Ross Smith Juarai Final World Series of Darts di Amsterdam

Superbet Poland Darts Open 2026 - scena.jpg

EraAIdailyNews, 21 September 2026 — Pegulat dart asal Inggris Ross Smith memenangi enam leg terakhir untuk menghasilkan kemenangan mengejutkan 11-5 atas juara dua kali sebelumnya, Gerwyn Price, pada final World Series of Darts di Amsterdam. Hasil itu menjadi gelar besar keduanya bagi pemain berusia 37 tahun tersebut, yang hingga sore itu masih dianggap underdog oleh ramai pengamat.

Gelar besar sebelumnya diraihnya pada Kejuaraan Eropa 2022, yang merupakan satu-satunya kesuksesan pada level PDC World Tour sebelum final di Amsterdam ini. Selama hampir empat tahun, Smith harus menunggu momen penebusan, dan kemenangan tersebut menjadi puncak dari turnamen yang penuh kejutan sepanjang pekan di arena yang dipenuhi penonton berwarna-warni.

Pemain peringkat 14 dunia itu mengalahkan lawannya yang berperingkat lebih tinggi melalui rentetan pukulan 180 yang mengesankan, dengan mencatat 11 pukulan maksimal dibandingkan lima milik Price asal Wales. Statistik itu tidak hanya mencerminkan kekuatan scoring, tetapi juga mental baja yang dibutuhkan untuk menembakkan treble-20 berulang kali di bawah tekanan final bergengsi.

Turnamen tersebut berlangsung penuh kejutan, termasuk kekalahan juara dunia Luke Littler pada babak perempat final. Kekalahan itu menggagalkan upayanya meraih seluruh gelar utama PDC pada 2026, sebuah misi yang sempat terlihat sangat realistis mengingat dominasinya sejak awal tahun. Littler, yang berbasis di Warrington, sebelumnya menjuarai Kejuaraan Dunia di Alexandra Palace pada Januari, lalu melengkapi koleksi dengan gelar World Masters, UK Open, Premier League, World Cup of Darts, dan World Matchplay.

Smith menyatakan dirinya sangat senang dengan kemenangan tersebut dan mengaku gembira bisa meraihnya. "Honestly, I am made up with the win. I am just so happy," ujarnya saat wawancara pasca-pertandingan, wajahnya masih memancarkan ketidakpercayaan yang bercampur kegembiraan. Ia sebelumnya mengalami kekalahan pada putaran pertama di Selandia Baru dan Australia pada dua penampilan lainnya di World Series 2026, membuat perjalanan menuju gelar ini terasa seperti rollercoaster emosional.

Ia menyatakan bahwa bermain melawan Gerwyn Price berarti berhadapan dengan salah satu pemain terbaik dunia sehingga ia harus meningkatkan kualitas permainannya. "You are playing Gerwyn Price - one of the best players in the world. You have got to up your game," tambah Smith, menunjukkan kesadaran akan beratnya lawan yang dihadapinya. Price memang dikenal sebagai kompetitor feros dengan dua gelar World Series of Darts Finals di tangan pada 2020 dan 2022.

Perjalanan Smith ke final tidak mudah. Ia mengalahkan pemain Irlandia Utara Josh Rock dengan skor 10-7 pada babak perempat final, lalu mengatasi harapan tuan rumah Gian van Veen 11-8 pada semifinal di hadapan penonton Belanda yang mendukung lawannya. Kemenangan itu memberinya kesempatan memperebutkan hadiah juara sebesar 100.000 poundsterling, jumlah yang signifikan bagi kariernya.

Di sisi lain, Price melewati pemain Inggris James Wade pada babak perempat final sebelum mengalahkan rekan senegaranya Jonny Clayton, yaitu pemain yang mengalahkan Littler, pada semifinal. Ia tampil sebagai favorit mengingat pengalamannya memenangi turnamen ini pada 2020 dan 2022, serta reputasinya sebagai salah satu penutup terbaik dalam sejarah dart modern.

Final berlangsung ketat di awal. Juara 2020 dan 2022 itu sempat memenangi dua leg berturut-turut untuk menyamakan kedudukan menjadi 5-5 melawan Smith. Namun, Price tampak bertahan — "hanging on" seperti frasa yang dipakai BBC — sementara lawannya terus mencetak angka tinggi meski dengan tingkat keberhasilan penyelesaian yang lebih rendah pada fase awal.

Titik balik datang setelah jeda. Smith jauh lebih efektif, memenangi tiga leg berikutnya, termasuk dua penyelesaian berturut-turut dengan angka 127 dan 123. Penyelesaian 127 (treble-20, treble-19, bullseye) dan 123 (treble-19, treble-18, bullseye) membutuhkan presisi ekstrem dan menampilkan kemampuan finishing kelas dunia yang jarang ditampilkan di momen paling kritis.

Kualitas penyelesaian kemudian menurun dari kedua belah pihak, tetapi Smith memenangi sejumlah leg yang berjalan tidak rapi — "scrappy legs" — untuk memastikan kemenangan ketika permainan Price mulai hilang. Sang juara bertahan tampak kehilangan ritme, melewatkan dart-dart penting pada double, dan akhirnya menyerahkan gelar tanpa perlawanan signifikan di leg-leg penutup.

Kekalahan Littler pada perempat final terhadap Clayton (10-4) menjadi narasi pendukung yang tak kalah dramatis. Pemain peringkat satu dunia itu gagal memproduksi dart terbaiknya setelah sempat terancam boikot acara di Belanda pasca digaduhi penonton saat menang atas Nathan Aspinall di babak 16 besar. Kemenangan Smith menutup turnamen yang memang penuh kejutan, membuktikan bahwa dalam dart, hari yang tepat dan mental yang kuat bisa mengalahkan ranking dan reputasi.

Sumber: BBC Sport, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar