Sebuah kapal tanpa awak berukuran tujuh meter memulai perjalanan sekitar 22.000 kilometer mengelilingi Antartika. Kendaraan bertenaga matahari dan angin itu akan mengumpulkan data karbon dioksida di laut dan atmosfer.
Sebuah kapal kecil tanpa awak memulai perjalanan mengelilingi Antartika dan mungkin tidak akan kembali selama berbulan-bulan. Kendaraan berukuran tujuh meter yang tampak seperti kayak besar berwarna oranye terang itu diperkirakan menempuh sekitar 22.000 kilometer melalui perairan yang tidak bersahabat.
Kapal tersebut digerakkan oleh angin barat yang kuat serta energi dari matahari. Jarak yang harus ditempuh setara tujuh kali jarak antara Sydney dan Perth, dan sepanjang perjalanan kapal itu diperkirakan menghadapi gelombang besar, suhu beku, angin kencang, serta kemungkinan bertemu anjing laut atau albatros yang penasaran.
Misi utama kapal ini adalah mengumpulkan data karbon dioksida di laut dan atmosfer untuk membantu para ilmuwan memahami peran laut sebagai penyerap karbon. Pemahaman itu penting untuk mengetahui seberapa besar lautan mampu menyerap emisi yang dihasilkan manusia.
Seorang peneliti utama dari lembaga riset Australia menyatakan bahwa setelah meninggalkan Hobart, kapal itu akan bergerak ke timur menuju Selandia Baru, kemudian melewati Selat Drake antara ujung Amerika Selatan dan Antartika sebelum melewati Afrika Selatan dan kembali ke Australia.
Ia berharap kapal tersebut dapat ditemukan kembali dalam tujuh hingga sembilan bulan. Perjalanan panjang itu menjadikan misi ini salah satu ekspedisi robotik laut paling ambisius yang dijalankan untuk pemantauan iklim.
Kendaraan otonom yang dibuat oleh perusahaan maritim Amerika Serikat ini dirancang untuk menahan pelayaran berat. Kapal memiliki lunas berat agar tetap tegak, kemudi untuk mengarahkan gerak, dan layar surya tetap yang mencuat di atas permukaan air.
Kapal dipantau dari jarak jauh oleh perusahaan pembuatnya yang melakukan pemeriksaan berkala melalui satelit. Bila diperlukan, operator dapat mengarahkan kapal agar bergerak ke arah yang lebih tepat tanpa harus mengirim awak ke lokasi.
Peneliti menggambarkan kapal tersebut sudah terhantam gelombang besar tak lama setelah diluncurkan. Gelombang setinggi delapan meter dan angin berkecepatan 35 knot tercatat hanya sehari setelah peluncuran, menunjukkan betapa kerasnya kondisi perairan selatan yang harus dilalui.
Peran laut dalam siklus karbon sangat besar. Seorang ilmuwan riset utama menyatakan bahwa untuk setiap ton karbon dioksida yang dilepaskan dari pembakaran bahan bakar fosil, sekitar 500 kilogram diserap kembali oleh laut dan hutan, dengan lautan menanggung porsi terbesar.
Penyerapan karbon oleh laut dalam digambarkan sebagai potongan diskon 50 persen terhadap perubahan iklim. Tanpa kemampuan laut dan hutan menyerap sebagian emisi, konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akan jauh lebih tinggi dan pemanasan global berlangsung lebih cepat.
Namun, kemampuan laut menyerap karbon menghadapi batas. Air yang lebih hangat menyerap gas dengan lebih sedikit, dan perubahan keasaman laut mempengaruhi kehidupan biota. Karena itu, pengukuran berkelanjutan di perairan selatan menjadi penting untuk mengetahui arah perubahan.
Perairan yang mengelilingi Antartika memainkan peran kunci dalam sistem iklim global karena arusnya menghubungkan seluruh samudra utama. Data dari kawasan itu membantu ilmuwan menyusun model iklim yang lebih akurat dan memperbaiki proyeksi perubahan iklim di masa depan.
Penggunaan kapal tanpa awak menurunkan biaya dan risiko operasi. Kapal riset berawak memerlukan biaya bahan bakar, logistik, dan personel yang sangat besar untuk berlayar di perairan ekstrem, sementara kapal otonom dapat mengumpulkan data terus-menerus tanpa harus kembali ke pelabuhan.
Kendala utama kendaraan otonom adalah pemeliharaan dan ketahanan instrumen dalam kondisi ekstrem. Sensor yang menghadapi gelombang besar, suhu beku, dan paparan air garam memerlukan perancangan khusus agar dapat bekerja dalam jangka waktu panjang tanpa perbaikan langsung.
Data yang dikumpulkan diperkirakan akan memperkaya basis pengamatan iklim yang menjadi rujukan banyak negara. Ketersediaan data perairan selatan yang lebih rapat dapat meningkatkan keandalan proyeksi kenaikan muka laut serta perubahan pola cuaca global.
Perjalanan kapal ini mencerminkan pergeseran besar dalam riset kelautan menuju teknologi otonom. Dengan armada kendaraan tanpa awak, pengamatan laut dapat dilakukan terus-menerus sepanjang tahun, termasuk pada musim-musim yang sebelumnya terlalu berbahaya untuk pelayaran berawak.
Keberhasilan misi ini akan menjadi rujukan bagi rencana pemantauan laut jangka panjang di berbagai negara. Jika kapal otonom terbukti mampu bertahan selama berbulan-bulan di perairan ekstrem, armada serupa dapat dikerahkan untuk mengamati kawasan lain yang selama ini sulit dijangkau kapal riset berawak.
Sumber: The Guardian, 25 September 2026.

Tidak ada komentar
Posting Komentar