EraAIdailyNews, 21 September 2026 — Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman milik NASA berpeluang memiliki bahan bakar untuk setidaknya 22 tahun operasi sains, lebih dari dua kali masa pakai rancangan awalnya yang sepuluh tahun. Perpanjangan itu disebut berkat perencanaan tim dinamika orbit, pelaksanaan operasi yang presisi, serta peluncuran tepat oleh SpaceX.
Teleskop Roman dirancang sebagai observatorium gelombang inframerah yang akan memindai langit dengan bidang pandang sangat luas — sekitar 100 kali lebih lebar dari Hubble — untuk memetakan materi gelap, energi gelap, dan sistem eksoplanet di seluruh galaksi. Misi utamanya ditetapkan lima tahun, dengan opsi perpanjangan lima tahun lagi, sehingga total anggaran bahan bakar disiapkan untuk sepuluh tahun operasi. Dalam desain wahana antariksa, propelan adalah sumber daya "habis pakai" utama: sekali tangki kosong, misi berakhir, karena tidak ada stasiun pengisian di luar angkasa. Setiap kilogram yang tersisa berarti potensi tambahan waktu pengamatan.
Pembakaran koreksi tengah jalur (mid-course correction) pertama dilakukan pada 31 Agustus, tepat setelah peluncuran, untuk menyesuaikan lintasan menuju orbit akhir di titik Lagrange L2 — titik gravitasi stabil sekitar 1,5 juta kilometer dari Bumi, di sisi yang menghadap ke luar tata surya. Di L2, teleskop dapat menatap alam semesta dengan gangguan termal dan cahaya Bumi minimal, mirip dengan posisi James Webb Space Telescope. Hasil manuver pertama itu mengejutkan tim misi: akurasi mencapai lebih dari 99 persen, dan hanya menghabiskan kurang dari 10 persen dari cadangan bahan bakar yang dialokasikan untuk tahap itu.
Secara numerik, Roman mengonsumsi sekitar 40 pon (18 kilogram) propelan, jauh di bawah alokasi rencana 441 pon (200 kilogram). Penghematan tunggal itu saja diperkirakan dapat menambah empat tahun operasi sains potensial. Bayangkan sebuah mobil yang direncanakan memakai 20 liter bensin untuk perjalanan jauh, ternyata hanya memakai 2 liter untuk mencapai titik kritis pertama — sisa 18 liter itu bisa mengantarnya berjauh-jauh lagi.
Faktor kedua datang dari bobot wahana yang lebih ringan dari perkiraan konservatif. Insinyur menghitung kebutuhan bahan bakar dengan asumsi massa maksimal 21.605 pon (9.800 kilogram) untuk menjamin margin keamanan. Saat diluncurkan, Roman ternyata berbobot 17.760 pon (8.056 kilogram) — lebih ringan sekitar 3.845 pon (1.744 kilogram). Karena massa lebih kecil, gaya dorong yang dibutuhkan untuk manuver orbit pun lebih sedikit. Keuntungan ganda: tidak hanya menghemat pemakaian, tangki propelan juga bisa diisi penuh hingga kapasitas maksimum, bukan hanya secukupnya untuk misi sepuluh tahun. Isian penuh itu sendiri menambah potensi empat tahun operasi lagi.
Alison Rao, kepala sistem propuls Roman di NASA Goddard, menjelaskan filosofi di balik angka konservatif itu: "Massa wahana berubah sepanjang proses desain dan pembangunan, jadi kami menetapkan anggaran propelan berdasarkan nilai maksimum tetap agar tidak kekurangan. Kami terus melacak kebutuhan aktual saat integrasi dan pengujian, memastikan ada ruang manuver. Karena massa Roman ternyata lebih rendah dari yang dibudgetkan, kami bisa mengisi tangki sampai penuh, bukan hanya secukupnya untuk syarat sepuluh tahun."
Koreksi tengah jalur kedua, yang dijadwalkan kemudian bulan ini, kini diproyeksikan jauh lebih kecil berkat keakuratan manuver pertama. Tim kendali misi bisa menunggu lebih lama sebelum koreksi lanjutan, yang berarti lebih sedikit energi dan propelan yang dibutuhkan untuk "mendaratkan" Roman ke orbit halo di sekitar L2. Perkiraan saat ini menunjukkan koreksi kedua dan penyisipan orbit (orbital insertion) keduanya akan memakai bahan bakar di bawah anggaran awal. Gabungan penghematan itu menambah potensi sekitar empat tahun misi lagi, dan masih menyisakan propelan untuk pekerjaan ilmiah di masa depan.
Setelah mendarat di orbit L2, menjaga posisi Roman hanya memerlukan pembakaran "station-keeping" berkala sekitar sekali setiap 28 hari — konsumsi sangat kecil dibanding manuver perjalanan. Pola ini mirip dengan satelit geostasioner yang sesekali dikoreksi posisi, namun di L2 gaya gravitasi Bumi dan Matahari saling seimbang, sehingga kebutuhan koreksi minimal.
Jamie Dunn, direktur pusat di NASA Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Maryland, merangkum pencapaian tim: "Sebagai hasil dari perencanaan mulia tim dinamika orbit, eksekusi brilian tim operasi, dan peluncuran presisi dari SpaceX, Roman memiliki bahan bakar untuk setidaknya 22 tahun operasi sains potensial." Jika realisasi mencapai angka itu, Roman bisa melayani astronomi hingga awal 2040-an — menyaksikan siklus aktivitas matahari, pengamatan jangka panjang eksoplanet, dan survei kosmologi yang membutuhkan basis waktu data puluhan tahun.
Perpanjangan umur ini bukan sekadar angka teknis. Setiap tahun tambahan berarti lebih banyak medan langit dipetakan, lebih dalam pemahaman tentang percepatan ekspansi alam semesta, dan peluang menjawab pertanyaan yang belum terbayang saat teleskop dirancang. Bagi para ilmuwan, 22 tahun potensial adalah hadiah tak terduga dari ketelitian rekayasa dan sedikit keberuntunan fisika.
Sumber: ScienceDaily, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar