Gunung lumpur di perbatasan Garadagh dan Gobustan, Azerbaijan, meletus Sabtu pagi 26 September 2026 selama sepuluh menit dan terekam delapan stasiun seismik, dengan sumber berada di kedalaman empat kilometer.
Sebuah gunung lumpur di perbatasan distrik Garadagh dan Gobustan, Azerbaijan, meletus pada Sabtu pagi, 26 September 2026. Pusat Survei Seismik Republik di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Azerbaijan mencatat letusan itu terjadi pukul 07.32 waktu setempat. Peristiwa tersebut berlangsung dalam satu fase selama sepuluh menit dan disertai kolom api yang terlihat dari jarak jauh.
Biro Penelitian Gempa di bawah pusat survei yang sama menyebut letusan terekam oleh delapan stasiun seismik. Sumber letusan berada di kedalaman empat kilometer di bawah permukaan. Menurut keterangan lembaga itu kepada media Report, tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan dari peristiwa tersebut karena lokasinya berada di kawasan terbuka.
Azerbaijan dikenal sebagai salah satu wilayah dengan konsentrasi gunung lumpur terbesar di dunia. Formasi semacam ini terbentuk ketika gas, air, dan material lempung halus terdorong ke permukaan melalui rekahan batuan. Letusan biasanya berlangsung singkat, tetapi bisa disertai semburan api jika gas yang keluar tersulut. Kawasan Gobustan sendiri terkenal karena lanskapnya yang bertabur kubah lumpur dan sering menjadi objek penelitian geologi.
Catatan lembaga seismik menunjukkan letusan gunung lumpur di kawasan itu bukan hal baru, meski kemunculan kolom api tetap menarik perhatian warga dan peneliti. Pemantauan dilakukan melalui jaringan stasiun digital yang menangkap getaran tanah, sehingga setiap kejadian bisa diukur waktu, durasi, dan kedalaman sumbernya.
Para peneliti memandang gunung lumpur sebagai jendela untuk memahami proses bawah permukaan. Material yang terdorong ke atas membawa informasi tentang tekanan gas dan kondisi lapisan sedimen di kedalaman tertentu. Karena itu, data dari letusan kecil sekalipun tetap dicatat dan dibandingkan dengan catatan sebelumnya untuk melihat pola aktivitas.
Letusan 26 September terjadi hanya beberapa hari setelah aktivitas vulkanik dilaporkan di berbagai belahan dunia. Gunung Etna di Sisilia, Italia, juga meletus pada 26 September dan sempat menghentikan penerbangan di Bandara Catania. Meski demikian, kedua peristiwa itu berdiri sendiri dan tidak memiliki kaitan langsung karena berada di sistem tektonik yang berbeda.
Hingga laporan ini disusun, otoritas setempat belum mengeluarkan peringatan lanjutan bagi warga di sekitar Garadagh dan Gobustan. Pemantauan berlanjut untuk melihat apakah ada perubahan tekanan yang bisa memicu letusan susulan dalam waktu dekat.
Jaringan stasiun seismik digital menjadi andalan pemantauan di kawasan itu. Getaran yang terekam delapan stasiun dipakai untuk menghitung waktu kejadian, lama proses, dan letak sumber di bawah permukaan. Data itu juga dibandingkan dengan catatan letusan sebelumnya untuk mengenali pola aktivitas.
Letusan gunung lumpur umumnya tidak menimbulkan korban karena lokasinya jauh dari pemukiman padat. Namun material lumpur yang menyembur bisa merusak lahan pertanian dan jalan di sekitarnya. Karena itu, pemantauan tetap penting meski letusan berlangsung singkat.
Kawasan Gobustan menyimpan puluhan formasi serupa yang menjadi objek wisata sekaligus laboratorium alam bagi peneliti. Aktivitas gas di bawah tanah membuat lanskapnya terus berubah, dan setiap letusan kecil memberi tambahan data tentang kondisi lapisan sedimen di kedalaman.
Catatan historis menunjukkan gunung lumpur di Azerbaijan kerap meletus tanpa pola waktu yang tetap. Beberapa letusan disertai nyala api karena gas metana yang keluar tersulut, sementara letusan lain hanya menyemburkan lumpur dan air. Variasi itu membuat pemantauan berkelanjutan lebih penting daripada prediksi jangka pendek.
Aktivitas itu juga menarik perhatian wisatawan yang berkunjung ke Gobustan. Kawasan tersebut dikenal karena lanskap kubah lumpur yang membentuk pola unik, dan letusan yang disertai nyala api sering menjadi bahan dokumentasi warga. Meski begitu, otoritas mengingatkan pengunjung agar tidak mendekati area letusan karena gas yang keluar bisa berbahaya.
Letusan serupa pernah tercatat beberapa kali dalam dua dekade terakhir tanpa menimbulkan kerugian besar. Pola itu membuat lembaga seismik lebih menekankan pencatatan ketimbang peringatan dini. Setiap data yang terkumpul memperkaya pemahaman tentang perilaku gunung lumpur, yang berbeda dari gunung berapi biasa karena sumbernya bukan magma.
Sumber: APA, Caliber.az, Qazinform, dan keterangan Pusat Survei Seismik Republik Azerbaijan, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar