Sepuluh pekan setelah gempa ganda berkekuatan 7,2 dan 7,5 menghantam Venezuela, jumlah korban tewas dilaporkan menembus 6.300 orang. Puluhan ribu warga masih hilang, sementara dana beku dan jaringan rumah sakit yang rapuh memperlambat pemulihan.
Venezuela hingga kini masih berjuang memulihkan diri dari gempa ganda yang mengguncang wilayah utaranya pada 24 Juni 2026. Dua gempa berkekuatan besar terjadi berselang sekitar 40 detik satu sama lain dalam kejadian langka yang disebut doublet.
Gempa pertama berkekuatan 7,2 berpusat dekat kota San Felipe, ibu kota negara bagian Yaracuy. Sekitar 40 detik kemudian, gempa kedua yang lebih besar, 7,5, menghantam wilayah tenggara kota Yumare.
Para ahli seismologi menyebut gempa itu sebagai yang terbesar yang pernah menghantam Venezuela dan terkuat dalam 125 tahun terakhir. Badan ahli geologi Amerika Serikat mencatat kedalaman pusat gempa sekitar 10 kilometer.
Getaran mengikis pesisir Karibia Venezuela dengan kekuatan yang menghancurkan. Kota pelabuhan bersejarah La Guaira yang berpenduduk sekitar 200.000 orang ditetapkan sebagai zona bencana.
Di ibu kota Caracas yang berjarak sekitar 30 kilometer dari La Guaira, bangunan-bangunan runtuh di kawasan Altamira, San Bernardino, Baruta, dan Chacao. Bandara nasional Maiquetia ikut ditutup karena kerusakan berat.
Pada awal kejadian, pemerintah menyebut setidaknya 32 orang tewas dan 700 orang terluka. Angka itu adalah penjelasan pertama yang diberikan pihak berwenang mengenai korban dari dua gempa beruntun itu.
Sejak itu, angka korban meningkat jauh lebih besar. Pertemuan Agustus lalu menyebut gempa Juni telah menewaskan lebih dari 6.300 orang, sementara sekitar 30.000 warga masih tercatat hilang. Badan ahli geologi Amerika memperkirakan korban tewas bisa mencapai 10.000 orang.
Dampak seberat itu tak lepas dari rapuhnya infrastruktur Venezuela. Diperkirakan dua pertiga warga tinggal di rumah tak resmi, sisa urbanisasi kilat pada 1960-1970-an dan kekurangan rumah yang menyusul.
Venezuela memang duduk di batas lempeng Karibia dan Amerika Selatan, sehingga guncangan kecil menjadi rutin. Namun pengalaman doublet berkekuatan 7,2 dan 7,5 hanya berjarak 40 detik adalah ketidakberuntungan yang langka.
Kemampuan negara menanggapi bencana ikut termakan krisis kemanusiaan yang sudah lebih dulu berjalan. Inflasi tinggi, kelangkaan barang, dan represi protes membuat sekitar seperempat penduduk meninggalkan negeri dalam beberapa tahun terakhir.
Ketahanan ekonomi Venezuela juga tertekan sanksi minyak dan keuangan Amerika yang berat. Selama sembilan tahun, negeri itu terputus dari pasar keuangan dan energi, sementara ekspor impornya terhambat.
Gabungan sanksi dan kelalaian investasi pada infrastruktur serta jasa yang dinasionalisasi membuat masalah menumpuk di seluruh sektor publik. Rumah sakit kekurangan obat, tenaga, listrik, dan air bahkan sebelum gempa melanda.
Kondisi itu menjelaskan mengapa angka korban melonjak setelah hitungan awal. Banyak korban tidak sempat tertolong karena fasilitas kesehatan terdekat lumpuh, sementara jalan menuju kawasan terdampak tertutup reruntuhan.
Pemulihan dana pun menjadi bagian persoalan. Pada Agustus lalu, pemerintah sementara dan oposisi menggelar putaran pertama perundingan yang antara lain membahas pengambilan kembali dana Venezuela yang dibekukan di luar negeri untuk membiayai pemulihan pasca gempa.
Selain dana, reformasi peradilan juga masuk agenda perundingan. Kedua pihak membahas penataan lembaga peradilan sebagai bagian dari penataan setelah peralihan kekuasaan awal tahun ini.
Venezuela kini berada di bawah pemerintahan sementara setelah penggulingan Presiden Nicolas Maduro secara militer pada Januari. Pemerintah sementara di bawah Wakil Presiden Delcy Rodriguez kemudian mengeluarkan undang-undang amnesti pada Februari.
Pembebasan tahanan politik berjalan bertahap. Akhir pekan lalu, 39 tahanan politik dibebaskan dari berbagai penjara dalam putaran kedua perundingan yang difasilitasi Amerika Serikat. Kelompok pemantau Foro Penal mencatat 344 orang masih berstatus tahanan politik pada 18 September.
Proses itu menempatkan pemulihan bencana di tengah agenda politik yang rumit. Pemerintah sementara menghadapi tuntutan pemulihan sekaligus tekanan politik dalam dan luar negeri, sementara warga terdampak menunggu hasil yang nyata.
Bagi warga terdampak gempa, persoalan utama tetap berupa rumah, sekolah, dan pekerjaan yang belum pulih. Bantuan internasional dan dana beku menjadi sumber yang diandalkan untuk membiayai pembangunan kembali.
Operasi pencarian korban di awal kejadian difokuskan pada penyelamatan orang yang terjebak di reruntuhan. Tim menghadapi bangunan yang roboh sekaligus akses jalan yang terputus akibat pergerakan tanah.
Pemerintah menetapkan La Guaira sebagai zona bencana tidak lama setelah gempa. Penetapan itu membuka jalur bantuan darurat, namun pemulihan permanen dinilai akan memakan waktu bertahun-tahun.
Sumber: Al Jazeera, Tempo, dan The Conversation, 25-27 September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar