Senin (5/10/2026) kualitas udara Banjarmasin dan Tabalong masuk kategori berbahaya dengan ISPU masing-masing 330 dan 380. Di saat yang sama, konsentrasi PM2.5 di Palembang sempat menembus 903,6 mikrogram per meter kubik. Kalimantan Tengah resmi memperpanjang status tanggap darurat karhutla selama 30 hari ke depan.
Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan Selatan per Senin, 5 Oktober 2026 pukul 08.00 WITA, menggambarkan peta udara yang suram. Kota Banjarmasin mencatat ISPU 330 dan Kabupaten Tabalong 380 — keduanya masuk kategori berbahaya. Kabupaten Barito Kuala menyusul dengan ISPU 205 (sangat tidak sehat), Hulu Sungai Selatan 125 (tidak sehat), dan Kabupaten Banjar 87 (sedang).
Penyebabnya tidak berubah: kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang hingga kini masih melanda Kalimantan Selatan. DLH Kalsel mengimbau warga di wilayah berkategori berbahaya dan sangat tidak sehat untuk memakai masker di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, berhenti membakar lahan, dan melaporkan titik api ke pihak berwenang.
40.555 Kasus ISPA dalam Sebulan di Sumsel
Dampak kesehatan dari kabut asap kini terukur angkanya. Dinas Kesehatan Sumatera Selatan mencatat 40.555 kasus ISPA sepanjang September 2026 — dan data itu pun masih bersifat sementara. Palembang menjadi daerah dengan kasus tertinggi, 10.965 kasus, disusul Musi Banyuasin 5.617 kasus dan Muara Enim 3.350 kasus.
Di ibu kota Sumsel itu, kualitas udara sempat mencapai titik mengerikan. Data yang diberitakan pada 4 Oktober menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Palembang menembus 903,6 mikrogram per meter kubik — angka yang masuk kategori sangat berbahaya. Kabut asap bahkan semakin pekat pada Minggu sore dan mengurangi jarak pandang warga.
"Bayangkan masyarakat menghirup udara dengan kondisi seperti itu. Ini bukan lagi persoalan lingkungan semata. Ini persoalan keselamatan manusia," kata Rino, Ketua Umum DPP AKPERSI, yang mendesak Kementerian Dalam Negeri mengevaluasi Gubernur Sumsel di tengah krisis yang tak kunjung tuntas. "Jadi jangan mengatakan persoalan sudah terkendali ketika faktanya pada 4 Oktober api masih membakar lahan dan kabut asap masih menyelimuti Palembang," ujarnya.
Kementerian Kehutanan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, menyatakan penanganan karhutla masih dilakukan di enam daerah Sumsel: Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin, Muara Enim, Ogan Ilir, Banyuasin, dan Kota Palembang. Luasan lahan terbakar diperkirakan mencapai ratusan hektare. Pada 4 Oktober, api masih membakar sekitar 47 hektare di Desa Pedamaran V, Kecamatan Pedamaran, OKI — lahan gambut yang membuat pemadaman semakin sulit. Di Kota Palembang sendiri, kebakaran lahan masih terjadi di kawasan Talang Jambi.
Kalteng: 192 Ribu Titik Panas Sejak Januari
Kalimantan Tengah mengambil langkah administratif yang mencerminkan parahnya situasi: Gubernur Agustiar Sabran resmi memperpanjang status tanggap darurat karhutla selama 30 hari ke depan, tepat setelah masa tanggap darurat sebelumnya berakhir pada Selasa (29/9/2026). "Tanggap darurat ini dipastikan diperpanjang. Masa lama berakhir hari ini, dan melihat situasi kabut asap yang masih seperti ini, maka kami perpanjang untuk 30 hari ke depan," katanya di Palangka Raya.
Data BPBD Kalteng per 1 Januari hingga 29 September 2026 mencatat 192.217 titik panas berdasarkan pemantauan HS BRIN dan Sipongi. Luas lahan terbakar mencapai 15.075,71 hektare menurut laporan lapangan kabupaten/kota, sementara citra satelit Landsat 8 mencatat 7.634 hektare. Gubernur menyebut alokasi dana penanganan sudah mulai berjalan dan bisa dipantau publik lewat sistem digital.
Asap Kiriman dan Asap Lokal
Tidak semua kabut asap berasal dari kebakaran setempat. Di Siak, Riau, seluruh 14 kecamatan mencatat ISPU di atas 100 pada Senin (5/10/2026), dengan Kecamatan Bunga Raya terburuk di angka 248 (sangat tidak sehat). Sementara di Pelalawan, kabut asap yang menyelimuti Pangkalan Kerinci disebut sebagai kiriman dari Jambi dan Sumatera Selatan yang terbawa angin. "Kabut asap kali ini masih kiriman dari wilayah tetangga yakni Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Terbawa angin sampai ke Riau," kata Kepala BPBD Pelalawan Zulfan. Kasus karhutla di Pelalawan sendiri tercatat nihil — satu hotspot yang terdeteksi berkaitan dengan aktivitas pabrik industri, bukan kebakaran lahan.
Pola yang berulang setiap musim kemarau ini menegaskan satu hal: karhutla bukan lagi sekadar bencana musiman, melainkan krisis kesehatan publik yang terukur — puluhan ribu kasus ISPA, ratusan ribu titik panas, dan udara yang di sebagian kota sudah tidak layak dihirup. Pertanyaannya bukan lagi seberapa pekat asap tahun ini, melainkan sampai kapan penanganannya terus bersifat reaktif, padam-setelah-membara, tahun demi tahun.
