Ilustrasi keamanan siber dan kesadaran digital

Adopsi kecerdasan buatan di dunia usaha Indonesia sudah melewati fase coba-coba. Kini tantangannya bergeser: bagaimana memastikan AI yang masuk ke jantung operasional perusahaan tidak justru membuka pintu bagi risiko digital yang menggerus nilai bisnis.

Foto: U.S. Army, domain publik, via Wikimedia Commons

Pesan itu disampaikan Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR), Patrick Dannacher, dalam press conference di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Menurutnya, AI kini mulai bergeser dari tahap eksperimen menjadi bagian dari kegiatan operasional dan pengambilan keputusan bisnis — dan pergeseran itu menuntut perusahaan menempatkan keamanan serta tata kelola sebagai bagian dari strategi adopsi teknologi, bukan sekadar tempelan.

"Pertanyaan bagi para pemimpin sekarang bukan lagi apakah organisasi akan menggunakan AI, tetapi bagaimana menggunakannya secara aman, bertanggung jawab, dan tetap memberikan nilai nyata bagi bisnis," ujar Patrick.

Risiko yang Saling Berkait

Menurut Patrick, keputusan mengenai AI, keamanan siber, pengelolaan data, dan pengembangan talenta kini semakin saling berkaitan. Perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai risiko dan kesiapan organisasi sejak tahap perencanaan — bukan hanya berfokus pada implementasi teknologinya.

Bagi dunia usaha, tantangannya tidak hanya soal memilih teknologi yang tepat. Perlindungan data, pengawasan penggunaan AI, pengukuran manfaat bisnis, dan kesiapan tenaga kerja menghadapi perubahan proses kerja menjadi aspek yang menentukan apakah investasi teknologi benar-benar memberikan manfaat terukur. Tanpa fondasi itu, efisiensi yang dijanjikan AI bisa tergerus oleh insiden keamanan atau keputusan model yang tidak akuntabel.

Patrick menilai peluang Indonesia dalam pemanfaatan AI perlu diimbangi dengan pembangunan fondasi keamanan, tata kelola, dan kompetensi tenaga kerja. Kecepatan adopsi teknologi, menurutnya, bukan satu-satunya tolok ukur kesiapan perusahaan maupun ekosistem digital nasional.

Forum 600 Pemimpin di Bali

Untuk menjawab kebutuhan itu, ITSEC Asia akan mempertemukan sekitar 600 pemimpin perusahaan dan pengambil keputusan senior dalam AI & Cybersecurity Executive Forum (AICX) 2026 di Bali Beach Convention, Sanur, pada 20 Oktober 2026. Forum ini menjadi bagian dari Bali Tech Week 2026 yang berlangsung 19–23 Oktober 2026, dengan peserta mencakup perwakilan pemerintah, regulator, serta pemimpin berbagai sektor industri.

Penyelenggaraan AICX tahun ini memperluas pembahasan dari isu keamanan siber menjadi hubungan yang semakin erat antara AI, perlindungan data, tata kelola teknologi, kesiapan tenaga kerja, dan komputasi kuantum. Perluasan agenda itu sejalan dengan meningkatnya penggunaan AI dalam kegiatan bisnis — mulai dari operasional dan analisis data hingga pengambilan keputusan.

"AI sudah bergerak dari tahap eksperimen menjadi bagian dari kegiatan bisnis sehari-hari. Pertanyaan bagi para pemimpin sekarang bukan lagi apakah organisasi akan menggunakan AI, tetapi bagaimana menggunakannya secara aman, bertanggung jawab dan tetap memberikan nilai nyata bagi bisnis," ujar Patrick dalam kesempatan terpisah, seperti dikutip Bloomberg Technoz.

Ransomware: Ancaman yang Mendahului Enkripsi

Konteks peringatan ini bukan tanpa dasar. Tim Threat Intelligence ITSEC Asia baru-baru ini merilis whitepaper bertajuk From Sample to Signal: Uncovering the GodDamn Ransomware Operation, yang menunjukkan bahwa ancaman ransomware perlu dipahami sebagai rangkaian aktivitas yang berkembang jauh sebelum korban melihat tanda paling jelas berupa file yang terenkripsi.

Analisis terhadap operasi GodDamn Ransomware menemukan sinyal-sinyal awal serangan: eksekusi mencurigakan, perubahan Registry dan service, pemindaian ARP, probing SMB, modifikasi file dalam jumlah besar, hingga pembuatan ransom note. Dalam salah satu insiden yang dikaji, penyerang sudah memperoleh akses jarak jauh, mengumpulkan kredensial, dan bergerak lateral di dalam jaringan — sedikitnya sepuluh host terdampak — sebelum ransomware benar-benar dijalankan.

"Ransomware sering kali baru terlihat ketika file sudah terenkripsi dan operasional mulai terganggu. Padahal sebelum itu, penyerang bisa saja sudah memperoleh akses, mengumpulkan kredensial dan bergerak di dalam jaringan. Karena itu, kemampuan mendeteksi aktivitas yang tidak wajar sejak tahap awal menjadi sangat krusial," kata Patrick.

Pekerjaan Rumah Indonesia

Jika dirangkum, ada tiga fondasi yang menurut ITSEC Asia harus dibangun paralel dengan adopsi AI: keamanan (security), tata kelola (governance), dan kompetensi tenaga kerja. Tanpa ketiganya, perusahaan berisiko mengulang pola lama transformasi digital — teknologi diadopsi cepat, pengamanannya menyusul belakangan, dan biayanya dibayar dalam bentuk insiden.

Bagi Indonesia yang tengah memposisikan diri sebagai salah satu pusat ekonomi digital Asia Tenggara, pesannya relevan ganda: peluangnya besar, tetapi fondasinya harus dibangun sekarang — sebelum AI terlanjur tertanam terlalu dalam untuk diawasi.

Baca juga