Jawa Timur. Upacara peluncurannya digelar di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, dan menandai dimulainya pendampingan bagi para pelaku usaha kecil perempuan.
Laksmi hadir sebagai program pendampingan usaha mikro perempuan. Program itu dirancang untuk memperkuat kapasitas kewirausahaan dasar para pelaku usaha mikro.
Materi pendampingannya mencakup beberapa hal. Pertama, pengenalan pola fokus usaha agar peserta menentukan arah kegiatan yang jelas. Kedua, manajemen usaha dasar untuk mengelola keuangan dan persediaan.
Ketiga, berbagi pengalaman antar pelaku usaha. Sesi semacam ini memberi kesempatan kepada peserta mempelajari cara yang berhasil maupun kesalahan yang perlu dihindari dari sesama pelaku usaha.
Keempat, pengenalan platform SAPA UMKM sebagai tahap pertama pendampingan di wilayah tersebut. Platform itu membantu pelaku usaha memasarkan produk secara digital.
Program ini secara khusus menyasar Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan. Tujuannya agar penerima bantuan dapat naik kelas dan mencapai kemandirian ekonomi.
Sasaran itu penting karena bantuan sosial dirancang sebagai bantuan sementara. Keluarga yang mampu mengembangkan usaha memiliki sumber penghasilan sendiri, sehingga tidak terus bergantung pada bantuan.
Peluncuran tahap awal menjangkau sekitar 500 pengusaha mikro perempuan. Sebanyak 250 di antaranya merupakan nasabah PT Permodalan Nasional Madani, menunjukkan keterkaitan langsung antara sasaran program dan basis usaha mikro binaan perseroan itu.
Peluncuran Laksmi 2026 berlangsung bersamaan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara kementerian dan perseroan tersebut. Penandatanganan disaksikan Menteri UMKM Maman Abdurrahman dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf.
Kegiatan itu juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak beserta sejumlah pejabat dari kementerian dan pemerintah daerah. Kehadiran lintas instansi menunjukkan program ini melibatkan beberapa pihak sekaligus.
Dari sisi usaha mikro, kelompok usaha perempuan memiliki karakter tersendiri. Modal awalnya biasanya kecil, kegiatannya dijalankan dari rumah, dan hasilnya dipakai untuk kebutuhan keluarga.
Karena itu, pendampingan yang diberikan perlu disesuaikan. Materi yang terlalu rumit kurang bermanfaat bagi pelaku usaha yang baru mulai, sedangkan pendampingan yang terlalu sederhana tidak cukup untuk mengembangkan usaha.
Pencatatan keuangan menjadi keterampilan dasar yang sering terabaikan. Banyak pelaku usaha mikro tidak memisahkan uang usaha dari uang rumah tangga, sehingga keuntungan usahanya sulit diukur.
Pemisahan keuangan memudahkan perhitungan. Ketika modal, pemasukan, dan keuntungan tidak tercampur dengan belanja rumah tangga, pelaku usaha dapat mengetahui apakah kegiatannya benar-benar menghasilkan laba.
Akses pemasaran menjadi kendala berikutnya. Produk yang baik belum tentu terjual apabila tidak diketahui calon pembeli, sehingga kemampuan memasarkan produk sama pentingnya dengan kemampuan membuatnya.
Pemasaran melalui platform digital membuka jangkauan yang lebih luas. Namun, kemampuan itu menuntut pelatihan, karena pelaku usaha perlu mengetahui cara memotret produk, menulis keterangan, serta menangani pesanan.
Akses pembiayaan juga menjadi persoalan. Sebagian pelaku usaha mikro belum terhubung dengan lembaga keuangan formal karena tidak memiliki catatan usaha yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian kelayakan.
Pendampingan yang berjalan konsisten membantu mengatasi hal itu. Setelah usaha tercatat dengan rapi, peluang memperoleh pembiayaan menjadi lebih besar karena kegiatan usahanya dapat dinilai.
Keberhasilan program ini pada akhirnya dinilai dari kondisi peserta. Jika penghasilan usaha mereka meningkat dan ketergantungan pada bantuan berkurang, pendampingan yang dilakukan berjalan sesuai tujuan.
Sumber: ANTARA, 25 September 2026.
Program ini juga memberi perhatian pada pengelolaan waktu. Pelaku usaha perempuan sering mengurus pekerjaan rumah sekaligus usaha, sehingga pengaturan waktu menjadi keterampilan yang perlu dilatih.
Pembelajaran antar peserta juga membantu memperkuat jaringan. Ketika pelaku usaha saling terhubung, mereka dapat berbagi pemasok, memasarkan produk bersama, atau saling membantu ketika menghadapi kendala.
Keberhasilan usaha mikro juga bergantung pada keberlanjutan pendampingan. Setelah pelatihan awal selesai, pendampingan lanjutan diperlukan agar peserta dapat mengatasi kendala yang muncul saat menjalankan usahanya.
Pemantauan hasil pelatihan membantu menentukan kelanjutan program. Data mengenai peningkatan penjualan, jumlah pelanggan baru, dan perubahan laba memberi gambaran apakah pendampingan telah memberikan dampak yang diinginkan.
Mitra pendamping juga perlu memahami kondisi lokal. Pendamping yang mengetahui potensi dan kendala di daerah tersebut dapat menyesuaikan saran dengan realita yang dihadapi peserta sehari-hari.
Tidak ada komentar
Posting Komentar