Laporan Accra Reset memperingatkan layanan kesehatan di Afrika berada di bawah tekanan meningkat akibat penghentian bantuan Amerika Serikat. Pendanaan kesehatan luar Afrika turun hampir 70 persen antara 2021 dan 2025.
Laporan terbaru memperingatkan bahwa layanan kesehatan di Afrika dan negara-negara di selatan dunia berada di bawah tekanan yang semakin besar akibat penarikan Amerika Serikat dari sejumlah program bantuan kunci. Laporan itu menyerukan negara-negara di kawasan mengambil kendali lebih besar atas perkembangan kesehatan mereka sendiri.
Laporan tersebut menyoroti keputusan pemerintah Amerika Serikat membubarkan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat atau USAID sebagai pemicu utama. Pandemi Covid-19 dan meningkatnya biaya hidup secara global dianggap memberikan urgensi baru bagi perlunya reformasi kesehatan di kawasan Afrika.
Sebuah statistik penting yang dikutip dalam laporan menyebut bahwa Afrika memproduksi kurang dari 1 persen vaksinnya sendiri sambil menanggung sekitar 25 persen beban penyakit global. Ketimpangan itu menempatkan benua tersebut pada posisi sangat rentan ketika jalur bantuan kesehatan dari luar terputus.
Laporan yang disusun bersama Presiden Ghana tersebut mengutip dampak kebijakan pembubaran USAID yang memaksa Nigeria menyerap 28.000 tenaga kesehatan yang sebelumnya dipekerjakan oleh badan tersebut. Penyerapan tenaga kerja itu menelan biaya 200 juta dolar, beban tambahan yang harus ditanggung pemerintah Nigeria.
Pendanaan kesehatan eksternal untuk Afrika menyusut hampir 70 persen antara 2021 dan 2025. Penurunan tersebut menurut laporan berarti negara-negara Afrika yang secara historis sangat bergantung pada bantuan dipaksa beradaptasi dengan cepat untuk menjaga layanan kesehatan dasar bagi warganya.
Ketergantungan pada bantuan luar negeri telah lama menjadi kelemahan struktural sistem kesehatan di banyak negara Afrika. Ketika sumber dana utama mendadak menyusut, program pencegahan penyakit, layanan ibu dan anak, serta pengadaan obat-obatan dasar menghadapi risiko terhambat.
Laporan Accra Reset menyerukan agar negara-negara kawasan dan selatan dunia mengambil alih kendali yang lebih besar atas arah pembangunan kesehatan mereka. Prinsipnya adalah membangun kapasitas produksi dan pendanaan domestik sehingga layanan kesehatan tidak lagi ditentukan oleh keputusan politik di negara lain.
Sektor farmasi menjadi salah satu titik kritis dalam mandiri kesehatan Afrika. Produksi vaksin yang sangat minim di kawasan dengan beban penyakit tinggi menunjukkan perlunya investasi besar dalam fasilitas produksi, transfer teknologi, serta kerja sama regional di benua itu.
Beberapa negara telah mulai bergerak dengan merespons tekanan pendanaan. Nigeria mengambil langkah berani dengan menyerap ribuan tenaga kesehatan ke dalam sistem domestik meski biayanya besar, sebuah keputusan yang mencerminkan urgensi menjaga kontinuitas layanan kesehatan publik.
Ghana di bawah pemerintahannya mempromosikan gagasan bahwa negara-negara Afrika perlu merancang ulang pendekatan mereka terhadap pembangunan kesehatan. Ide itu menekankan kerja sama antarnegara Afrika, mulai dari aliansi pengadaan obat bersama hingga pengembangan kapasitas riset lokal.
Pandemi Covid-19 telah lebih dulu mengungkap kerentanan pasokan kesehatan global. Negara-negara kawasan menghadapi kesulitan memperoleh pasokan dasar selama puncak pandemi, dan kini tekanan yang sama muncul kembali dalam bentuk berkurangnya pendanaan kesehatan dari mitra luar.
Meningkatnya biaya hidup secara global memperburuk situasi karena pemerintah harus mengalokasikan anggaran di antara banyak kebutuhan mendesak. Biaya perawatan kesehatan yang lebih tinggi juga langsung dirasakan rumah tangga ketika layanan subsidi berkurang.
Para pengamat menilai bahwa transisi menuju pendanaan kesehatan berbasis domestik memerlukan waktu dan kepastian kebijakan. Bantuan pihak ketiga yang tiba-tiba dihentikan tanpa jalur transisi yang jelas dapat menciptakan celah yang mengorbankan program jangka panjang.
Laporan ini juga menjadi peringatan tentang sensitivitas kesehatan terhadap perubahan geopolitik. Keputusan yang diambil di Washington terhadap agen bantuan langsung berdampak pada kemampuan rumah sakit dan klinik di benua lain memberikan layanan kepada warga mereka.
Bagi masyarakat di kawasan, dampak paling langsung terasa pada ketersediaan tenaga kesehatan, obat, dan layanan pencegahan. Program imunisasi, pemantauan epidemi, serta perawatan penyakit endemis harus terus berjalan meski sumber pendanaan eksternal mengecil.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan negara-negara Afrika membangun sumber pendanaan alternatif, termasuk melalui anggaran nasional, kemitraan dengan sektor swasta regional, serta kerja sama antarlembaga di benua tersebut. Laporan ini menegaskan bahwa masa depan kesehatan kawasan tidak boleh bergantung pada satu mitra saja.
Sumber: The Guardian, 25 September 2026.

Tidak ada komentar
Posting Komentar