Ledakan yang meruntuhkan bangunan dua lantai di kawasan bersejarah Plaka, Atena, menewaskan enam orang: dua pasangan wisatawan Amerika dan pasangan lanjut usia Inggris-Yunani. Dugaan sementara adalah kebocoran gas besar, sementara warga sudah setahun lebih memperingatkan risiko itu.
Ledakan yang meruntuhkan sebuah bangunan dua lantai di kawasan bersejarah Plaka, Atena, menewaskan enam orang. Tim penyelamat menemukan seluruh korban pada Sabtu, lebih dari sehari setelah ledakan dini hari Jumat.
Dokumen dan barang pribadi yang ditemukan bersama empat korban menunjukkan mereka adalah warga Amerika Serikat, menurut lembaga penyiaran negara Yunani ERT dan media lokal lainnya. Keempatnya adalah dua pasang suami-istri, dua bersaudara dengan masing-masing istri.
Keempat wisatawan itu menginap di sewa jangka pendek di lantai satu. Mereka dijadwalkan terbang kembali ke Amerika pada Jumat, hanya beberapa jam setelah ledakan. Kegagalan mereka muncul di penerbangan yang sudah didaftarkan sehari sebelumnya menjadi petunjuk penyelidik.
Dua korban lainnya adalah pasangan lanjut usia berusia 77 dan 78 tahun, pria Inggris dan istrinya perempuan Yunani, yang tinggal di lantai dua. Pria itu digambarkan sebagai seniman berbakat yang mengalami gangguan mobilitas.
Layanan pemadam kebakaran menyatakan keenam jenazah terdiri atas tiga perempuan dan tiga laki-laki, namun belum mengumumkan identitas. Wakil walikota Paris Charlaftis menyebut jenazah dibawa ke kamar mayat untuk pemeriksaan pasca mati.
Wali kota Atena, Haris Doukas, menyebut ledakan itu diduga kuat dipicu kebocoran gas besar. Menurutnya, kerusakan membentang ke seluruh jalan dan jalan di belakangnya, dan ia menyebut peristiwa itu bencana yang sulit dibayangkan.
Bangunan tetangga ikut rusak dan dievakuasi. Dua bangunan yang rusak berat mungkin harus dibongkar. Charlaftis menyebut fokus penyelidikan kini pada penyebab ledakan: apa yang bisa meruntuhkan bangunan dalam hitungan detik.
Tim penyelamat mengerahkan kamera termal dan geofon, alat pendeteksi frekuensi bawah tanah, untuk mencari tanda hidup di bawah reruntuhan. Alat berat dan anjing pelacak khusus digerakkan sepanjang malam menyisir tumpukan puing.
Dua perempuan terluka di bangunan sebelah di Jalan Lysikratous, menurut layanan pemadam kebakaran. Rekaman di lokasi memperlihatkan puing berserakan di jalan dan mobil terparkir remuk tertimpa reruntuhan.
Ledakan terjadi di Plaka, kawasan di kaki Akropolis yang paling padat wisatawan. Rumah-rumah bersejarah di kawasan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung dari seluruh dunia.
Surat dari kelompok warga yang dimuat harian Kathimerini memperlihatkan bahwa setahun lalu penduduk sudah memperingatkan pemerintah kota serta pengelola jaringan listrik dan gas soal risiko korsleting atau kebocoran gas.
Warga saat itu bahkan meminta diselenggarakannya simulasi darurat untuk menguji kelemahan sistem tanggap kebakaran. Gerakan warga juga menyebut seorang penghuni jalan kejadian sudah berminggu-minggu melaporkan bau gas kepada pihak berwenang.
Pemilik apartemen lantai dasar mengatakan kepada Kathimerini bahwa ia tidak berada di lokasi ketika ledakan terjadi. Pemadam kebakaran mengerahkan 30 personel dan tiga anjing pelacak dalam operasi pencarian.
Kepolisian Yunani membuka penyelidikan formal mengenai penyebab kejadian. Para ahli akan menelusuri jaringan pipa gas, instalasi listrik, dan riwayat laporan kebocoran di kawasan itu sebelum ledakan terjadi.
Kepala gereja terdekat menyatakan ibadah Minggu digelar di luar ruangan karena bangunan gereja ikut rusak akibat ledakan. Warga Plaka menggelar penghormatan sederhana bagi enam korban di dekat lokasi kejadian.
Tragedi itu menyisakan pertanyaan yang sama bagi keluarga korban dan warga: bukan lagi apakah peringatan warga benar, melainkan mengapa tidak ada yang ditindaklanjuti sebelum enam nyawa melayang.
Ledakan terjadi dini hari ketika sebagian besar penghuni masih berada di dalam bangunan. Kondisi itu membuat peluang menyelamatkan diri sangat sempit bagi mereka yang berada di lantai atas.
Plaka merupakan kawasan permukiman sekaligus tujuan wisata utama, sehingga penghuninya campuran antara warga tetap dan pendatang jangka pendek. Kombinasi itu membuat pendataan korban memerlukan waktu lebih lama.
Kepolisian Yunani menyatakan laporan warga soal bau gas memang pernah diterima sebelum ledakan. Namun sifat zat dan asal usulnya belum dapat dipastikan sampai penyelidikan tuntas.
Plaka sendiri berada di kaki Akropolis, monumen kuno yang paling banyak dikunjungi di Yunani, sehingga kawasan itu selalu ramai pengunjung sepanjang hari.
Bangunan-bangunan di sekitar lokasi juga ikut rusak lalu dievakuasi demi keselamatan penghuninya, karena risiko runtuh susulan masih ada.
Sumber: Al Jazeera, The Guardian, dan ABC News, 26-27 September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar