Penjualan CD, piringan hitam, dan kaset tercatat naik meski streaming mendominasi, karena barang fisik memberi pengalaman dan rasa kepemilikan yang berbeda.
Di tengah kebiasaan mendengarkan musik lewat layanan streaming, kaset, cakram padat, piringan hitam, kamera lawas, dan berbagai perangkat analog justru kembali mendapat perhatian anak muda. Tren itu terlihat dari naiknya penjualan sejumlah format fisik.
Lembaga perdagangan rekaman Amerika Serikat mencatat cakram padat terjual 17,5 juta keping di negeri itu sepanjang paruh pertama 2026. Angka tersebut menanjak dari sekitar 12 juta keping pada rentang yang sama setahun sebelumnya.
Penjualan piringan hitam juga masih tumbuh. Kategori lain yang mencakup kaset dan sejumlah format fisik lainnya mencatat kenaikan lebih dari 70 persen, sehingga pertumbuhannya paling cepat dibanding kategori lain.
Meski begitu, streaming tetap menjadi sumber pendapatan terbesar industri musik. Artinya, kebangkitan format fisik tidak menggantikan layanan digital, melainkan berjalan berdampingan dengannya.
Hal yang paling mencolok: tak sedikit pembeli muda sama sekali belum memiliki alat perekam untuk menjalankan keping yang mereka beli. Ini menandakan kaset maupun cakram kini dipandang lebih sebagai benda koleksi dan lambang identitas, ketimbang sekadar alat pemutar musik.
Barang tersebut juga menjadi koleksi dan bagian dari identitas pemiliknya. Memajang album di rak atau memakainya sebagai aksesori memberi cara lain untuk menyatakan selera musik, berbeda dari sekadar menandai lagu favorit di aplikasi.
Alasan pertama adalah pengalaman yang tidak diberikan layanan digital. Streaming memang praktis karena jutaan lagu dapat diakses hanya dengan ponsel dan koneksi internet, tanpa perlu membawa koleksi fisik.
Namun, pengalaman memegang cakram, membuka kemasan album, melihat sampul, membaca buku kecil berisi catatan, hingga memasukkan cakram ke pemutar memberi kesan berbeda. Hal sederhana seperti memilih album dari rak lalu memutarnya dari awal sampai akhir membuat kegiatan mendengarkan terasa lebih disengaja.
Sejumlah pengamat melihat ketertarikan terhadap media fisik berkaitan dengan keinginan konsumen memperoleh pengalaman yang lebih nyata. Mereka ingin tidak sepenuhnya bergantung pada layanan digital yang dapat berubah atau dihentikan kapan saja.
Alasan kedua adalah barang fisik terasa lebih personal. Ketika hampir seluruh koleksi musik berada di dalam aplikasi, memiliki album dalam bentuk fisik memberi rasa kepemilikan yang berbeda karena bendanya nyata dan dapat dipegang.
Cakram atau kaset juga dapat menjadi representasi selera pemiliknya. Koleksi yang tersusun di rak memperlihatkan minat seseorang secara terbuka, sesuatu yang tidak terjadi pada daftar putar yang tersimpan di dalam ponsel.
Alasan ketiga berkaitan dengan nilai koleksi. Sejumlah edisi dirilis dalam jumlah terbatas atau dengan kemasan khusus, sehingga menarik bagi penggemar yang ingin memiliki barang yang tidak dimiliki semua orang. Kelangkaan itu menambah nilainya di mata kolektor.
Alasan keempat adalah faktor kenangan. Bagi sebagian anak muda, kaset dan cakram padat mewakili era yang tidak mereka alami, tetapi terasa menarik karena dianggap lebih sederhana. Ketertarikan pada masa lalu itu menjadi bagian dari gaya hidup.
Alasan kelima berkaitan dengan reaksi terhadap kecepatan. Layanan digital menawarkan akses tanpa batas dan pergantian lagu dalam hitungan detik. Sebagian pendengar justru mencari pengalaman yang lebih lambat dan terbatas agar menikmati musik secara lebih utuh.
Dari sisi produsen, tren ini membuka peluang baru. Merilis album dalam format fisik memberi pendapatan tambahan di luar streaming, sekaligus menjadi barang yang dapat dijual langsung pada pertunjukan musik.
Bagi musisi, edisi fisik juga menjadi cara mempererat hubungan dengan penggemar. Album dengan tanda tangan atau kemasan khusus menjadi barang yang dikenang, sesuatu yang tidak dapat disamai oleh tautan lagu.
Dari sisi teknologi, pemutar kaset dan cakram padat masih diproduksi meski jumlahnya terbatas. Sejumlah pabrik kembali menjalankan lini produksi lama untuk memenuhi permintaan, setelah sempat menghentikannya ketika penjualan menurun tajam.
Persoalan yang menyertai tren ini adalah harga. Sebagian album fisik dijual dengan harga lebih tinggi dibanding biaya berlangganan layanan musik selama berbulan-bulan. Pembeli perlu menilai apakah nilai koleksinya sebanding dengan harga yang dibayar.
Terlepas dari alasan masing-masing pembeli, pola ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu menghapus teknologi lama. Sebuah format dapat bertahan bukan karena lebih praktis, tetapi karena memberi sesuatu yang tidak diberikan penggantinya.
Sumber: ANTARA, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar