Biji pinang yang dijual di pasar

Alurnya bulat, dalam, dan simetris — seperti dibuat mata bor berbentuk permen. Tak ada tengkorak manusia mana pun yang giginya aus seperti ini. Ketika tim arkeolog Griffith University menatap dua kerangka pemburu-peramu kuno dari Sulawesi itu, satu pertanyaan menggantung: apa yang dilakukan orang-orang ini dengan mulut mereka?

Foto: Tanweer, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Jawabannya, yang dipublikasikan di jurnal Science Advances pada 2026, menggeser sejarah: manusia diduga sudah memakai zat psikoaktif tumbuhan secara rutin sejak 25.000 tahun lalu — jauh sebelum pertanian lahir, jauh sebelum bir pertama diseduh. Buktinya tersimpan di gigi: alur aus yang dalam plus jejak kimia arecoline, alkaloid neuroaktif utama biji pinang.

Studi yang dipimpin Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution, Griffith University, itu meneliti dua kerangka langka. Individu yang lebih tua hidup sekitar 25.000 hingga 16.000 tahun lalu; yang lebih muda, ditemukan 33 kilometer jauhnya, hidup sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu. Keduanya pemburu-peramu pra-pertanian. Di dalam jaringan gigi keduanya, analisis biomolekuler menemukan arecoline — tanda mereka menelan biji pinang, atau dalam bahasa sehari-hari kita: menginang.

Bukan Dikunyah, Melainkan Disedot

Ada kejanggalan yang justru menjadi kunci. Pengunyah pinang modern mencampur biji dengan kapur sirih hingga ludahnya memerah dan giginya bernoda. Gigi-gigi kuno Sulawesi ini tidak bernoda sama sekali. Tim peneliti pun mengajukan dugaan berani: sebelum tradisi mengunyah pinang seperti yang kita kenal lahir, para peramu itu hanya menyedot biji pinang utuh yang keras.

Dugaan itu diuji di laboratorium. Biji pinang utuh direndam dalam ludah buatan, lalu ekstraknya diujikan pada sel telur katak yang direkayasa membawa reseptor otak manusia. Hasilnya: perendaman cukup melepaskan arecoline, alkaloid psikoaktif utama biji tersebut, dalam kadar yang memengaruhi fungsi otak — meski efeknya lebih ringan dibanding kunyahan modern. Menyedot saja ternyata cukup untuk "teler" ringan.

Obat Sakit Gigi yang Berbalik Menyerang

Lalu untuk apa mereka melakukannya? Petunjuknya ada pada gigi mereka yang rusak parah. Populasi peramu masa itu dikenal bergigi buruk, dan arecoline adalah analgesik alami — pereda nyeri. Brumm dan koleganya menduga kebiasaan itu bermula sebagai obat sakit gigi. Ironisnya, biji pinang itu abrasif: bertahun-tahun disedot, email gigi terkikis hingga ruang pulpa di dalamnya tersingkap. "Jadi meski kebiasaan ini mungkin berawal sebagai obat sakit gigi, penyedotan bertahun-tahun justru menyebabkan masalah gigi yang jauh lebih parah, menciptakan lingkaran penggunaan yang terus berlanjut," kata Brumm.

Penemuan ini mematahkan dua rekor sekaligus. Bukti padat tertua minuman beralkohol fermentasi berasal dari Israel, diseduh pemburu-peramu sekitar 13.000 tahun lalu. Jejak pinang Sulawesi dua kali lebih tua. Sementara jejak pinang tertua yang sebelumnya terkonfirmasi — dari gigi berusia sekitar 4.000 tahun — kini tampak seperti catatan kemarin sore. Selama ini para peneliti mengira kebiasaan psikoaktif baru muncul setelah manusia bertani; temuan ini menunjukkan hasrat mengubah kesadaran mungkin jauh lebih purba.

Riset ini dikerjakan bersama ilmuwan Indonesia dari Universitas Hasanuddin dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) — kolaborasi yang menempatkan Sulawesi kembali di peta besar evolusi manusia, menyusul temuan seni gua tertua dunia di pulau yang sama.

Catatan kesehatan: pinang bukan obat yang aman. Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) mengklasifikasikan biji pinang sebagai karsinogenik bagi manusia. Ratusan juta orang — sekitar satu dari sepuluh penduduk dunia — masih mengonsumsinya hingga kini, terutama di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Pasifik. Studi di atas meneliti perilaku masa lampau, bukan anjuran medis.

Ada satu hal yang patut direnungkan dari dua kerangka itu. Dua puluh lima ribu tahun sebelum apotek dan rumah sakit ada, manusia sudah menemukan — dan membayar mahal — caranya meredakan nyeri dan mengubah kesadaran dengan apa yang tumbuh di sekitar mereka. Gigi-gigi yang aus itu adalah kuitansi tertua dari transaksi tersebut.

Baca juga