Kegagalan ini terjadi di tengah-tengah oposisi yang kuat dari berbagai pihak, termasuk sebagian besar anggota Partai Demokrat dan beberapa anggota Partai Republik. Senator Thom Tillis dari Partai Republik mengungkapkan bahwa dirinya sengaja berubah pendapat pada menit terakhir untuk memungkinkan pemungutan suara ulang di masa depan. Keputusan ini memberikan harapan kecil bahwa rancangan undang-undang ini masih dapat dihidupkan kembali, meskipun peluangnya sangat minim pada periode legislatif saat ini.
Kegagalan ini mengingatkan pada pengalaman sebelumnya dengan RUU GENIUS, yang juga gagal dalam mosi penutupan pembahasan serupa. Namun, berbeda dengan GENIUS, yang berhasil disahkan hanya 11 hari kemudian, CLARITY menghadapi hambatan yang lebih besar. Anggota Kongres dari Partai Demokrat Shri Thanedar, yang mendukung CLARITY di Dewan Perwakilan Rakyat, menyebut jadwal legislatif sebagai hambatan utama. Ia menilai bahwa waktu yang tersisa tidak cukup untuk menyelesaikan pembahasan yang masih menyisakan banyak perbedaan antarpartai.
Tujuh senator Demokrat yang menolak rancangan undang-undang ini menyatakan tetap berkomitmen untuk mengesahkan CLARITY pada suatu waktu. Senator Angela Alsobrooks menyebut pihaknya sudah siap mencapai kesepakatan dan terus berdiskusi hingga menjelang pemungutan suara. Namun, kepemimpinan Partai Republik menghentikan proses tersebut pada menit terakhir, menunjukkan bahwa perbedaan pendapat masih sangat besar.
Pejabat hukum utama NEAR, Abhishek Vaidyanathan, mencatat bahwa Dewan Perwakilan Rakyat sudah membatalkan dua pekan persidangan dan masa kerja daerah Senat dimulai pada 5 Oktober. Menurutnya, Kongres berikutnya menjadi peluang paling mungkin untuk membahas struktur pasar kripto. Vaidyanathan juga memperkirakan bahwa regulator Amerika Serikat akan terus bekerja keras untuk menerbitkan aturan-aturan baru yang akan mengisi kekosongan legislasi yang ada.
Kegagalan ini juga diikuti dengan pengumuman dari Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) mengenai kebijakan baru yang memungkinkan perdagangan terbatas saham Amerika Serikat yang ditokenisasi di blockchain publik terdesentralisasi. Kebijakan ini memberikan pengecualian berdurasi lima tahun bagi protokol-protokol tertentu, sehingga mereka tidak perlu mendaftar sebagai bursa efek. Namun, aturan ini tidak memberikan pengecualian bagi token saham sintetis yang tidak memberikan hak yang sama seperti saham tradisional. Ketentuan ini dinilai merugikan sebagian besar token saham yang diterbitkan oleh perusahaan seperti xStocks dan Robinhood.
Selain itu, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) juga mengumumkan keringanan regulasi bagi penyedia perangkat lunak pasif yang menghubungkan pengguna dengan perusahaan derivatif dan bursa teregulasi. Lembaga ini menyatakan bahwa mereka tidak akan merekomendasikan penindakan terhadap penyedia yang memenuhi syarat karena tidak mendaftar sebagai broker. Keputusan ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri perangkat lunak pasif yang sedang berkembang.
Standard Chartered dalam laporannya memperkirakan bahwa harga token Arbitrum atau ARB berpotensi naik hingga 70 kali lipat pada tahun 2030. Proyeksi ini muncul di tengah peralihan fokus industri dari Kongres ke regulator sebagai penentu arah aturan perdagangan aset kripto. Peralihan ini menunjukkan bahwa regulator akan memainkan peran yang lebih besar dalam mengatur pasar kripto di masa depan.
Kegagalan ini juga mengungkapkan perbedaan pendapat yang dalam antara berbagai pihak dalam industri kripto. Sementara sebagian besar pihak mendukung rancangan undang-undang yang lebih terstruktur, pihak lain masih mempertahankan pendapat bahwa regulasi yang lebih ringan lebih baik. Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa industri kripto masih dalam tahap perkembangan dan perlu waktu lebih untuk mencapai kesepakatan yang mutlak.
Dalam konteks yang lebih luas, kegagalan ini juga mengingatkan pada tantangan yang dihadapi oleh industri teknologi dalam mencari keseimbangan antara inovasi dan regulasi. Sementara industri kripto terus berkembang dengan cepat, regulasi yang tidak tepat dapat menghambat pertumbuhan dan inovasi. Oleh karena itu, penting untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara regulasi yang ketat dan regulasi yang ringan untuk mendukung pertumbuhan industri ini.
Sumber: Cointelegraph, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar