Ilmuwan Temukan Alasan Embrio Ular Melingkar Membentuk Spiral

A close up of a coiled up Corn snake on the grass. (00f0e1dc-b4b7-4ab6-b124-bcddd284a68e).jpg

EraAIdailyNews, 22 September 2026 — Embrio ular memulai hidupnya dengan tubuh terpilin membentuk spiral khas yang mengarah ke kanan. Setelah sekian lama menjadi teka-teki, ilmuwan kini memiliki penjelasan yang didukung bukti fisik tentang bagaimana bentuk tersebut muncul di dalam telur.

Temuan yang diterbitkan di jurnal Current Biology itu menunjukkan spiral kemungkinan terbentuk saat tubuh embrio memanjang sangat cepat, sementara usus tumbuh lebih lambat dan berperan sebagai penambat. Ketidaksesuaian laju pertumbuhan menciptakan kendala mekanis: tubuh yang terus bertambah panjang mengalami tekukan dan akhirnya terpilin menjadi gulungan kanan. Temuan ini juga memberi petunjuk tentang cara embrio mengakomodasi tubuh luar biasa panjang yang menjadi ciri pembeda ular dibandingkan vertebrata lain.

Dr. Tetsuto Miyashita menggambarkan proses itu seperti menyesuaikan panjang sebuah tali: sisi lingkaran yang lebih panjang dan mengalami tekukan akan berputar atau memilin. Prinsip fisik serupa, menurut ahli biologi evolusi Canadian Museum of Nature tersebut, berlaku pada tubuh embrio yang terus memanjang. Weber, kini mahasiswa pascasarjana zoologi di University of British Columbia, mengatakan spiral tetap menyimpan sedikit misteri. Para ilmuwan baru mulai memahami pembentukan bentuk berulang di alam, termasuk usus manusia yang berkelok, cangkang siput, dan embrio ular.

Proyek ini bermula dari keadaan tidak biasa selama pembatasan COVID pada 2020. Miyashita bekerja dari rumah dan mencari pertanyaan riset yang dapat ditelaah mahasiswanya tanpa akses ke laboratorium maupun koleksi museum. Gagasan muncul ketika ia teringat minatnya terhadap asimetri bentuk hewan, warisan intelektual dari pembimbing doktornya. Setiap melihat gambar embrio ular dalam publikasi ilmiah, ia bertanya apakah pilinannya berarah kanan atau kiri.

Miyashita kemudian meminta Weber, yang saat itu berada di Carleton University, serta dua mahasiswa sarjana University of Ottawa untuk menelusuri penelitian terbitan dan basis data museum. Mereka mencari foto ular pada tahap perkembangan embrio, lalu mencatat arah gulungan yang terlihat.

Dari pencarian itu, tim memperoleh gambar lebih dari 900 embrio yang mewakili 39 spesies ular serta squamata tak berkaki lainnya. Miyashita menilai jumlah tersebut merupakan sampel kuat secara statistik untuk menarik kesimpulan. Skala data memungkinkan pola yang mungkin terlewat dalam pengamatan kecil terlihat lebih jelas.

Pola itu memang muncul tegas. Selama beberapa minggu pertama setelah telur diletakkan, embrio tampak hanya memilin ke kanan atau dextral jika diamati dari kepala menuju ekor. Pada tahap tersebut, embrio belum memiliki otot untuk bergerak secara aktif. Karena itu, peneliti menduga gaya lain dalam perkembangan tubuhlah yang menghasilkan putaran kanan, bukan pilihan gerakan sadar.

Petunjuk penting datang dari Dr. Raul Diaz, kolaborator di California State University Los Angeles. Melalui citra CT, Diaz mengamati anatomi embrio secara lebih rinci. Pemindaian memperlihatkan struktur yang belum pernah dilihat tim: semacam tiang usus yang membentang di tengah spiral tubuh. Usus itu berada terpisah dari bagian tubuh lainnya dan dikelilingi untaian pembuluh darah dari kuning telur.

Observasi tersebut memberi mekanisme yang dicari. Tubuh embrio harus memanjang cepat untuk menghasilkan bentuk ular yang sangat lonjong, tetapi usus tidak tumbuh pada laju yang sama. Usus yang tumbuh lebih lambat kemudian berfungsi sebagai penambat bagi tubuh yang terus bertambah panjang. Tekanan mekanis membuat tubuh menekuk dan berputar, sementara arah gaya mendorong pertumbuhan ke sisi yang berlawanan dengan kuning telur.

Arah konsisten muncul karena posisi kuning telur. Dalam pengamatan tim, kuning telur selalu berada di sisi kiri embrio. Ketika tubuh terdorong ke sisi berlawanan, gulungan awal pun secara alami mengarah ke kanan bila dilihat dari kepala menuju ekor. Dengan kata lain, arah pilinan awal embrio ditentukan oleh susunan anatomi dan kendala fisik selama perkembangan.

Susunan kanan tersebut tidak permanen sepanjang perkembangan. Seiring pertumbuhan, ukuran kuning telur mengecil sehingga embrio memperoleh lebih banyak ruang untuk mengubah posisi. Otot mereka juga matang dan memungkinkan gerakan mandiri. Sebagian embrio tetap melingkar ke kanan, sedangkan sebagian lain menarik kembali tubuhnya ke sisi kiri. Menjelang penetasan, sekitar setengah berada dalam gulungan kanan dan setengahnya lagi kiri.

Hasil ini menunjukkan bahwa arah pilinan paling awal lebih kuat ditentukan oleh anatomi perkembangan dan gaya mekanis daripada gerakan otot yang disengaja. Temuan tersebut memperluas pemahaman tentang bagaimana tubuh sangat panjang dapat diatur di dalam ruang telur yang terbatas. Model mekanis ini juga membuka kemungkinan untuk menyelidiki struktur spiral lain pada makhluk hidup.

Bagi Miyashita, studi ini juga memperlihatkan bahwa pertanyaan pengamatan sederhana dapat menghasilkan wawasan biologis yang luas. Selama ini, banyak penelitian tentang evolusi bentuk tubuh ular berfokus pada kajian genetik mendalam, termasuk gen Hox dan enhancer. Penemuan terbaru justru berawal dari cara yang sederhana: menelusuri album foto embrio, mencatat arah pilinan, lalu mencermati anatominya.

Tim penelitian melibatkan ilmuwan, mahasiswa, dan profesor dari Canadian Museum of Nature, University of British Columbia, Carleton University, University of Ottawa, California State University Los Angeles, dan University of Helsinki. Weber menilai perjalanan riset yang dimulai dengan rasa ingin tahu tentang “tangan” embrio ular itu akhirnya membawa pada pemahaman lebih dalam tentang evolusi mereka.

Sumber: ScienceDaily, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar