Iran mengajukan rencana tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulai pembicaraan program nuklir. Syaratnya mencakup pencabutan pembekuan aset dan perintah agar Israel menghentikan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon.
Iran mengajukan rencana ambisius kepada Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari dan memulai kembali pembicaraan program nuklir. Rencana itu disampaikan dalam pertemuan antara diplomat Iran dan utusan khusus Amerika Serikat di New York pekan ini.
Dalam pertemuan berdurasi tiga jam itu, Iran menyampaikan kerangka waktu tujuh hari yang dirancang untuk segera meredakan tekanan di pasar energi global. Penutupan sebagian Selat Hormuz telah mengganggu jalur pelayaran internasional dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Sebagai imbalan atas pembukaan selat, Iran menuntut Amerika Serikat mencabut pembekuan aset Iran dan mengizinkan negara itu mengekspor minyaknya. Syarat yang dianggap paling sulit adalah perintah kepada Perdana Menteri Israel agar mengakhiri serangan terhadap Hizbullah di Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa negaranya telah menyelesaikan pekerjaan diplomatik pendukung. China diminta untuk memberikan dukungan terhadap rencana tersebut, sementara Oman yang terletak di sisi selatan selat juga dilibatkan dalam proses konsultasi.
Para diplomat Iran menyebut pertemuan dengan utusan Amerika Serikat berlangsung produktif. Namun mereka tetap pesimis bahwa Amerika Serikat akan memenuhi seluruh syarat yang diajukan, terutama terkait tekanan terhadap Israel untuk menghentikan operasi militernya di Lebanon.
Para analis menilai rencana Iran merupakan manuver diplomatik yang cerdas. Dengan menawarkan solusi cepat atas krisis energi global, Iran menempatkan diri dalam posisi tawar yang kuat menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat di mana harga bensin menjadi isu sensitif bagi pemilih.
Dampak penutupan Selat Hormuz terhadap perekonomian global sudah sangat terasa. Jalur itu merupakan arteri perdagangan minyak terpenting di dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melewatinya setiap hari. Gangguan terhadap aliran minyak berdampak langsung pada harga energi di seluruh dunia.
Amerika Serikat sendiri menghadapi dilema politik yang rumit. Di satu sisi, pembukaan kembali selat akan memberikan keringanan bagi harga energi domestik. Di sisi lain, memenuhi tuntutan Iran akan dianggap sebagai konsesi berat yang berisiko menimbulkan kritik dari sekutu regional, terutama Israel dan Arab Saudi.
Situasi ini mengingatkan pada dinamika Perang Dingin ketika negara-negara kecil memanfaatkan persaingan kekuatan besar untuk mendapatkan konsensi. Iran kini bermain di persimpangan kepentingan Amerika Serikat, China, dan sekutu-sekutu regionalnya.
Perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan apakah rencana tujuh hari ini dapat terlaksana atau hanya menjadi manuver diplomatik tanpa hasil nyata.
Rencana tersebut disusun berdasarkan unsur-unsur nota kesepahaman Iran-Amerika Serikat yang ditandatangani pada Juni. Iran menilai Amerika Serikat kini kurang menyukai nota kesepahaman itu, sehingga unsur-unsurnya dikemas ulang dan dipercepat menjadi kerangka waktu tujuh hari yang lebih ringkas.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menjelaskan bahwa gagasan tersebut dibawa lebih dulu ke China untuk memperoleh dukungan. Oman, yang wilayahnya berada di sisi selatan selat, juga dipastikan sejalan dengan rencana itu. Dukungan dua negara dinilai penting agar proposal tidak dianggap sebagai inisiatif sepihak.
Bagi Amerika Serikat, pencabutan pembekuan aset dan izin ekspor minyak Iran merupakan konsesi yang secara politik sensitif. Yang paling sulit adalah permintaan agar Washington memerintahkan Israel menghentikan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon. Syarat itu menyentuh hubungan aliansi yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari. Gangguan pada jalur itu berdampak langsung pada harga energi, biaya angkut, dan inflasi di banyak negara pengimpor. Karena itu, pembukaan kembali selat menjadi kepentingan ekonomi global, bukan hanya dua negara yang berselisih.
Harga minyak dunia sempat naik sekitar tiga persen dalam perdagangan yang bergejolak. Harga kemudian turun dari puncak sesi setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran membahas pembukaan kembali Selat Hormuz. Pasar energi bergerak mengikuti setiap kabar dari meja perundingan.
Tekanan waktu menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat menambah rumit posisi Washington. Harga bahan bakar menjadi isu sensitif bagi pemilih, sementara memenuhi tuntutan Iran berisiko memicu kritik dari sekutu regional. Keputusan dalam beberapa hari ke depan akan menunjukkan arah kebijakan yang dipilih.
Sumber: The Guardian, 25 September 2026.

Tidak ada komentar
Posting Komentar