Dolar Australia Melemah ke 0,7000 Jelang Keputusan Suku Bunga Bank Sentral

Dolar Australia Melemah ke 0,7000 Jelang Keputusan Suku Bunga Bank Sentral

Dolar Australia tertekan mendekati 0,7000 terhadap dolar Amerika Serikat menjelang keputusan Bank Sentral Australia yang diperkirakan menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 4,60 persen, level tertinggi dalam 15 tahun.

Dolar Australia melemah mendekati level 0,7000 terhadap dolar Amerika Serikat pada Senin (28/9/2026), tertekan sinyal kebijakan ketat dari Bank Sentral Amerika Serikat dan menjelang keputusan suku bunga Bank Sentral Australia. Pasar memperkirakan bank sentral Australia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,60 persen pada akhir rapat 29 September 2026.

Kenaikan itu akan menjadi yang keempat sepanjang tahun ini dan menempatkan suku bunga pada titik tertinggi dalam 15 tahun. Kontrak berjangka suku bunga antarbank 30 hari di Bursa Australia memperlihatkan pasar memasang peluang sekitar 90 persen untuk kenaikan 25 basis poin tersebut. Taruhan itu terutama didorong inflasi Australia yang bertahan lengket.

Beberapa kepala bank sentral menyampaikan pandangan ketat terhadap tren inflasi. Inflasi Australia naik tajam sepanjang tahun terakhir, sebagian karena permintaan domestik yang jauh melampaui pasokan. Lonjakan harga minyak dan gas sebagai dampak perang Amerika Serikat dan Iran menambah tekanan inflasi domestik, karena kenaikan harga energi merembet ke banyak sektor lain.

Data indeks harga konsumen bulanan yang dijadwalkan terbit pekan ini diperkirakan menunjukkan inflasi naik ke 4,1 persen, sementara inflasi inti masih jauh di atas target tahunan Bank Sentral Australia yang berada di rentang 2 sampai 3 persen. Analis ANZ menyatakan eskalasi konflik di Timur Tengah dan kecenderungan bank sentral memandang kenaikan harga minyak sebagai guncangan inflasi, bukan guncangan pertumbuhan, membuat dua kenaikan suku bunga pada September dan November lebih mungkin daripada satu.

ANZ memperkirakan kenaikan 25 basis poin lagi pada November yang akan membawa suku bunga ke level tertinggi sejak 2008. Gubernur Bank Sentral Australia, Michele Bullock, pekan lalu memperingatkan bahwa inflasi Australia kemungkinan tetap berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, dan bahwa suku bunga tinggi serta pengangguran yang meningkat akan membantu menahan harga yang melambung.

Di sisi lain, dolar Amerika Serikat menguat karena pasar mencermati data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi, aktivitas manufaktur, dan laporan tenaga kerja Amerika Serikat. Pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat dan Presiden Tiongkok tidak banyak memengaruhi pasar mata uang, meski menghasilkan perpanjangan gencatan dagang selama dua bulan. Tidak ada terobosan jelas soal Iran maupun Taiwan, sehingga pertemuan itu dinilai lebih fokus pada stabilitas ketimbang pencapaian.

Bagi Australia, kombinasi suku bunga tinggi dan inflasi lengket menciptakan dilema. Di satu sisi, kebijakan ketat diperlukan untuk menambatkan ekspektasi inflasi jangka panjang. Di sisi lain, rumah tangga dan pelaku usaha menanggung biaya pinjaman yang makin mahal. Data pengangguran yang naik ke sekitar 4,6 persen memperlihatkan pasar kerja mulai melunak, meski penambahan tenaga kerja bulanan tetap cukup kuat.

Tim ekonom dari Commonwealth Bank of Australia, Westpac, ANZ, dan National Australia Bank menyelaraskan proyeksi mereka ke arah kenaikan suku bunga. Mereka menilai pengetatan segera diperlukan untuk menambatkan ekspektasi inflasi. Sementara itu, pelaku pasar beralih dari posisi spekulatif ke fokus pada panduan ke depan Gubernur Bullock soal suku bunga terminal pada siklus pengetatan ini.

Perhatikan juga posisi Australia sebagai eksportir komoditas. Pelemahan dolar Australia biasanya menaikkan daya saing ekspor, tetapi dalam situasi inflasi lengket, manfaat itu tertutup oleh biaya impor yang lebih mahal. Karena itu, bank sentral lebih memilih menahan inflasi meski harus menerima mata uang yang lebih lemah dalam jangka pendek.

Rilis data inflasi bulanan pekan ini akan menjadi penentu utama. Bila angka keluar lebih tinggi dari perkiraan 4,1 persen, peluang kenaikan suku bunga pada November meningkat. Sebaliknya, angka yang lebih rendah bisa memberi bank sentral ruang menunda pengetatan lanjutan tanpa mengorbankan kredibilitas target inflasi.

Perlu dicatat bahwa keputusan bank sentral Australia diumumkan pada 29 September, sehari setelah laporan pasar ini disusun. Reaksi mata uang biasanya paling tajam pada jam-jam pertama setelah pengumuman, ketika pelaku pasar menyesuaikan posisi mereka dengan isi pernyataan kebijakan dan konferensi pers pimpinan bank sentral.

Sumber: Investing.com melalui Yahoo Finance Australia, ForexFactory, dan keterangan Reserve Bank of Australia, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar