Gonzalo Sanz, mantan kepala Kabinet Delegasi Pemerintah di Ceuta, menyerahkan telepon selulernya kepada hakim. Perangkat itu memuat 19 pesan tambahan dan satu panggilan dari CNI yang tidak dibuka pemerintah.
Gonzalo Sanz, mantan kepala Kabinet Delegasi Pemerintah di Ceuta, menyerahkan telepon seluler miliknya kepada hakim María Tardón. Langkah itu diambil agar penyidik dapat menelusuri informasi yang diketahui delegasi pemerintah sebelum gelombang masuknya imigran ke Ceuta pada 30 dan 31 Juli. Menurut keterangan Sanz di hadapan hakim, perangkat tersebut memuat 19 pesan tambahan dengan penghubung CNI serta satu panggilan bersama dinas intelijen yang tidak pernah dideklasifikasi oleh pemerintah. Penyerahan telepon itu menjadi bagian dari upaya membuka seluruh jalur komunikasi yang terjadi sebelum peristiwa tersebut.
Pesan dan Panggilan yang Belum Terbuka
Dalam pemeriksaan sebagai saksi, Sanz menjelaskan bahwa salah satu tugasnya sebagai kepala Kabinet Delegasi Pemerintah adalah menjadi penghubung dengan CNI. Hubungan keduanya berjalan lancar karena dinas rahasia rutin memberi informasi kepada delegasi pemerintah, dan sebaliknya delegasi juga menyampaikan hal-hal terkait kepada dinas rahasia. Dari jalur komunikasi itu, ia menyebut masih ada 19 pesan tambahan yang belum termasuk dalam dokumen yang dibuka pemerintah, ditambah satu panggilan telepon yang juga tidak dibuka. Sumber hukum yang hadir menyatakan data tersebut diserahkan setelah Sanz memberikan keterangan, sehingga hakim dapat mendalami arus komunikasi sebelum peristiwa 30 Juli.
Sumber hukum yang mengikuti jalannya pemeriksaan menyatakan Sanz menguatkan seluruh peristiwa yang ia tuangkan dalam surat pengunduran dirinya. Dalam surat itu ia menceritakan bahwa dirinya menyampaikan peringatan dari penghubungnya di CNI kepada delegasi pemerintah, Miguel Ángel Pérez Triano, pada 29 Juli. Keterangan itu memperkuat dugaan bahwa informasi penting sebenarnya sudah sampai ke tangan pejabat terkait sehari sebelum gelombang penyeberangan terjadi. Sanz juga menegaskan bahwa penyampaian itu dilakukan pada hari yang sama saat peringatan diterimanya.
Desklasifikasi dan Kontradiksi Versi
Sanz mundur pada 11 September. Dua hari sebelumnya, Moncloa membuka dokumen dan komunikasi dinas rahasia pada hari-hari menjelang peristiwa 30 Juli. Dari dokumen yang dipublikasikan itu muncul peringatan yang disampaikan seorang agen CNI melalui pesan dan panggilan kepada Sanz pada 29 Juli. Langkah membuka rahasia komunikasi tersebut membuat posisi Delegasi Pemerintah di Ceuta, Miguel Ángel Pérez Triano, terpojok karena ia sebelumnya membantah pernah menerima informasi mengenai komunikasi itu. Desklasifikasi itu juga membuka jalan bagi penyidik untuk memeriksa ulang siapa saja yang mengetahui peringatan tersebut.
Setelah desklasifikasi, Pérez Triano bahkan menyatakan bahwa "semua orang" mengetahui seruan di media sosial untuk menyeberangi perbatasan. Ia juga menilai pesan WhatsApp yang dikirim anggota CNI kepada mantan kepala kabinetnya bukanlah sebuah peringatan. Menurutnya, peringatan tidak dikirim ke delegasi pemerintah, apalagi ke kepala kabinet. Peringatan resmi, katanya, diajukan ke Kementerian Pertahanan dan Kementerian Dalam Negeri serta diformalkan. Ia menyebut pesan itu hanya komentar atau percakapan biasa yang tidak bisa disamakan dengan peringatan resmi.
- Sanz menyebut ada 19 pesan tambahan dan satu panggilan yang tak dibuka pemerintah.
- Ia menegaskan peringatan dari CNI disampaikan kepada delegasi pada 29 Juli.
- Pérez Triano membantah pernah menerima informasi tersebut.
- Desklasifikasi dokumen dilakukan dua hari sebelum Sanz mengundurkan diri.
Baca juga: Kronologi Desklasifikasi Dokumen Intelijen di Balik Gelombang Migran Ceuta
Perbedaan versi yang mencolok itu menjadi sebab keluarnya kepala kabinet. Dalam surat pengunduran dirinya, Sanz menegaskan informasi dari CNI telah ia sampaikan kepada delegasi pada hari yang sama. Hal itu bertentangan dengan berbagai pernyataan delegasi di sejumlah media yang mengaku tidak menerima informasi darinya. Ia menyebut ada ketidakcocokan yang jelas antara kedua versi. Karena itu, ia memilih mundur dari jabatannya daripada terus berada dalam situasi yang saling bertentangan. Keputusan itu diambil setelah desklasifikasi dokumen membuat kontradiksi semakin terbuka.
Delapan belas hari setelah itu, dalam konferensi pers tanpa sesi tanya jawab untuk mengumumkan pengunduran dirinya, delegasi pemerintah di Ceuta akhirnya mengakui pernah memberi peringatan tentang krisis migrasi serius. Ia menyatakan sejak awal pihaknya menyampaikan apa yang terjadi, meminta langkah dan tambahan personel, serta mengirim laporan dan komunikasi harian jauh sebelum 30 Juli. Penyelidikan masih berlanjut, dan hakim Tardón kini memiliki bahan baru untuk menelusuri siapa mengetahui apa serta kapan informasi itu berpindah tangan sebelum ribuan orang menyeberang ke Ceuta.