EraAIdailyNews, 21 September 2026 — Asal-usul Phobos, salah satu dari dua bulan Mars, masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan. Para ilmuwan kini mencoba mempersempit kemungkinan dengan meneliti ciri halus bulan itu, terutama gravitasi dan geraknya, seperti dipaparkan pada pertemuan umum European Geosciences Union di Wina, Austria.
Perhatian utama tertuju pada Kawah Stickney, bentang alam paling dramatis di permukaan Phobos. Kawah itu berdiameter 9 kilometer atau sekitar 5,6 mil. Jika Phobos terbentuk dari serpihan tumbukan besar di Mars, kawah tersebut diperkirakan terbentuk sekitar 4,2 miliar tahun lalu. Namun bila Phobos adalah asteroid yang tertangkap gravitasi Mars, tumbukan yang membentuk Stickney bisa terjadi jauh lebih baru, sekitar 2,6 miliar tahun lalu. Dua skenario itu menghasilkan riwayat yang sangat berbeda bagi bulan kecil ini.
Dalam makalah tahun 2026 yang diterbitkan di The Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, Benjamin Haser dan Thomas Andert memperkirakan bagian dalam Phobos berpori dan mungkin mengandung es air. Pemetaan gravitasi yang lebih rinci diyakini dapat mengungkap apakah tumbukan Stickney meninggalkan kantong material yang lebih padat di bawah kawah. Haser, mahasiswa doktoral ilmu planet di Universitat der Bundeswehr Munchen, Jerman, menegaskan peristiwa Stickney adalah salah satu episode terpenting dalam sejarah Phobos. Menurutnya, Phobos tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai batu yang mengorbit Mars.
Phobos berukuran kecil dan berbentuk tidak beraturan. Diameternya rata-rata hanya 22,2 kilometer atau 13,8 mil, dan ia mengelilingi Mars sekali setiap 7 jam 39 menit. Kedekatan ekstrim itu membuat medan gravitasi Phobos sangat terbayangi oleh tarikan Mars, sehingga mengorbit di sekitar bulan ini menjadi manuver yang sangat sulit. "Tidak ada orbit yang benar-benar stabil di sekitar Phobos," ujar Haser saat ditemui di Wina.
Ilmuwan telah mengembangkan dua penjelasan utama untuk asal-usul Phobos. Dalam skenario pertama, benda raksasa menghantam Mars dan melemparkan material ke orbit. Debu dan batu itu akhirnya membentuk cakram di sekitar planet merah, lalu melahirkan Phobos dan Deimos. Skenario kedua menyarankan bahwa kedua bulan itu awalnya asteroid yang kemudian tertangkap gravitasi Mars. Sifat spektral Phobos serta model penangkapan asteroid memberikan dukungan untuk kemungkinan ini, tulis Haser dan Andert dalam makalah mereka.
Kawah Stickney menimbulkan pertanyaan tersendiri. Tumbukan sebesar itu seharusnya mampu menghancurkan bulan sekecil Phobos. Haser menyarankan kelangsungan hidup Phobos mungkin karena kepadatan yang sangat rendah dan seragam, memungkinkan bulan menyerap energi tumbukan seperti spons. "Orang akan mengira tumbukan seperti itu akan menghancurkan Phobos, kecuali kepadatannya sangat rendah dan homogen, seperti spons yang bisa menyerap dampak semacam itu," katanya.
Tumbukan itu juga menghasilkan panas intens di area dampak. "Dan di wilayah dampak itu, suhu pasti sangat tinggi sehingga batu di bawahnya meleleh dan terkondensasi," tambah Haser. Kondensasi itu bisa meninggalkan wilayah lebih padat di bawah Stickney, menciptakan tanda gravitasi halus yang mungkin bisa dideteksi. Penelitian terbaru menyelidiki bagaimana massa terkondensasi di bawah kawah memengaruhi sinyal gravitasi Phobos, momen inersia, dan amplitudo librasi — dengan kata lain, bagaimana Phobos goyang dan osilasi.
Beberapa ciri Phobos cocok dengan penjelasan asteroid tertangkap. Tampilan tidak beraturannya mirip apa yang disebut asteroid tumpukan puing, benda yang tersusun dari banyak potongan batu yang diikat longgar oleh gravitasi. Namun memasukkan semua bukti ke dalam satu penjelasan tetap sulit. Medan gravitasi, bentuk, kepadatan, sifat spektral, dan orbit yang berubah Phobos harus disejajarkan dalam satu model geofisika. Bentuk sangat tidak beraturan dan kedekatan ekstrim ke Mars membuat interpretasi struktur internal menjadi tantangan tersendiri.
Phobos tidak hanya menarik karena masa lalunya, tapi juga karena apa yang terjadi padanya sekarang. Orbitnya sangat dekat ke Mars, dan bulan ini perlahan bergerak spiral ke dalam. Pada akhirnya, diharapkan Phobos akan hancur berantakan atau menabrak planet itu. "Orbit Phobos secara dinamika sangat istimewa; sangat dekat ke Mars, perlahan spiral ke dalam, dan akhirnya akan terganggu atau menabrak Mars," kata Haser. Artinya Phobos bukan hanya catatan masa lalu, tapi juga sistem geofisika yang aktif berevolusi.
Ilmuwan mungkin segera mendapat kesempatan terbaik untuk menyelidiki Phobos langsung. Misi Martian Moons Exploration (MMX) milik Jepang, ditargetkan diluncurkan akhir 2026, dirancang mempelajari Phobos dan mengembalikan sampel permukaannya ke Bumi. Pesawat akan mencoba beroperasi di orbit quasi-stabil di sekitar bulan kecil itu. MMX akan menggunakan dua sistem pengambilan sampel: satu bor inti yang mengambil material hingga kedalaman 2 sentimeter, dan sistem pneumatik (kontribusi NASA) yang menyemburkan gas bertekanan ke permukaan untuk "mengangkat material ke wadah sampel," menurut JAXA. Sampel diharapkan kembali ke Bumi pertengahan 2031 di dalam kapsul yang dirancang tahan masuk kembali atmosfer.
Pertanyaan terbesar bukan sekadar bahan apa yang menyusun bulan itu. Ilmuwan juga perlu menentukan struktur internal apa yang bisa menjelaskan semua ciri aneh Phobos sekaligus. Bagi Haser, menjawab pertanyaan itu krusial untuk membedakan penjelasan-penjelasan bersaing tentang kelahiran Phobos, termasuk penangkapan asteroid, pembentukan dari debris tumbukan raksasa di Mars, atau mungkin asal-usul lebih kompleks yang melibatkan elemen dari lebih dari satu skenario.
Sumber: ScienceDaily, September 2026.
Tidak ada komentar
Posting Komentar