IHSG Anjlok 1,11 Persen ke Level 6.313, Sebanyak 513 Saham Melemah

Jakarta Stock Exchange Composite Index March 18 2025.jpg

EraAIdailyNews, 22 September 2026 — Pada penutupan sesi perdagangan pertama hari Selasa, 22 September 2026, Indeks Harga Saham Gabungan kehilangan 71,16 poin atau terkoreksi 1,11 persen. Data RTI Business pada pukul 12.00 WIB memperlihatkan IHSG berakhir di angka 6.313, dengan posisi tertinggi 6.423 serta terendah 6.277.

Sebanyak 513 saham terkoreksi, 147 saham menguat, dan 128 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.060,249 triliun pada penutupan sesi pertama tersebut.

Sebanyak 20,63 miliar lembar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi Rp7,98 triliun. Selama sesi pertama itu, frekuensi jual-beli terhitung 1,35 juta kali transaksi.

Jual bersih yang dibukukan investor asing mencapai Rp510,07 miliar. Bila dirinci menurut jenis pasarnya, pasar reguler menyumbang jual bersih Rp503,12 miliar. Adapun pasar negosiasi dan tunai mencatat jual bersih senilai Rp6,94 miliar. Dengan demikian, tekanan jual dari investor asing pada sesi tersebut tersebar di beberapa segmen perdagangan, meski porsi terbesarnya tetap berasal dari pasar reguler.

Jika dihitung dari total volume 26,9 miliar saham, investor dalam negeri paling besar porsinya, yakni 80,22 persen atau sekitar 21,58 miliar saham. Sisanya, 19,78 persen atau setara 5,32 miliar saham, berasal dari investor asing.

Dari nilai transaksi sebesar Rp11,8 triliun itu, sumbangan investor asing mencapai 34,97 persen, dengan pembelian tercatat Rp3,9 triliun. Adapun investor domestik menguasai 65,03 persen, dengan pembelian Rp8,0 triliun.

Frekuensinya, transaksi terjadi 1.833.093 kali. Investor domestik mengambil porsi terbesar, 84,56 persen, sedangkan investor asing menyerap 15,44 persen dengan rincian pembelian 216.046 kali dan penjualan 350.193 kali.

Seluruh sektor saham tertekan pada sesi pertama. Sektor saham energi merosot 2,21 persen dan mencatat koreksi terbesar, sektor saham industri melemah 1,7 persen, dan sektor saham properti turun 1,35 persen.

Sektor saham basic susut 1,19 persen, sektor saham consumer nonsiklikal melemah 1,16 persen, dan sektor saham consumer siklikal tergelincir 0,16 persen. Sektor saham kesehatan merosot 0,95 persen dan sektor saham keuangan terperosok 0,79 persen.

Sektor saham teknologi melemah 0,65 persen, sektor saham infrastruktur tergelincir 0,88 persen, dan sektor saham transportasi merosot 0,77 persen. Pelemahan merata itu menunjukkan tekanan terjadi di hampir seluruh kelompok saham.

Indeks saham LQ45 terpangkas 0,73 persen menjadi 629,68. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan seiring pelemahan yang melanda pasar secara menyeluruh pada sesi tersebut.

Pada sesi pertama, harga saham BBRI turun 1,82 persen menjadi Rp3.240 per saham. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran Rp17.856 pada periode yang sama.

Pelemahan pasar saham tidak lepas dari tekanan nilai tukar dan sentimen global yang membebani aset berisiko. Ketika rupiah melemah dan arus dana asing keluar, pasar saham domestik umumnya menghadapi tekanan jual.

Investor asing mencatat jual bersih pada sesi tersebut, sementara investor domestik masih mendominasi volume perdagangan. Pola itu menunjukkan pasar domestik menjadi penopang utama aktivitas perdagangan harian.

Sektor energi mencatat koreksi terdalam sejalan dengan pergerakan harga komoditas dan sentimen global terhadap energi. Sektor industri dan properti juga tertekan karena berkaitan erat dengan permintaan domestik dan biaya pembiayaan.

Bagi investor, koreksi menyeluruh menjadi pengingat pentingnya memperhatikan sebaran risiko antarsektor. Sektor energi dan industri yang turun paling dalam menunjukkan bahwa tekanan tidak terpusat pada satu kelompok saham saja.

Pergerakan IHSG ke depan dipengaruhi perkembangan nilai tukar rupiah, arus dana asing, serta sentimen pasar global. Pelaku pasar mencermati faktor-faktor tersebut sebelum mengambil keputusan pada sesi berikutnya.

Pelemahan indeks pada sesi pertama menunjukkan tekanan yang merata di hampir seluruh sektor. Kondisi itu umumnya mencerminkan sentimen pasar yang menahan diri sebelum data ekonomi penting dirilis.

Volume perdagangan yang besar disertai jual bersih investor asing menjadi indikator tekanan jual pada periode tersebut. Pelaku pasar umumnya mencermati keberlanjutan arus dana asing pada sesi berikutnya.

Bagi investor ritel, koreksi pasar menjadi momentum untuk meninjau kembali komposisi portofolio. Penyesuaian porsi antar sektor dinilai penting agar risiko tidak terkonsentrasi pada satu kelompok saham.

Perdagangan pada sesi pertama juga mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar menyikapi pelemahan nilai tukar. Kombinasi tekanan eksternal dan pelemahan rupiah umumnya membuat investor memilih menahan posisi hingga arah pasar lebih jelas.

Indeks saham acuan lain juga tertekan sejalan dengan pelemahan IHSG. Pergerakan itu menunjukkan koreksi tidak hanya terjadi pada saham berkapitalisasi besar, tetapi menjalar ke berbagai kelompok saham di pasar.

Sumber: CNN Indonesia dan Liputan6, September 2026.

Tidak ada komentar

Posting Komentar