BP BUMN Apresiasi Kinerja Bulog Jaga Ketahanan Pangan Nasional Sepanjang Tahun

Rice Harvest and NRCS-EQIP-Land Leveling at 3S Ranch (20200724-NRCS-LSC-0271).jpg

EraAIdailyNews, 21 September 2026 — Badan Pengaturan BUMN atau BP BUMN menyampaikan apresiasi kepada Perum Bulog atas kinerja perusahaan itu dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Penilaian tersebut disampaikan di Jakarta pada Senin, dengan menyoroti capaian serapan hasil panen petani dalam negeri yang hampir menyentuh seluruh target penugasan pemerintah pada tahun berjalan.

Apresiasi itu datang dari Direktur Pengelolaan Perum BP BUMN M Khoerur Roziqin. Dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin, ia menilai pencapaian Bulog bukan sekadar angka di atas kertas. Menurut dia, capaian serapan yang hampir menyentuh 100 persen menunjukkan komitmen Perum Bulog untuk hadir bagi petani di berbagai daerah, termasuk di wilayah yang jaraknya jauh dari pusat pembelian dan infrastrukturnya serba terbatas.

Kedudukan Bulog dalam tata niaga pangan Indonesia terbilang khas. Perusahaan ini bukan sekadar membeli gabah dan beras, melainkan juga memikul tanggung jawab memastikan stok selalu tersedia dan harga tidak bergejolak sepanjang tahun. Karena itu, tugas yang diemban Perum Bulog merentang dari hulu hingga hilir demi menjamin ketersediaan sekaligus kestabilan pangan nasional. Di ujung hulu, Bulog hadir di sawah menanti panen petani; di ujung hilir, beras disalurkan ke gudang, pasar, dan rumah tangga penerima bantuan.

Perum Bulog dipandang mampu menjalankan dua peran strategis dalam waktu bersamaan. Peran pertama menyerap hasil panen petani dalam negeri, peran kedua menyalurkan pangan kepada masyarakat, entah lewat program stabilisasi harga maupun bantuan pangan pemerintah. Dua peran itu sebenarnya kerap saling bertolak belakang. Menyerap dalam jumlah besar berarti kas negara terkuras dan gudang menumpuk, sedangkan penyaluran yang cepat membuat cadangan menyusut. Menjaga keduanya tetap seimbang pada waktu yang sama bukan pekerjaan gampang.

Dari sisi pengadaan, Perum Bulog sejauh ini sudah menyerap lebih dari 3,9 juta ton setara beras, setara 99 persen dari target penugasan 4 juta ton. Serapan itu bersumber dari 7,7 juta ton gabah kering panen atau GKP ditambah 35,8 ribu ton beras. Beda bobot antara gabah dan beras merupakan hal lumrah, sebab butiran padi masih membawa kulit serta kadar air ketika ditimbang di tingkat petani, lalu bobotnya berkurang setelah digiling.

Khoerur menegaskan, tiap ton gabah yang masuk berarti jaminan pasar dan harga bagi petani, sekaligus menebalkan cadangan beras pemerintah. Bagi petani, kepastian semacam itu menentukan langkah berikutnya: menyimpan hasil panen sambil menanti harga membaik, atau langsung menjualnya. Ketika Bulog membeli dengan lancar, gabah tidak mengendap di tangan tengkulak dan petani terhindar dari keharusan melepas dagangan di harga terendah tepat saat panen raya.

Dari sisi penyaluran, Perum Bulog sudah mengucurkan lebih dari 810 ribu ton beras lewat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP, atau 98 persen dari target 828 ribu ton. Program SPHP dinilai memegang peran penting dalam menjaga harga beras tetap terjangkau bagi konsumen sehingga daya beli masyarakat tidak tergerus. Mekanismenya tidak rumit: beras dari cadangan pemerintah dilepas ke pasar secara terus-menerus agar lonjakan harga bisa ditahan sebelum melampaui batas wajar.

Tingkat penerimaan penyaluran Bantuan Pangan untuk periode Februari-Maret 2026 tercatat 99,7 persen, yang berarti Perum Bulog telah merampungkan tahap ini. Beras sebanyak 662 ribu ton dan minyak goreng 133 ribu liter sudah sampai ke tangan Penerima Bantuan Pangan atau PBP. Angka penerimaan yang hampir sempurna itu penting, karena penyaluran yang tercatat berjalan belum tentu berarti bantuan benar-benar tiba di alamat yang dituju.

Adapun penyaluran Bantuan Pangan periode Juli-September 2026 sudah menyentuh 682 ribu ton. Jumlah itu setara 68,44 persen dari pagu yang ditetapkan, yakni 997 ribu ton. Sisanya masih terbuka lantaran periode tersebut belum berakhir. Setelah itu, Perum Bulog kembali menerima penugasan dari pemerintah. Kali ini untuk menyalurkan Bantuan Pangan periode Oktober-Desember 2026, dengan rencana sebesar 997 ribu ton beras. Penugasan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah mempertahankan daya beli masyarakat dan kestabilan harga pangan sampai akhir tahun di seluruh wilayah.

BP BUMN menyatakan mendukung penuh penugasan untuk periode Oktober-Desember 2026 itu. Khoerur menyebut cadangan beras dari serapan dalam negeri yang kokoh membuat pihaknya percaya diri bahwa Perum Bulog sanggup menyalurkan bantuan dengan sasaran, jumlah, dan waktu yang tepat. Ketiga ukuran itu memang jadi persoalan klasik bantuan pangan: stok mencukupi belum menjamin distribusi tertata, dan distribusi yang tertata belum tentu menjangkau mereka yang paling memerlukan. Karena itu BP BUMN berjanji terus mengawal agar pelaksanaannya berjalan sebaik mungkin.

Menurut Khoerur, keberhasilan itu tidak terlepas dari kerja sama yang erat dengan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Keuangan. Sinergi juga dibangun bersama Badan Pangan Nasional, BP BUMN, TNI, dan Polri. Pelibatan aparat keamanan umumnya berkaitan dengan pengawalan distribusi ke daerah terpencil serta penindakan terhadap pihak yang menahan atau mempermainkan stok. Ia menegaskan BP BUMN akan senantiasa menopang Perum Bulog menjalankan perannya sebagai penopang utama ketahanan pangan nasional guna mewujudkan swasembada pangan.

Sumber: Antara, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar