Laporan terbaru Program Lingkungan PBB menyatakan batas pemanasan 1,5 derajat Celsius hampir pasti terlewati sekitar 2030, namun suhu masih bisa ditekan kembali ke bawah ambang itu sebelum akhir abad ini bila aksi iklim dilipatgandakan sekarang.
Target paling ambisius Perjanjian Paris kini di ambang kegagalan. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) merilis laporan bertajuk Limiting Overshoot pada 2 September 2026 yang menyimpulkan dunia hampir pasti melewati batas kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius di atas level pra-industri, kemungkinan besar pada 2030. Ini adalah tinjauan iklim besar pertama dari PBB yang berangkat dari asumsi bahwa batas itu akan terlampaui, lalu memetakan cara menekan kembali suhu ke bawah ambang tersebut.
Angka-angkanya suram. Pada 2026, planet ini sudah sekitar 1,4 derajat lebih hangat dibanding era pra-industri, dan tahun 2024 menjadi tahun pertama rata-rata suhu global menembus 1,5 derajat — mencapai 1,6 derajat. Skenario paling optimistis dalam laporan itu memperkirakan puncak pemanasan mencapai 1,8 derajat, sementara sebagian besar skenario lain meramalkan lonjakan yang jauh lebih tinggi. Anggaran karbon yang tersisa pun kian tipis: hanya sekitar 130 gigaton CO2 tambahan yang boleh dilepas mulai 2026 bila dunia ingin mempertahankan peluang 50 persen bertahan di 1,5 derajat. Untuk itu, emisi CO2 harus turun stabil dari level 2025 hingga mencapai nol dalam waktu sekitar enam tahun.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut perjuangan menahan pemanasan sebagai pertaruhan kemanusiaan. "The fight for 1.5 degrees is the fight for humanity," katanya, seraya menegaskan dunia akan menembus batas itu dalam beberapa tahun ke depan. Laporan tersebut menuntut emisi global nyaris dipangkas separuh pada 2030 dan secara efektif mencapai nol pada pertengahan abad.
Batas Terlewati, Dampaknya Sudah Terasa di Depan Mata
Musim panas 2026 memberi gambaran kasar tentang masa depan di atas 1,5 derajat. Lima gelombang panas menghantam Eropa, mengeringkan sungai dan melayukan tanaman, dan dikaitkan dengan puluhan ribu kematian berlebih. Kebakaran hutan melanda wilayah-wilayah baru di Spanyol, Prancis, dan Yunani, sementara asapnya menyelimuti Amerika Utara dan Asia Tenggara. Di Inggris, kekeringan bersejarah memicu peringatan kemungkinan kekurangan pangan. Samudra berada pada level terpanas yang pernah tercatat, dan sebuah peristiwa El Nino besar tengah terbentuk di Pasifik.
Di Nepal dan Tiongkok, tim penyelamat masih mencari sekitar 4.000 orang yang hilang — dengan lebih dari 1.000 korban tewas — setelah runtuhnya gletser memicu banjir dahsyat. Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen mengingatkan tidak ada skenario baik bila suhu bertahan di atas 1,5 derajat: setiap pecahan derajat tambahan memperparah cuaca ekstrem, mengikis ekosistem, dan mengancam menenggelamkan negara-negara kepulauan kecil serta kota-kota pesisir rendah — ancaman nyata bagi negara kepulauan seperti Indonesia.
Badan cuaca PBB, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), dalam laporan tahunan kualitas udara dan iklim yang dirilis 7 September 2026, memperingatkan polusi dari kebakaran hutan dan gelombang panas yang makin intens berpotensi menggagalkan upaya global memperbaiki kualitas udara. Lorenzo Labrador, pejabat ilmiah WMO, mengatakan sebersih apa pun sebuah kota, asap kebakaran hutan dari wilayah lain tetap bisa merusak kualitas udaranya. Laporan itu menyoroti partikel halus PM2,5 dan ozon permukaan tanah yang memicu penyakit pernapasan dan jantung, serta menyerukan pemantauan lebih baik terhadap karbon hitam dan mikroplastik yang masih minim terpantau.
Yang paling dikhawatirkan para ilmuwan adalah titik kritis iklim yang tak bisa dipulihkan: destabilisasi lapisan es Greenland dan Antartika Barat, melemahnya arus sirkulasi Atlantik yang mendistribusikan panas, hingga degradasi hutan Amazon yang berisiko berubah dari penyerap menjadi sumber emisi. Presiden Palau Surangel Whipps Jr, yang negaranya berada di garis depan kenaikan muka laut, merespons laporan itu dengan nada getir: seruan ambisi yang lebih besar saja tidak lagi cukup — dibutuhkan lonjakan kehendak politik dan investasi yang belum pernah terjadi demi masa depan iklim yang aman.
Peta Jalan Kembali: Emisi Dipangkas, Karbon Ditarik Lagi
Guterres menuntut apa yang ia sebut "overshoot of ambition" — pelampauan ambisi: mempercepat penghentian bahan bakar fosil dan revolusi energi terbarukan, memangkas polusi metana, serta melindungi lahan, hutan, dan lautan. Pemerintah diminta melampaui target rencana iklim nasional dan komitmen net-zero mereka, sementara negara-negara maju harus melipatgandakan tiga kali lipat pendanaan adaptasi dan memastikan dana itu sampai ke pihak yang paling berisiko.
Karena batas 1,5 derajat akan terlampaui, dunia tidak bisa lagi sekadar menahan emisi — ia harus menurunkan kadar CO2 di atmosfer lewat penyerapan karbon. Caranya antara lain penanaman pohon dan restorasi alam, plus pendekatan teknologis seperti pelapukan batuan dan peningkatan alkalinitas laut. Namun para pakar menegaskan ini bukan jalan pintas. "We cannot rely on CDR as a get-out-of-jail-free card, if you like," kata Richard Betts, ilmuwan iklim Universitas Exeter dan Met Office Inggris yang ikut menyusun laporan itu. "We have to reduce emissions with even more urgency than before." Teknologi-teknologi tersebut belum terbukti dalam skala besar dan membawa risikonya sendiri.
Kabar baiknya, Perjanjian Paris terbukti tidak mandek total. Menurut Climate Action Tracker, kesepakatan itu telah mencegah pemanasan tambahan setara 1 derajat: tanpa Paris, dunia melaju ke 3,6 derajat pada 2100, sementara jalur saat ini mengarah ke 2,6 derajat. Emisi global nyaris mencapai titik puncaknya dalam beberapa tahun terakhir. Energi surya dan kendaraan listrik melesat — dunia butuh hampir 70 tahun untuk memasang terawatt surya pertama, lalu hanya dua tahun untuk terawatt kedua, dan dua tahun lagi untuk yang ketiga. Agenda berikutnya adalah KTT iklim COP31 di Turki pada November 2026, tempat para pemimpin diharapkan menjaga target 1,5 derajat tetap dalam jangkauan meski overshoot tak terhindarkan.
Angka Kunci
- 2030 — tahun ketika dunia kemungkinan besar melewati batas pemanasan 1,5°C, menurut laporan UNEP Limiting Overshoot.
- 1,8°C — puncak pemanasan pada skenario paling optimistis, sebelum suhu ditekan kembali ke bawah 1,5°C pada akhir abad.
- 130 gigaton — sisa anggaran karbon CO2 mulai 2026 untuk peluang 50% bertahan di 1,5°C; emisi harus turun stabil hingga nol dalam sekitar 6 tahun.
- 1,4°C — tingkat pemanasan global pada 2026 dibanding era pra-industri; lautan berada pada level terpanas yang pernah tercatat.
- 2,6°C vs 3,6°C — jalur pemanasan dunia pada 2100 dengan Perjanjian Paris dibanding tanpa kesepakatan itu, menurut Climate Action Tracker.
