Melalui Executive Order 14434 yang ditandatangani 29 September 2026, Donald Trump memerintahkan seluruh lembaga federal Amerika Serikat mengganti istilah "AI" dengan "Super Intelligence" — dan para bos teknologi terbesar dunia ikut menandatangani pakta sukarela yang oleh banyak pengamat disebut "sangat tidak mengikat".
Dalam dunia kebijakan teknologi, jarang ada dokumen resmi yang membuat begitu banyak orang mengangkat alis sekaligus. Executive Order 14434, bertajuk "Inaugurating the Era of Super Intelligence" dan ditandatangani Presiden Donald Trump pada 29 September 2026, berisi perintah yang sederhana namun menyapu: seluruh lembaga federal Amerika Serikat wajib menggunakan istilah "Super Intelligence" — atau singkatannya "SI" — dan meninggalkan sebutan "AI" (artificial intelligence).
Alasannya? Menurut naskah perintah tersebut, Amerika Serikat telah memasuki era baru yang melampaui sekadar "kecerdasan buatan". Bahasa, kata Gedung Putih, harus mencerminkan ambisi. Maka dimulailah proyek penggantian kosakata terbesar dalam birokrasi federal — dari dokumen strategi hingga siaran pers, kata "AI" resmi menjadi barang usang.
Pakta Para Raksasa: Sukarela dan "Sangat Tidak Mengikat"
Penandatanganan perintah eksekutif itu dibarengi dengan sebuah seremoni: para pemimpin Nvidia, SpaceX, OpenAI, Anthropic, Meta, dan Google membubuhkan tanda tangan pada dokumen bernama "Joint Commitment on Frontier Responsibilities" — komitmen bersama soal tanggung jawab dalam pengembangan AI garis depan.
Bunyi dokumennya terdengar mulia. Isinya, menurut penilaian sejumlah pengamat kebijakan, "deeply non-binding" — sangat tidak mengikat secara hukum. Tidak ada sanksi, tidak ada mekanisme verifikasi, tidak ada tenggat. Trump sendiri, dalam sambutannya, menyebut pakta itu "morally binding" — mengikat secara moral. Sebuah frasa yang, dalam diplomasi, biasanya berarti: terserah Anda mau patuh atau tidak.
Skeptisisme itu beralasan. Industri teknologi punya rekam jejak panjang dalam menandatangani prinsip-prinsip etika AI yang megah, lalu kembali berbisnis seperti biasa keesokan harinya. Tanpa gigi hukum, komitmen semacam ini lebih mirip deklarasi niat baik ketimbang instrumen kebijakan.
Efek Domino: Dari SpaceXSI hingga Domain .si
Namun perintah eksekutif itu ternyata memicu efek yang tak terduga — dan agak kocak. Pada 4 Oktober, Elon Musk mengumumkan penggantian nama divisi AI perusahaannya: SpaceXAI resmi menjadi SpaceXSI. Entah ini bentuk kepatuhan tulus atau sekadar trolling birokrasi ala Musk, langkah itu langsung menjadi bahan perbincangan.
Yang lebih menarik terjadi di sudut internet yang jarang dilirik: domain .si, kode negara Slovenia. Sepanjang September 2026, pendaftaran domain .si melonjak ke 46.066 — dibandingkan hanya 3.515 pada Agustus. Kenaikannya lebih dari tiga belas kali lipat dalam sebulan. Para spekulan domain tampaknya berlomba memborong alamat-alamat berakhiran .si, bertaruh bahwa singkatan "SI" akan menjadi merek dagang era baru.
Slovenia, tanpa berbuat apa-apa, tiba-tiba menjadi pemilik tidak resmi dari akronim paling panas di Washington.
Kosakata atau Kebijakan?
Di balik kemeriahan rebranding ini, pertanyaan seriusnya tetap menggantung: apakah mengganti istilah benar-benar mengubah sesuatu? Kritikus berpendapat perintah ini adalah kebijakan kosmetik — mengganti label tanpa menyentuh substansi regulasi, pendanaan riset, atau tata kelola risiko AI. Istilah boleh berganti, tetapi model-model yang sama tetap dilatih dengan data yang sama, oleh perusahaan yang sama, dengan insentif yang sama.
Pendukungnya punya jawaban: bahasa membentuk cara berpikir birokrasi. Ketika seluruh pemerintahan berbicara tentang "kecerdasan super", urgensi dan ambisinya ikut terkerek — anggaran, prioritas, dan perhatian politik mengikuti kosakata. Dalam logika ini, EO 14434 bukan sekadar ganti nama; ia adalah deklarasi bahwa AS bermaksud memenangkan perlombaan ini, apa pun istilahnya.
Satu hal yang pasti: dalam beberapa pekan ke depan, para pegawai federal akan sibuk melakukan "find and replace" di ribuan dokumen. Sementara itu, para spekulan domain .si menghitung keuntungan, Elon Musk tertawa, dan para peneliti AI — yang sudah bertahun-tahun memperdebatkan apakah "kecerdasan super" bahkan merupakan istilah yang koheren secara teknis — hanya bisa menggelengkan kepala. Selamat datang di era Super Intelligence. Atau SI. Terserah, asal jangan disebut AI.