Delapan Pengawet Makanan Dikaitkan Tekanan Darah Tinggi

Very long ingredients list with may preservatives on highly processed food.jpg

EraAIdailyNews, 21 September 2026 — Pengawet yang umum bersembunyi dalam makanan olahan mungkin membawa risiko jantung yang tak terduga. Konsumsi dalam jumlah besar dikaitkan dengan angka tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular yang jauh lebih tinggi, meski studi observasional ini belum dapat membuktikan pengawet sebagai penyebab langsung.

Penelitian yang diterbitkan di European Heart Journal dipimpin oleh Dr. Mathilde Touvier, direktur riset di INSERM (Institut Nasional Riset Kesehatan dan Medis Prancis), bersama Anaïs Hasenböhler, mahasiswa doktor dari Tim Riset Epidemiologi Nutrisi di Université Sorbonne Paris Nord dan Université Paris Cité. Keduanya ingin memahami apakah paparan jangka panjang terhadap bahan-bahan yang hadir di ratusan ribu produk industri berhubungan dengan kesehatan jantung, mengingat pengawet ditambahkan untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur, memperlambat pembusukan, serta menjaga warna, rasa, atau kesegaran produk lebih lama.

"Pengawet makanan dipakai pada ratusan ribu produk olahan industri," ujar Hasenböhler. "Studi eksperimental menyarankan sebagian aditif pengawet dapat merugikan kesehatan kardiovaskular, tetapi bukti pada manusia masih kurang. Sejauh kami mengetahui, ini studi pertama yang menyelidiki kaitan berbagai pengawet dengan kesehatan kardiovaskular."

Penelitian berlangsung dalam kerangka NutriNet-Santé, proyek riset besar yang meneliti hubungan gizi dan kesehatan, melibatkan 112.395 relawan di seluruh Prancis. Setiap enam bulan, peserta mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi selama tiga hari — metode yang memberikan gambaran pola makan jauh lebih rinci dibanding estimasi kasar. Tim kemudian menganalisis komposisi bahan, termasuk pengawet yang terkandung di dalamnya.

Peserta diikuti rata-rata tujuh sampai delapan tahun untuk melacak apakah mereka mengembangkan hipertensi atau penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung, stroke, dan angina. Paparan pengawet nyaris menyeluruh: pada dua tahun pertama keikutsertaan, 99,5 persen relawan mengonsumsi setidaknya satu pengawet makanan.

Kaitan terkuat muncul pada mereka yang mengonsumsi paling banyak pengawet tertentu. Peserta dengan asupan pengawet non-antioksidan tertinggi memiliki risiko hipertensi 29 persen lebih tinggi dan risiko penyakit kardiovaskular 16 persen lebih tinggi dibandingkan yang asupannya paling rendah. Sementara itu, mereka yang mengonsumsi pengawet antioksidan terbanyak memiliki risiko hipertensi 22 persen lebih tinggi. Kedua kategori melindungi makanan dengan cara berbeda: pengawet non-antioksinan mencegah pertumbuhan mikroorganisme berbahaya, sedangkan antioksinan memperlambat oksidasi — proses kimia yang membuat makanan kecoklatan, berbau tidak sedap, atau rancid.

Dari 17 pengawet paling sering dikonsumsi, delapan dikaitkan spesifik dengan risiko tekanan darah tinggi yang lebih besar: potassium sorbate (E202), potassium metabisulfit (E224), sodium nitrit (E250), asam askorbat (E300), sodium askorbat (E301), sodium eritorbat (E316), asam sitrat (E330), dan ekstrak rosemary (E392). Asam askorbat (E300) juga dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular.

Dr. Touvier menegaskan bahwa temuan ini tidak berarti mengonsumsi satu bahan tersebut pasti menyebabkan hipertensi atau penyakit jantung. Desain observasional hanya mengidentifikasi asosiasi statistik, bukan bukti sebab-akibat. "Studi ini memiliki keterbatasan yang melekat pada desain observasionalnya. Namun, temuan didasarkan pada data sangat rinci, dan kami telah memperhitungkan faktor lain yang dapat menaikkan atau menurunkan risiko penyakit kardiovaskular," katanya. Ia menambahkan bahwa literatur eksperimental konsisten menyiratkan pengawet dapat menimbulkan stres oksidatif atau memengaruhi fungsi pankreas.

Stres oksidatif terjadi ketika molekul reaktif menumpuk lebih cepat dari kemampuan sistem pertahanan tubuh menetralkannya, berpotensi merusak sel dan jaringan seiring waktu. Pankreas sendiri memainkan peran sentral dalam mengatur gula darah dan metabolisme, sehingga perubahan fungsinya bisa berdampak luas. Saat ini tim sedang meneliti bagaimana aditif makanan dan makanan ultra-olahan memengaruhi peradangan, stres oksidatif, profil metabolik darah, dan mikrobiota usus — komunitas raksasa bakteri dan mikroorganisme lain di saluran cerna yang semakin dikaji peranannya dalam metabolisme, fungsi imun, dan kesehatan kardiovaskular.

Hasil ini mendorong penulis untuk menyarankan evaluasi ulang risiko dan manfaat aditif makanan oleh otoritas seperti EFSA di Eropa dan FDA di Amerika Serikat demi perlindungan konsumen yang lebih baik. Sementara menunggu kebijakan baru, temuan mendukung rekomendasi既有: memprioritaskan makanan tidak olahan atau minim olahan, serta menghindari aditif yang tidak perlu. Dokter dan tenaga kesehatan lain berperan kunci dalam menyampaikan rekomendasi tersebut ke publik.

Sumber: ScienceDaily, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar