Pusat data butuh listrik raksasa dan pendingin tanpa henti. Google punya ide gila: bagaimana kalau komputasi AI dipindah ke luar angkasa, di mana Matahari bersinar 24 jam dan vakumnya gratis? Pada 1 Oktober 2026, empat chip AI Google resmi mengorbit Bumi.
Sebuah roket Falcon 9 milik SpaceX meluncur dari Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg, California, pada 1 Oktober 2026 dalam misi berbagi tumpangan (rideshare). Di antara muatannya ada satelit eksperimental yang membawa empat unit pemroses tensor (TPU) Google generasi Trillium. Ini adalah uji orbit pertama untuk Project Suncatcher, rencana ambisius Alphabet membangun infrastruktur komputasi AI bertenaga surya di luar angkasa, yang pertama kali diungkap pada November 2025.
Satelit itu dibangun bersama Planet, perusahaan pencitraan Bumi, dengan kapasitas panel surya sekitar satu kilowatt. Tak lama setelah peluncuran, Google melaporkan kontak dengan satelit berhasil terjalin dan semuanya beroperasi seperti yang diharapkan. Dua satelit eksperimental berikutnya dijadwalkan menyusul pada 2027 untuk menguji komunikasi laser antar-satelit — fondasi yang dibutuhkan jika kelak ada "pusat data orbit" sungguhan.
Kenapa harus ke luar angkasa?
Logikanya sederhana sekaligus nekat. Di orbit, panel surya mendapat sinar Matahari nyaris tanpa henti, tanpa malam dan tanpa awan. Panas buangan — musuh abadi pusat data — bisa dibuang ke dinginnya vakum luar angkasa. Google bahkan menguji sistem pendingin baru yang dirancang khusus untuk lingkungan tanpa aliran udara.
Sebelum diterbangkan, chip-chip itu sudah diuji menghadapi radiasi surya dan sinar kosmik simulasi di University of California, Davis. Kemitraannya dengan SpaceX juga bukan kebetulan: Alphabet tercatat memegang saham SpaceX senilai lebih dari 82 miliar dolar AS, sehingga kedua raksasa ini memang sudah berada dalam satu perahu.
Tantangan yang belum terjawab
Meski peluncurannya mulus, para pengamat mengingatkan bahwa aritmatikanya belum masuk akal. Analisis TechCrunch atas asumsi internal Google sendiri menyimpulkan: membangun jaringan komputasi orbit yang bermakna menuntut biaya peluncuran jatuh drastis, mungkin hingga 200 dolar AS per kilogram pada 2035. Pada skala yang dibayangkan Google, itu berarti meluncurkan sekitar 370 ribu ton muatan — kira-kira 1.800 peluncuran dalam sedekade, atau 180 peluncuran berat per tahun dengan 200 ton per penerbangan.
Dengan kata lain, Suncatcher adalah dua taruhan yang berbeda. Taruhan pertama murni soal perangkat keras: bisakah TPU bertahan dari guncangan peluncuran, radiasi, dan siklus panas-dingin vakum? Satelit 1 Oktober ini dirancang menjawab pertanyaan itu dalam hitungan bulan. Taruhan kedua soal industri peluncuran yang mentransformasi struktur biayanya dalam sedekade — sesuatu yang sepenuhnya di luar kendali Google dan bergantung pada program Starship SpaceX beserta para pesaingnya.
Penumpang lain dalam penerbangan yang sama
Misi rideshare 1 Oktober itu sendiri layak jadi berita. Di antara 130 muatan dalam penerbangan tersebut terselip satelit pertama Kirgistan: wahana seberat 5 kilogram yang dirakit sekitar sepuluh insinyur di Bishkek selama dua setengah tahun, dengan biaya hanya sekitar 114 ribu hingga 137 ribu dolar AS. Kirgistan resmi menjadi negara antariksa untuk pertama kalinya dalam sejarah — berkat ekonomi tumpangan komersial yang memangkas harga tiket ke orbit hingga ke level sebuah mobil mewah.
Belum cukup. Malam harinya, SpaceX meluncurkan roket Falcon Heavy untuk misi rahasia NROL-97 milik Badan Intelijen Geospasial AS — pertama kalinya badan intelijen itu memakai Falcon Heavy setelah sembilan tahun menerbangkan 22 muatan dengan Falcon 9. Dalam waktu kurang dari 13 jam, SpaceX meluncurkan tiga roket dan mendaratkan empat pendorong dalam sehari. Satu tanggal, tiga misi bersejarah.
Apa artinya semua ini?
Peluncuran 1 Oktober menandai pergeseran cara berpikir industri teknologi tentang komputasi. Selama puluhan tahun, jawabannya selalu: bangun pusat data lebih besar di darat. Google kini menguji hipotesis sebaliknya — bahwa batas berikutnya bukan di tanah, melainkan di atas sana. Keberhasilan empat chip mungil ini tidak akan langsung melahirkan pusat data orbit, tetapi ia menjawab pertanyaan paling mendasar: apakah silikon buatan manusia bisa bekerja di lingkungan paling kejam yang dikenal, ratusan kilometer di atas kepala kita? Jawabannya, dalam beberapa bulan ke depan, akan menentukan apakah Suncatcher sekadar eksperimen mahal atau awal dari industri baru.