Sorotan Publik Trump Menurun, Dukungan Merosot ke 29 Persen dalam Sejumlah Survei

Sorotan Publik Trump Menurun, Dukungan Merosot ke 29 Persen dalam Sejumlah Survei

Memasuki bulan ke-20 pemerintahan keduanya, Donald Trump menghadapi jarak lebar antara persepsi dirinya atas kekuasaan dan kenyataan pengaruh yang melemah. Dukungan publiknya anjlok ke 29 persen dalam sejumlah survei.

Donald Trump berdiri di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa dan menampilkan sikap dominan seperti biasanya, namun di balik panggung, situasi politiknya menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang semakin jelas. Di usia 80 tahun, ia menghadapi jarak yang melebar antara persepsi dirinya atas kekuasaan dan kenyataan pengaruh yang menyusut.

Dalam pidatonya di hadapan PBB, Trump memberikan komentar tajam saat menyadari kehadiran CNN yang meliput acara tersebut. Reaksi cepatnya menggambarkan ketegangan yang terus berlangsung antara pemerintahannya dan media arus utama yang kembali menjadi sasaran serangannya.

Memasuki bulan ke-20 pemerintahan keduanya, terdapat kesenjangan yang melebar antara rasa tak terkalahkan yang dirasakan presiden dan kenyataan bahwa pengaruh politiknya kian melemah. Sebelum memenangkan pemilu 2024, Trump menghadapi empat kasus pidana dan dua percobaan pembunuhan.

Seorang analis menilai bahwa tidak ada keuntungan politik bagi presiden yang memiliki peringkat dukungan hanya 29 persen dalam beberapa survei, memimpin perang yang berakhir fatal, serta menaikkan harga energi dan harga pangan, semua hal yang tidak dapat ditutup-tutupi lagi.

Warga Amerika Serikat menghubungkan harga barang di toko kelontong secara langsung dengan kebijakan Trump. Ketika harga pangan dan energi tetap tinggi, persepsi negatif terhadap presiden terus terbentuk dan menggerus basis dukungannya di berbagai kelompok pemilih.

Pergeseran perhatian publik kini mulai bergeser ke arah pemilihan presiden 2028 dan pertanyaan mengenai suksesi. Dalam pandangan banyak pengamat, momen ini menandai dimulainya fase di mana fokus politik nasional mulai berpindah dari pemerintahan berjalan ke kontestasi berikutnya.

Perang di Iran yang berlarut-larut menjadi salah satu beban terberat pemerintahan saat ini. Konflik itu mendapat penolakan luas dari publik, sementara implikasinya terhadap harga energi dan pengeluaran anggaran semakin memperburuk persepsi kinerja pemerintah.

Kenaikan harga energi dan pangan yang terjadi justru menjadi kebalikan dari janji kampanye yang menyasar biaya hidup. Ketika janji itu tidak terwujud, kekecewaan di kalangan pendukung sendiri semakin mendalam dan sulit dipulihkan hanya dengan pesan politik.

Di dalam Partai Republik sendiri, tanda-tanda penurunan pengaruh mulai tampak. Sejumlah anggota partai mulai berjarak dari garis resmi pemerintahan, sebuah fenomena yang sulit dibayangkan pada masa-masa awal pemerintahan Trump.

Peralihan perhatian menuju 2028 memberi tekanan tambahan bagi Trump karena ia tidak dapat mencalonkan diri kembali secara konstitusional. Fakta itu membuat kader-kader potensial di partainya mulai bergerak untuk memposisikan diri lebih awal.

Para pengamat politik menilai bahwa presiden yang menghadapi peringkat rendah cenderung mengandalkan isu-isu eksekutif dan agenda luar negeri untuk mempertahankan relevansi. Pendekatan itu sekaligus menjelaskan mengapa penekanan pada forum internasional seperti PBB tetap dipertahankan.

Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa peringkat dukungan dapat berubah dalam waktu relatif singkat bila kondisi ekonomi membaik atau krisis tertentu menyatukan publik di belakang pemerintah. Namun, hingga kini, belum ada tanda perbaikan yang berarti pada indikator-indikator tersebut.

Kekhawatiran di kalangan internal partai adalah bahwa pelemahan pengaruh presiden dapat mengganggu upaya agenda legislatif. Dengan pengaruh yang menyusut, kemampuan untuk mendorong rancangan undang-undang melalui Kongres menjadi lebih terbatas dan bergantung pada kompromi politik.

Bagi oposisi, kondisi ini membuka ruang untuk menekan pemerintahan lebih agresif. Baik isu harga pangan maupun kebijakan luar negeri menjadi bahan serangan yang berkelanjutan menjelang siklus politik berikutnya.

Masa transisi politik yang sedang berlangsung selalu merupakan periode rawan bagi setiap pemerintahan. Kemampuan mempertahankan dukungan di tengah melemahnya pengaruh dan menjaga fokus pada kebutuhan publik akan menentukan warisan yang ditinggalkan pemerintahan ini.

Salah satu faktor yang memperberat posisi presiden adalah pengaitan langsung antara dirinya dan harga kebutuhan pokok rumah tangga. Survei menunjukkan banyak pemilih yang menghubungkan harga di toko kelontong dengan kebijakan Trump, sesuatu yang sebelumnya jarang terjadi pada presiden dari partainya sendiri.

Strategi komunikasi pemerintah yang bertumpu pada agenda luar negeri dan manuver eksekutif dinilai belum mampu menggantikan kepuasan publik terhadap kondisi ekonomi domestik. Sebagian analis menilai bahwa tanpa perbaikan pada harga pangan dan energi, sulit bagi pemerintahan untuk memulihkan dukungan secara signifikan.

Sumber: The Guardian, 24-25 September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar