Banjir Gletser Nepal Tewaskan 1.450 Orang, UNICEF: 17.000 Anak Butuh Dukungan Jiwa

17.000 Anak Nepal Butuh Dukungan Jiwa

Tiga pekan setelah banjir bandang akibat runtuhnya gletser di utara Nepal, UNICEF mencatat sekitar 17.000 anak membutuhkan dukungan kesehatan mental mendesak. Air bah pada 26 Agustus menyerang lebih dari 84.000 warga dan angka korban tewas menembus 1.450 orang.

Banjir bandang yang dipicu runtuhnya gletser pada 26 Agustus lalu melanda tiga distrik di utara Nepal, yaitu Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading. Air bah mengikis jalur sungai sepanjang kawasan itu dan menerjang permukiman tepat pada jam anak-anak hendak masuk sekolah.

Gelombang pertama datang sekitar pukul 08.37 waktu setempat, ketika sejumlah besar anak sedang berada di jalan menuju sekolah. Banyak di antara mereka menyaksikan rumah dan sekolah sendiri hancur dalam hitungan menit.

Banjir menewaskan lebih dari 1.450 orang di sisi Nepal, sementara lebih dari 6.000 orang masih dinyatakan hilang. Di sisi perbatasan Tibet, pemerintah China mencatat setidaknya 43 orang tewas dan 519 orang belum ditemukan.

UNICEF memperkirakan lebih dari 84.000 warga terdampak, dengan sekitar 32.000 di antaranya anak-anak. Jalur jalan, sekolah, jaringan listrik, dan sistem air di tiga distrik itu mengalami kerusakan berat.

Tiga pekan berselang, UNICEF menyatakan sekitar 17.000 anak di kawasan terdampak membutuhkan dukungan kesehatan mental dan psikososial mendesak. Sebanyak 541 anak diketahui masih terpisah dari keluarganya dan membutuhkan perlindungan khusus.

Banyak anak menyaksikan kehilangan orang terdekat serta keruntuhan sekolah mereka sendiri. Sebagian bahkan tidak sanggup bercerita tentang apa yang mereka alami, sementara sebagian lain masih hidup terpisah dari komunitas asalnya.

Perwakilan UNICEF untuk Nepal, Alice Akunga, menyebut banjir ini meninggalkan luka emosional yang tak kasat mata pada anak dan keluarga. Menurutnya, dukungan kesehatan mental harus berjalan beriringan dengan pengiriman bantuan dan pemulihan infrastruktur penting.

Seorang dokter di rumah sakit Nuwakot, Shitanshu Dhakal, menggambarkan trauma pada anak terdampak sebagai beban yang tak terlihat. Ia menegaskan anak harus berada di pusat respons kesehatan, dimulai dengan pertolongan pertama psikologis agar dukungan berkelanjutan tetap tersedia.

Bukti ilmiah menunjukkan intervensi dini sangat menentukan. Penanganan masalah kesehatan mental sejak awal dapat mencegah stres akut berubah menjadi gangguan kronis seumur hidup.

Di lapangan, UNICEF bekerja bersama pemerintah Nepal dan mitra untuk melacak keluarga serta mempertemukan kembali anak dengan orang tua. Delapan belas anak telah dipertemukan dengan keluarganya dan 13 ruang ramah anak didirikan untuk pendampingan.

UNICEF juga menyiapkan pengasuhan keluarga alternatif bagi anak yang kehilangan orang tua sekaligus. Tim pemantau bergerak mengenali anak berisiko dan mencegah mereka menjadi korban eksploitasi selama masa darurat.

Badan pangan PBB, WFP, ikut menyalurkan bantuan dengan helikopter ke sejumlah kawasan terpencil yang terputus aksesnya. Pengiriman udara diperlukan karena jalan menuju distrik terdampak masih tertutup longsoran material.

Dana pendidikan darurat PBB, Education Cannot Wait, mengalokasikan satu juta dolar untuk menjangkau 17.000 anak. Dari jumlah itu, 5.000 anak menerima dukungan pendidikan dan perlindungan, sedangkan 12.000 lainnya mendapat program pengurangan risiko.

Sembilan sekolah dilaporkan rusak berat atau hancur akibat banjir. Education Cannot Wait menyatakan sistem pendidikan Nepal membutuhkan tambahan dana dari pemerintah, yayasan, dan sektor swasta agar bisa dibangun kembali sepenuhnya.

Direktur pendidikan lembaga itu, Maysa Jalbout, mengingatkan bencana terkait iklim makin sering mengganggu pendidikan anak. Karena itu, krisis sementara tidak boleh berubah menjadi kehilangan belajar yang menetap.

Sebelumnya, UNICEF sudah memperingatkan sekitar 22.000 anak membutuhkan air bersih, sanitasi, dan higienitas darurat hanya beberapa hari setelah banjir. Kebutuhan dasar itu bertahan lama setelah air surut.

Pejabat PBB di Kathmandu menekankan bahwa Nepal termasuk negara yang paling sedikit menyumbang perubahan iklim, namun kini menanggung akibat paling mematikan. Ketidakadilan itu menjadi latar yang tak terhindarkan dalam setiap pembicaraan pemulihan.

Bagi keluarga yang kehilangan anak dalam banjir itu, pertolongan yang datang kini bukan hanya soal tenda dan makanan, melainkan soal bagaimana anak yang selamat belajar merasa aman kembali. Pekerjaan itu berjalan jauh lebih lambat daripada membangun jalan.

Jalan dan jembatan yang putus membuat bantuan darat sulit menjangkau distrik terdampak selama berhari-hari. Pengiriman lewat udara menjadi satu-satunya pilihan untuk mengirim bahan pangan dan obat ke kawasan yang terputus.

Bagi anak yang selamat, kembali ke sekolah menjadi penanda pertama bahwa kehidupan mulai berjalan normal. Itulah sebabnya pemulihan ruang belajar ditempatkan sejajar dengan perbaikan jalan dan rumah.

Sumber: UN News, WFP, dan The Hindu, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar