Setelah tahun 2024 mencatat lebih dari 13 juta kasus demam berdarah dan 8.400 kematian — epidemi terbesar yang pernah tercatat — negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Pan-Amerika (PAHO) akhirnya menyepakati kerangka strategi regional bersama untuk satu dekade ke depan.
Dokumen strategi itu disahkan dalam Sidang Dewan Pengarah PAHO ke-63 di Washington, D.C., pada 1 Oktober 2026. Isinya bukan sekadar deklarasi: sebuah peta jalan regional yang mengatur penguatan surveilans, pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terpadu terhadap demam berdarah serta penyakit arbovirus lainnya di seluruh Benua Amerika.
Seberapa parah situasinya?
Angkanya sulit dibantah. Satu dekade terakhir ditandai epidemi yang semakin sering dan semakin luas. Tahun 2024 menjadi puncaknya: lebih dari 13 juta kasus DBD dan lebih dari 8.400 kematian di kawasan Amerika — rekor sepanjang sejarah pencatatan.
DBD bukan satu-satunya masalah. Dalam beberapa tahun terakhir kawasan ini juga dihantam wabah chikungunya dalam skala besar, penyebaran penyakit virus Oropouche ke luar daerah penularan tradisionalnya, serta peningkatan kasus demam kuning di lokasi-lokasi geografis baru. Virus-virus ini bersirkulasi secara bersamaan, ditularkan oleh vektor yang sama, dan menyerang populasi yang sama.
PAHO menyebut lanskap epidemiologi yang dihadapi kini semakin kompleks: wabah yang lebih besar, sirkulasi multipel arbovirus dalam waktu bersamaan, dan perluasan geografis vektor penyakit ke wilayah-wilayah yang sebelumnya bebas.
Apa isi strateginya?
Kerangka yang disepakati mencakup penguatan kapasitas negara-negara anggota di delapan pilar: surveilans, layanan laboratorium, perawatan klinis, pengendalian vektor, komunikasi risiko, pelibatan masyarakat, dan kesiapsiagaan epidemi. Tidak ada satu pun pilar yang bisa berdiri sendiri — pengendalian vektor tanpa surveilans yang baik ibarat memadamkan api tanpa tahu di mana titik apinya.
Yang menarik, strategi ini secara eksplisit mengakui faktor-faktor di luar sektor kesehatan: kondisi iklim, lingkungan, faktor sosial, dan mobilitas penduduk yang semakin tinggi. Nyamuk Aedes aegypti tidak mengenal batas negara, dan perubahan iklim memperluas habitatnya ke dataran tinggi dan lintang yang dulu terlalu dingin baginya.
Kenapa baru sekarang?
Pertanyaan ini wajar muncul. Jawabannya ada pada skala krisis 2024 yang memaksa semua pihak duduk semeja. Ketika 13 juta orang jatuh sakit dalam setahun, pendekatan tambal sulam per negara terbukti tidak cukup. Vektor dan virus bergerak lintas batas; responsnya pun harus lintas batas.
Bagi Indonesia, kabar ini relevan meski kita berada di kawasan WHO yang berbeda. DBD adalah penyakit endemis di tanah air dengan pola musiman yang kian sulit diprediksi. Strategi regional ala PAHO — surveilans terpadu, pengendalian vektor berbasis data, pelibatan masyarakat — adalah pelajaran yang bisa diadopsi tanpa menunggu epidemi sebesar 2024 terjadi di sini.
Angka kunci:
- 13 juta+ — kasus DBD di Benua Amerika pada 2024, rekor tertinggi sepanjang masa
- 8.400+ — kematian akibat DBD di kawasan yang sama pada 2024
- 63 — Sidang Dewan Pengarah PAHO yang mengesahkan strategi regional, 1 Oktober 2026
- 10 tahun — horizon waktu peta jalan strategi yang disepakati
