Indeks S&P/ASX 200 bergerak di sekitar 8.660 poin setelah empat pekan rugi beruntun, tertekan naiknya harga minyak dan imbal hasil obligasi menjelang keputusan suku bunga Bank Sentral Australia.
Indeks acuan S&P/ASX 200 bergerak di sekitar 8.660 poin pada awal perdagangan Senin (28/9/2026), bertahan dalam rentang sempit setelah menanggung kerugian bersih selama empat pekan beruntun. Pasar saham Australia tertekan oleh kombinasi harga minyak yang naik dan imbal hasil obligasi yang meninggi, tepat ketika suku bunga domestik diperkirakan segera menyusul.
Pada perdagangan Jumat pekan lalu, indeks S&P/ASX 200 turun 37 poin atau 0,43 persen ke 8.665, titik terendah sejak 11 Juni. Indeks All Ordinaries yang lebih luas turun 51,4 poin atau 0,58 persen ke 8.845,6. Sepanjang pekan, indeks acuan itu melemah 0,8 persen dan sejak awal tahun tercatat turun 0,6 persen.
Sektor teknologi menjadi penggerak terbesar dengan penurunan 1,7 persen. Saham Xero turun 2,8 persen, Wisetech Global melemah 2,3 persen, dan NextDC mundur 1,8 persen. Sektor barang konsumsi diskresioner turun 1,4 persen seiring menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga. Dari 11 sektor di bursa itu, sembilan berakhir lebih rendah, sementara sektor keuangan dan kebutuhan pokok mencatat kenaikan.
Tekanan datang dari luar. Seorang penasihat militer pimpinan Iran menyatakan serangan lanjutan Amerika Serikat dan Israel dapat mendorong negara itu memperluas perang hingga Samudra Hindia, mendorong harga minyak mentah Brent ke level tertinggi delapan hari sebesar 106 dolar Amerika Serikat per barel. Ekonom senior Interactive Brokers, Jose Torres, menyatakan kenaikan harga minyak memicu gejolak pasar saham karena investor khawatir harga akan mendorong inflasi di atas rata-rata.
Imbal hasil obligasi pemerintah Australia nyaris melampaui puncak 15 tahun pekan sebelumnya, mengikuti pergerakan serupa di luar negeri. Investor menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk memegang utang pemerintah. Apa yang sebagian kalangan sebut sebagai pertumpahan darah di pasar obligasi menekan saham karena imbal hasil yang lebih tinggi membuat aset berisiko kurang menarik.
Pasar berjangka memperkirakan bank sentral Australia hampir pasti menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,60 persen. Peluang tersirat dari kontrak berjangka mencapai 90 persen. Pelaku pasar kini beralih dari posisi spekulatif ke fokus pada panduan ke depan Gubernur Michele Bullock soal suku bunga terminal dalam siklus pengetatan ini.
Angka inflasi menjelaskan mengapa pasar begitu yakin. Indeks harga konsumen bulanan terus bergerak di atas rentang target 2 sampai 3 persen, ditambah pertumbuhan upah di sektor jasa dan tekanan biaya perumahan serta jaringan energi. Data tenaga kerja memperlihatkan pengangguran naik tipis ke sekitar 4,6 persen, level tertinggi dalam beberapa tahun, namun penambahan tenaga kerja bulanan tetap kuat sehingga pasar kerja dinilai masih ketat secara struktural.
Seorang manajer portofolio senior di sebuah dana ekuitas Australia di Sydney menyatakan pasar uang mencerminkan mekanisme bank sentral yang realistis. Tim ekonom dari Commonwealth Bank of Australia, Westpac, ANZ, dan National Australia Bank menyelaraskan proyeksi mereka ke arah kenaikan suku bunga. Bagi investor saham, pertanyaan utama bukan lagi apakah suku bunga naik, melainkan seberapa jauh kenaikan itu berlanjut.
Bagi investor ritel, periode menjelang keputusan suku bunga biasanya ditandai volume perdagangan yang lebih tipis. Banyak pelaku pasar memilih menunggu pernyataan bank sentral sebelum menambah posisi. Karena itu, pergerakan indeks dalam beberapa hari terakhir lebih mencerminkan keraguan ketimbang perubahan mendasar prospek perusahaan.
Faktor eksternal tetap dominan. Selama harga minyak bertahan di atas 100 dolar Amerika Serikat per barel dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tinggi, tekanan terhadap saham Australia cenderung berlanjut. Sebaliknya, penurunan harga minyak bisa memberi ruang pemulihan bagi sektor transportasi dan ritel yang sensitif terhadap biaya energi.
Sektor pertambangan menjadi salah satu yang paling terpengaruh oleh kombinasi harga minyak dan dolar. Perusahaan tambang menghadapi biaya bahan bakar yang lebih tinggi, sementara harga jual komoditas mereka bergerak mengikuti permintaan global. Karena itu, pergerakan saham tambang sering menjadi indikator awal arah indeks acuan.
Bagi dana pensiun dan investor jangka panjang, koreksi empat pekan terakhir justru membuka peluang akumulasi pada saham yang fundamentalnya kuat. Namun strategi itu menuntut kesabaran karena arah suku bunga masih bisa berubah setelah data inflasi dan laporan tenaga kerja dirilis dalam beberapa pekan mendatang.
Sumber: AAP melalui Starts at 60, IBTimes Australia, dan data Bursa Efek Australia, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar