Tiga digit. Angka yang selama berbulan-bulan hanya menjadi momok itu akhirnya jebol juga: kontrak berjangka minyak Brent menembus US$101 per barel pada perdagangan pekan ini, didorong serangan Houthi ke Arab Saudi, gangguan tanker di Selat Hormuz, dan badai yang mengancam Teluk Meksiko.
Pada perdagangan Rabu (7/10/2026), kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Desember naik 93 sen menjadi US$101,51 per barel. Patokan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), ikut menguat 82 sen ke US$90,25 per barel. Dalam sesi yang sama, Brent sempat menyentuh US$101,76 — level yang terakhir terlihat ketika pasar energi global dilanda kepanikan pasokan.
Kenaikan lebih dari 1 persen dalam sehari itu bukan datang dari satu sumber. Ia adalah hasil tumpukan tiga risiko yang meledak hampir bersamaan di dua belahan dunia.
Serangan ke Jantung Energi Saudi
Pemicu terbesar datang dari Timur Tengah. Kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan ke Arab Saudi — otoritas penerbangan Saudi melaporkan bandara di Jazan dan Najran menjadi sasaran dua serangan pada Selasa. Eskalasi ini memicu kekhawatiran langsung terhadap kelancaran pasokan minyak mentah dari kawasan yang memasok sepertiga kebutuhan dunia.
Bersamaan dengan itu, Iran memperintensif serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz. Lembaga Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mencatat sembilan insiden keamanan maritim di jalur strategis tersebut sepanjang bulan ini saja. Selat Hormuz adalah urat nadi: sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati celah sempit itu setiap hari.
Arab Saudi berusaha menenangkan pasar. Menteri Energi Pangeran Abdulaziz bin Salman menyatakan aliran minyak melalui pipa East-West telah pulih hingga 5,8 juta barel per hari pada Selasa pagi — jalur alternatif yang mem bypass Selat Hormuz. CEO Vitol Russell Hardy menambahkan bahwa sekitar 12 juta barel minyak mentah dan 2 juta barel produk olahan per hari telah dikirim via tanker dari Timur Tengah dalam 7–10 hari terakhir. Pasokan fisik, kata mereka, sebenarnya mengalir.
Badai Mengintai Teluk Meksiko
Di belahan barat, ancaman datang dari langit. Pusaran badai tropis terbentuk di Teluk Meksiko dan diproyeksikan berkembang menjadi badai Atlantik. Kawasan lepas pantai yang berada di lintasan badai menyumbang sekitar 15 persen produksi minyak mentah dan 5 persen gas alam Amerika Serikat — dengan enam fasilitas kilang minyak berpotensi terdampak.
Kekhawatiran itu dipertebal data American Petroleum Institute (API): persediaan minyak mentah AS menyusut 2,09 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober. Stok penyangga menipis tepat ketika potensi gangguan produksi membayangi.
"Harga minyak saat ini masih terjebak di antara pemulihan pasokan fisik dan risiko geopolitik yang terjadi terus-menerus," ungkap Chief Investment Officer Zaye Capital Markets, Naeem Aslam, seperti dikutip CNBC. Kalimat itu merangkum kebingungan pasar: pasokan membaik di atas kertas, tetapi premi risiko menolak turun.
Rupiah Ikut Terseret
Dampaknya langsung terasa di Asia. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,3 persen pada Rabu, dengan investor mencermati kombinasi minyak mahal dan dolar AS yang menguat — indeks dolar naik 0,1 persen ke 101,93.
Rupiah termasuk yang tertekan. Di pasar Non-Deliverable Forwards, rupiah bergerak di kisaran Rp17.895 per dolar AS setelah melemah 0,14 persen. Yen Jepang terkoreksi 0,21 persen; won Korea, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura ikut melemah. Kenaikan yield Surat Utang Negara tenor 10 tahun sebesar 2 basis poin ke 7,21 persen menambah gambaran tekanan di pasar domestik.
Bagi Indonesia, minyak di atas US$100 adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, lifting migas dan penerimaan negara dari sektor energi terdongkrak. Di sisi lain, tagihan subsidi dan kompensasi energi — yang hingga Agustus 2026 sudah menembus Rp331,4 triliun — membengkak, menggerogoti ruang fiskal yang sudah diperingatkan Bank Dunia dalam laporan terbarunya.
Angka kunci lonjakan minyak:
- US$101,51 — harga Brent, naik 93 sen (+0,92%) pada Rabu (7/10)
- US$90,25 — harga WTI, naik 82 sen pada sesi yang sama
- 5,8 juta bph — aliran minyak via pipa East-West Arab Saudi
- 2,09 juta barel — penurunan stok minyak AS pekan lalu (data API)
- 15% — porsi produksi minyak AS dari kawasan Teluk Meksiko yang terancam badai
- 9 — insiden keamanan maritim di Selat Hormuz bulan ini (UKMTO)
Pertanyaan yang kini menghantui ruang-ruang trading: apakah US$101 ini puncak kepanikan sesaat, atau awal dari babak baru harga energi tinggi? Jawabannya bergantung pada dua hal yang sama-sama sulit diprediksi — apakah Houthi dan Iran mereda, dan ke mana badai Atlantik benar-benar bergerak. Sampai ada kejelasan, premi risiko akan tetap menempel di setiap barel.
