Kemendukbangga/BKKBN menyebut kasus infertilitas di Indonesia mencapai 10 sampai 15 persen dan mendorong pasangan mencari pendampingan medis sekaligus psikologis.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau BKKBN meminta masyarakat tidak takut menemui psikolog dalam merespons kasus infertilitas. Angka kasus gangguan kesuburan di Indonesia saat ini berada di kisaran 10 sampai 15 persen.
Angka 10 hingga 15 persen itu setara dengan 4 sampai 6 juta dari keseluruhan 46 juta pasangan usia subur di tanah air, demikian perhitungan yang merujuk data Kementerian Kesehatan tahun 2026. Perhitungan itu disampaikan Wahidin, pejabat bidang KB dan kesehatan reproduksi di kementerian tersebut.
Wahidin menyampaikan hal itu dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta pada Jumat, 25 September 2026. Menurutnya, seluruh keluarga yang mengalami kondisi tersebut perlu terfasilitasi dan terlayani dengan baik.
Layanan yang dimaksud mencakup kemudahan memperoleh informasi hingga pendampingan medis dan psikologis. Pendekatan itu berbeda dari cara pandang lama yang menganggap persoalan kesuburan semata urusan medis.
Ia menegaskan bahwa seiring transformasi lembaga, BKKBN tidak hanya berfokus pada pengendalian laju pertumbuhan penduduk. Lembaga itu juga membantu keluarga yang membutuhkan keturunan, sehingga perannya mencakup dua sisi sekaligus.
BKKBN juga menekankan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap isu infertilitas. Dalam upaya membangun ketahanan keluarga, lembaga itu mendorong pelayanan promotif, preventif, hingga pendampingan psikososial.
Dengan pendekatan itu, pasangan yang mengalami infertilitas diharapkan memperoleh penanganan yang presisi dan disampaikan dengan empati. Cara penyampaian dinilai penting karena persoalan kesuburan sering dianggap sebagai aib di sebagian masyarakat.
Lilik Aryani Falupi, penata madya di lembaga yang sama, menegaskan persoalan kesuburan tidak pernah menjadi beban medis di satu sisi saja. Menurutnya, jurang pemisah informasi mengenai kesuburan kerap membuat pasangan berkeluarga menunda terlalu lama sebelum akhirnya berjumpa dokter.
Karena itu, BKKBN mengoptimalkan peran tenaga lini lapangan dan penyuluh KB di daerah. Mereka diharapkan meyakinkan masyarakat agar tidak ragu berkonsultasi ke dokter spesialis maupun psikolog.
Dari sisi medis, peluang kehamilan alami pada pasangan subur sebenarnya hanya sekitar 15 hingga 25 persen per siklus. Angka itu menunjukkan bahwa kehamilan tidak selalu terjadi pada bulan pertama usaha, sehingga pasangan perlu memahami rentang waktu yang wajar.
Edukasi mengenai pola hubungan suami istri yang teratur tanpa terpaku pada kalkulasi masa subur dinilai penting. Pendekatan itu membantu mengurangi tekanan yang muncul ketika pasangan terlalu fokus menghitung hari.
Pengelolaan gaya hidup sehat juga menjadi bagian dari edukasi. Pola makan, berat badan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan kualitas tidur berpengaruh pada kesuburan, baik pada perempuan maupun laki-laki.
Pemahaman faktor penyebab infertilitas menjadi kunci sebelum menentukan tindakan lanjutan. Pemeriksaan perlu dilakukan pada kedua pihak, karena penyebabnya dapat berasal dari perempuan maupun laki-laki, atau kombinasi keduanya.
Dari perspektif psikologis, infertilitas membawa dampak mendalam berupa duka tak terlihat. Istilah itu merujuk pada kesedihan yang tidak selalu diakui atau dibicarakan secara terbuka oleh lingkungan sekitar.
Karena itu, pasangan perlu menjaga komunikasi terbuka dan membangun kesadaran emosional. Kemampuan mengenali dan menyampaikan perasaan membantu pasangan menghadapi tekanan tanpa saling menyalahkan.
Tekanan sosial menjadi faktor yang memperberat. Pertanyaan dari keluarga besar tentang kehadiran anak sering membuat pasangan merasa terpojok. Edukasi kepada lingkungan juga diperlukan agar tidak menambah beban pasangan yang sedang berusaha.
Layanan psikolog tidak hanya membantu mengatasi tekanan, tetapi juga membantu pasangan menyiapkan diri menghadapi pilihan pengobatan. Proses penanganan kesuburan umumnya berlangsung lama dan menuntut kesabaran serta biaya yang tidak kecil.
Bagi pasangan yang menjalani pengobatan, dukungan kelompok sebaya sering membantu. Bertemu pasangan lain dengan pengalaman serupa mengurangi rasa sendirian dan memberi informasi praktis yang tidak selalu tersedia di layanan medis.
Pemerintah menyatakan harapannya agar pemahaman masyarakat terhadap isu kesuburan meningkat. Dengan pemahaman yang lebih baik, pasangan diharapkan mencari bantuan lebih awal, bukan setelah bertahun-tahun mencoba sendiri tanpa panduan medis.
Sumber: ANTARA, 25 September 2026.
Bagi pasangan yang mengalami infertilitas, pemeriksaan awal dapat menentukan arah penanganan. Pemeriksaan meliputi kondisi kesehatan kedua pihak, sehingga pendekatannya komprehensif sejak awal.
Perubahan gaya hidup perlahan juga dapat membantu. Berhenti merokok, mengurangi minuman beralkohol, menjaga berat badan, serta menghindari tekanan berlebihan memberi dampak positif pada kondisi tubuh.
Layanan kesehatan pemerintah menyediakan konsultasi kesuburan bagi pasangan usia subur. Memanfaatkan layanan tersebut menjadi langkah awal yang dapat dilakukan tanpa perlu biaya besar.
Tidak ada komentar
Posting Komentar