Lebih dari 10.000 rumah di Prefektur Chiba masih tanpa listrik setelah Topan Dujuan membawa curah hujan rekor ke wilayah timur Jepang.
Sepekan pascabadai, tak kurang dari 10.000 rumah tangga di Prefektur Chiba, wilayah yang bersebelahan dengan Tokyo, masih gelap gulita. Topan Dujuan, yang awal pekan membawa hujan berrekor ke timur Jepang, menjadi biang keroknya.
TEPCO Power Grid Inc., operator jaringan listriknya, memperingatkan bahwa kondisi gelap itu bisa berlarut. Jalan-jalan yang ditutup tanah longsor dan ranting pohon tumbang membuat petugas bahkan belum sempat menjangkau sejumlah lokasi untuk memeriksa kerusakan.
Tak hanya Chiba. Puluhan rumah di Prefektur Kanagawa yang bertetangga juga tercatat masih tanpa arus listrik per Jumat, memperlihatkan luasnya rentetan gangguan yang ditimbulkan badai tersebut.
Dinas lain juga ikut lumpuh. Pemerintah daerah mencatat sekitar 2.700 rumah tangga di Chiba belum merasakan air jernih dari keran sampai siang Kamis, sehingga dua layanan pokok lumpuh serentak di wilayah yang sama.
Kisah sederhana dari Ichihara menggambarkan bebannya. Shoji Sakuma, pengusaha 63 tahun, melukiskan rumahnya yang gelap sejak malam Senin; panel surya di atapnya hanya mampu menyuplai listrik secuil yang tak mencukupi kebutuhan.
Panas yang menyengat memaksa ia merencanakan tidur di dalam mobil, karena pendingin udara tak bisa dinyalakan. Sementara pasokan air pun belum jelas kapan mengalir kembali, tambahnya dengan pasrah.
Di Kimitsu, tempat gangguan pasokan air masih meluas, Ayumi Kono yang berusia 32 tahun membawa sekitar 60 liter air dari lokasi distribusi ke rumahnya. Ia menggunakan piring kertas dan sumpit sekali pakai untuk menghemat air.
Toilet adalah masalah terbesar, ujarnya menggambarkan kesulitan yang dihadapi ketika pasokan air terganggu. Ketersediaan air menentukan banyak kegiatan rumah tangga yang biasanya berjalan tanpa dipikirkan.
Bilangan korban jiwa mencapai 11 orang: tujuh ditemukan tewas di Prefektur Chiba dan empat lainnya di Kanagawa, sementara tiga orang masih dinyatakan hilang. Mayoritas kematian berpuncak pada longsor, banjir, serta hantaman benda yang tertiup angin kencang.
Curah hujan yang mencapai rekor menunjukkan intensitas kejadian ini. Hujan dengan jumlah besar dalam waktu singkat membuat tanah tidak mampu menyerap air, sehingga limpasan permukaan meningkat dan memicu banjir serta longsor.
Tanah longsor menjadi penyebab utama terhambatnya pekerjaan pemulihan. Jalan yang tertutup material longsor menghalangi kendaraan perbaikan, sehingga petugas tidak dapat mencapai titik gangguan dengan cepat.
Pohon tumbang menambah persoalan. Jaringan listrik yang terputus akibat pohon tumbang memerlukan pekerjaan pembersihan sebelum perbaikan kabel dapat dimulai, sehingga pemulihannya memakan waktu lebih lama.
Dari sisi kesiapan, pemerintah daerah biasanya membuka lokasi penampungan sementara. Warga yang rumahnya rusak atau kehilangan pasokan listrik dan air dapat memperoleh bantuan dasar di tempat tersebut.
Bantuan air bersih menjadi kebutuhan yang paling mendesak. Distribusi air dari titik penampungan ke rumah warga memerlukan kendaraan tangki serta pengaturan antrean agar seluruh wilayah terdampak terlayani.
Dari sisi kesehatan, kondisi tanpa listrik dan air bersih meningkatkan risiko penyakit. Air yang tidak layak, sanitasi yang terganggu, serta suhu panas tanpa pendingin menambah beban terutama bagi lansia dan anak-anak.
Pemadaman listrik juga berdampak pada kegiatan ekonomi. Toko, rumah makan, dan usaha jasa yang bergantung pada listrik tidak dapat beroperasi normal, sehingga pendapatan harian berkurang selama gangguan berlangsung.
Pengalaman ini menunjukkan pentingnya kesiapan menghadapi cuaca ekstrem. Penataan jaringan listrik dengan pola yang lebih tahan gangguan, pemangkasan pohon di sekitar jalur kabel, serta sistem peringatan dini menjadi langkah yang sering disarankan.
Bagi warga, persiapan sederhana juga membantu. Menyimpan air, menyiapkan penerangan cadangan, serta mengetahui lokasi penampungan terdekat merupakan langkah yang berguna ketika cuaca ekstrem melanda.
Sumber: ANTARA, 25 September 2026.
Pemulihan layanan listrik biasanya dilakukan bertahap. Prioritas diberikan pada fasilitas umum seperti rumah sakit, tempat pengungsian, dan jalur utama, sebelum menyentuh permukiman yang lebih jauh.
Dari sisi perekonomian, gangguan layanan yang berlangsung lama menekan kegiatan usaha kecil. Warung, toko, dan penyedia jasa yang bergantung pada listrik serta air bersih kehilangan pemasukan selama masa pemulihan.
Dari sisi cuaca, wilayah Jepang memang rawan dilanda siklon tropis pada musim tertentu. Peringatan dini disampaikan beberapa hari sebelum kedatangan badai, sehingga warga memiliki waktu menyiapkan diri.
Pemerintah daerah biasanya menyiapkan jalur evakuasi dan lokasi penampungan sebelum badai tiba. Persiapan itu mencakup ketersediaan makanan, air, selimut, serta tenaga medis di tempat pengungsian.
Dari sisi pemulihan, pekerjaan perbaikan jaringan listrik dapat memakan waktu beberapa hari. Petugas perlu memeriksa tiang, kabel, dan gardu yang rusak, sementara akses menuju lokasi belum tentu terbuka.
Gangguan layanan yang panjang mendorong warga menyesuaikan cara hidup sehari-hari. Sebagian menggunakan sumber air bergilir, penerangan cadangan, dan menunda pekerjaan yang memerlukan listrik.
Tidak ada komentar
Posting Komentar